-->

Impian Wanita


Tulisan ini menjadi salah satu tulisan yang akan disatukan dengan tulisan lainnya dan dibukukan. Namun, niatan itu pupus sudah sebab di-PHP oleh pihak publishing. Naskahnya pun mengendap lama di file. Lalu, saya posting saja di sini.

Oke, selamat menikmati dan ditunggu komen pedasnya.




==========

Langit semakin menggelap. Pengunjung mall lambat laun mulai sepi. Sebagian kios-kios dan stand-stand sudah mulai tutup. Lampu-lampu pun sudah ada yang dimatikan. Lima officeboy tampak memulai aktivitas malamnya menjelang pulang, yakni menyapu dan mengepel di tempat yang sudah tidak dilalui oleh pengunjung mall.

Salah satu kios butik yang menjual aneka macam gaun pengantin di lantai dua tampak masih mandi cahaya. Di dalamnya ada pengunjung wanita setengah baya yang sedang memilah-milih gaun yang dipajang di situ. Dandanannya tampak menyolok. Dengan setelan kaos tanpa lengan dan celana jeans panjang ketat, tubuhnya yang bagaikan biola itu melekuk indah. Tas kulit coklat senantiasa menggelantung di pundaknya. Wajahnya menjadi agak aneh dengan bedak dan lipstik yang tebal. Dia bagaikan boneka yang hidup.

Aktivitasnya sejak sejam yang lalu hingga kini masih sama, yakni melihat-lihat tiap helai gaun yang dijual di butik itu. Dia melakukannya sambil menelepon melalui ponselnya dan menjelaskan tiap detil gaun yang ada di depannya kepada lawan teleponnya. Dia sama sekali tak mengacuhkan bahwa mall akan tutup.

Sedangkan sang lelaki pemilik butik tampak duduk di depan mejanya dengan wajah ditekuk. Dia sangat kesal dengan wanita itu. Betapa tidak, sudah lewat setengah jam mall tutup, tapi pengunjung wanita itu belum membeli satu pun gaun. Jangankan membeli, memilih satu gaun saja belum. Seisi butik dilihatnya agak lama sambil menelepon.

Sang pemilik butik sudah mengingatkan bahwa mall sudah tutup sejak tadi. Namun wanita itu tampaknya acuh tak acuh.

“Apa, Sayang? Tidak pas denganku? Kamu yakin? Ini bahannya bagus, loh. Dan ada hiasannya di ujung tangan dan pundak? Apa? Ya sudah, aku lihat