-->

Namaku Popon


Sudah cukup lama saya tidak membuat tulisan fabel atau tentang hewan. Dalam tulisan kali ini, idenya muncul saat saya melihat anjing kecil di dalam kandang. Anjing itu tampak senang ketika dilepas, lalu tampak sedih ketika diminta masuk lagi ke dalam kandang. Hingga kemudian, muncullah ide menulis ini.

Oh iya, judul tulisan ini pun memakai nama asli anjing itu juga, lho. Oke, selamat membaca dan silakan komen pedasnya.



==========

Namaku Popon, begitulah manusia-manusia itu memanggilku. Aku adalah anjing jenis Alsatian, dengan usia yang masih kecil, yaitu 5 tahun. Walau masih kecil, aku sudah begitu lincah. Gonggonganku begitu menyalak, bahkan banyak yang menyangka kalau aku sudah dewasa. Tapi begitu melihat tubuhku, aku ini masih kecil.

Sejak kecil, entah kenapa aku tidak mengetahui ibuku dan belum sempat melihatnya. Aku tak tahu apa-apa lagi tentang sosok beliau. Yang aku tahu, aku kini hanya hidup dalam sebuah kandang besi yang cukup kecil. Entah bagaimana kisahnya hingga aku bisa di sini. Yang pasti, hidupku selama ini dihabiskan di sini.

Walaupun hidup di dalam kandang besi, tapi manusia yang mengasuhku begitu baik. Aku selalu dikasih makanan manusia. Akibatnya, aku sama sekali tidak tahu bahkan lupa bagaimana lezatnya sebongkah daging, makanan khas anjing. Gigi-gigiku yang semestinya tajam ini, bahkan kini tumpul dan banyak yang patah.

Nasi, tempe, tahu, lalaban, semuanya aku makan. Setiap manusia-manusia itu makan, kemudian tidak dihabiskan, maka aku yang akan memakannya habis hingga tanpa sisa sama sekali. Untuk itulah, aku mulai lupa lezatnya daging. Sebab, aku sama sekali tidak dikasih daging. 

"Guk! Guk! Guk!" aku menggonggong begitu melihat manusia itu membawa makanan. Wangi makanan itu sangat memainkan penciumanku yang tajam sekali. Apalagi sudah sejak semalam aku belum makan.

"Tunggu ya, Popon. Saya makan duluan, nanti tinggal kamu yang makan," jawab manusia itu, sambil melahap makanannya.

Entah apa yang dikatakan olehnya, aku sama sekali tidak paham. Aku tidak tahu bahasa manusia. Yang aku tahu, aku pasti akan dikasih makanan sisa manusia itu, yang bisa aku makan. Apapun yang dikasih, aku pasti langsung lahap dan habiskan. 

Dan tepat sekali, ketika aku semakin gelisah di dalam kandang, sebab makanan itu tak kunjung datang, aku kemudian dikasih makanan sisa manusia itu.

"Nih, Popon. Makan yang kenyang, ya. Maaf cuma bisa kasih segini," kata manusia itu, sambil membuka pintu kandang, memasukkan makanan sisa di atas mangkok khusus makanan anjing, lalu menutup kembali pintu kandang. 

Tanpa menggonggong lagi, aku langsung melahap makanan itu. Ah, betapa nikmatnya.


***


Selain dikasih makanan manusia, aku juga selalu dikasih kesempatan untuk lepas kandang saat pagi. Begitu dilepas, aku langsung melesat cepat di padang ilalang. Tampaknya aku memang ada di kawasan yang banyak ditumbuhi ilalang yang luas, namun dibatasi dan dikelilingi oleh tembok tinggi. Sehingga, aku tidak bisa ke mana-mana lagi selain mengelilingi padang ilalang ini.

Lesatanku begitu cepat. Otot-otot tubuhku mulai dipacu, setelah sebelumnya hanya diam di dalam kandang saja, dan tak bisa diapa-apakan lagi. Tapi kini, aku bisa bebas ke manapun. Aku melesat cepat, sambil dilihat oleh manusia yang melepaskanku itu.

Di padang ilalang ini, aku bisa melihat jika kandang besiku ada di bawah sebuah pohon. Di dekat pohon itu ada sebuah saung, tempat manusia yang selalu kasih aku makan itu untuk melakukan aktivitasnya. Selain itu, semuanya hanya padang ilalang yang luas. Di padang ilalang inilah yang kemudian aku manfaatkan untuk melemaskan otot-otot tubuh yang kaku.

Sempat melintas di benakku, kalau beginilah suasana jika ada di alam bebas. Tapi, aku sama sekali tidak tahu bagaimana alam bebas yang sesungguhnya itu. Sebab, hidupku hanya di dalam kandang besi sejak kecil, dan ilalang yang dikelilingi tembok tinggi. 

Jika begini, sama saja dengan aku hidup dalam kandang, namun lebih luas, di mana di dalamnya ada ilalang. Tapi setidaknya, aku masih bisa melesat cepat dan melemaskan otot-otot tubuh yang kaku selama di dalam kandang besi yang sempit.

Setelah puas, aku diam sejenak di bawah pohon dekat kandang. Tapi sialnya, manusia itu langsung memintaku untuk masuk kembali ke dalam kandang.

"Popon, ayo masuk," ucap manusia itu sambil melambaikan tangannya seolah memintaku mendekatinya.

Walau aku tak tahu bahasa manusia, tapi aku tahu maksud manusia itu. Dan sialnya, anjing adalah hewan yang setia, apalagi manusia itu yang selalu kasih aku makan. Maka aku pun mau-mau saja mengikuti ajakan manusia itu, kemudian masuk kandang. 

Jika sudah begini, aku cuma bisa menunggu waktu besok saja untuk dilepas kembali, dan melemaskan otot sambil keliling padang ilalang. Yah, beginilah kehidupanku selama ini.


***


"Iya, kasihan ini gak ada yang mau jaga. Kasih makan juga kadang-kadang."

Sayup-sayup aku menangkap ucapan manusia yang sedang diskusi. Namun, aku tidak memahami bahasa manusia. Yang aku tahu, bau tubuh salah satu manusia itu masih asing.

"Guk! Guk! Guk!" gonggongku kepada manusia asing itu. Aku selalu menggonggong ketika ada manusia asing yang masuk dalam kawasan ini. Namun, akibat aku ada di kandang, aku tak bisa apa-apa selain menggonggong.

"Wah, ngagetin aja. Bangun-bangun langsung gonggong," ucap manusia asing itu.

"Kalau ada yang belum dikenal, dia pasti menggonggong," sahut manusia yang selama ini kasih aku makan.

Ah, lagi-lagi aku tidak tahu apa yang kedua manusia ini bahas. Aku hanya gelisah di kandang saja sambil sesekali menggonggong.

"Guk! Guk!" pekikku.

"Tiga juta plus kandang deh, Pak. Bos saya sudah tidak peduli lagi soal anjing ini. Kalau memang ada yang minat beli, ya kami jual saja. Ketimbang gak ada yang mau jaga sama kasih makan. Kalau malam kan saya pasti pulang. Jadi di sini udah gak ada siapa-siapa," sahut manusia yang selalu mengasuhku.

"Satu koma lima aja, lah. Kandangnya sih gak butuh, Mas. Lagian buat apa?"

"Ya kan bisa buat tempat penyimpanan stok. Lumayan kok, Pak."

"Hmmm ... tapi dia masih kecil, ya?" tanya si manusia asing sambil mencoba melihatku lebih dekat.

"Udah lumayan gede, kok. Udah 5 tahunan," sahut manusia yang selalu kasih aku makan.

Kedua manusia itu lalu mulai menjauhi kandang. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan keduanya. Bau manusia asing ini masih sangat kuat. Apakah manusia asing itu akan melakukan sebuah kejahatan? Entahlah. Tapi itulah yang selama ini di benakku. Jika ada manusia asing datang, pasti dia mau melakukan kejahatan. Untuk itulah, aku menggonggong.

Aku hanya bisa menggonggong dan menggonggong saja. Dan sialnya, ada kucing lewat dengan santainya di depan kandangku. 

"Guk! Guk! Guk!" aku menggonggong lebih kencang kepada kucing itu.

Kucing itu pun kaget dan langsung tunggang langgang. Macam-macam saja dia denganku, Si Popon. Meskipun aku di dalam kandang, tapi aku bisa menakut-nakuti hewan lain.


***


Entah bagaimana, aku dan kandang besi ini diangkut oleh manusia-manusia asing yang datang ketika pagi datang. Aku semakin gelisah di dalam kandang, dan mulai menggonggong kencang.

"Guk! Guk! Guk!"

Entah kenapa ada kepiluan dalam gonggonganku kali ini. Bau-bau manusia ini asing semua. Dan aku bisa mencium jika manusia-manusia itu akan melakukan kejahatan kepadaku. Lantas, ke manakah manusia yang selama ini kasih aku makanan? 

Lagipula, ini masih pagi dan aku belum dikasih makan. Kenapa? Ke mana makanan itu?

"Guk! Guk! Guk!" nyalakku.

Entah mengapa manusia-manusia asing ini sama sekali tidak takut dengan gonggonganku. Padahal aku sudah mencoba menggonggong segalak mungkin. Apakah aku sama sekali tidak menakutkan?

Aku dan kandang besi ini kini ada di sebuah mobil kolbak tanpa atap yang sedang melaju. Dua manusia ada di dekat kandang, yang tampaknya sedang menjaga. Dan aku bisa mencium dua manusia lagi yang ada di dalam mobil di bagian depan. Apa yang akan dilakukan manusia-manusia ini? Sayup-sayup, telingaku menangkap ucapan dua manusia di dekat kandang.

"Anjing kecil ini memangnya cukup buat stok?"

"Kalau buat seminggu sih gak bakal cukup. Kedai bakso kita lagi banyak yang beli. Kita butuh dua atau tiga anjing lagi."


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER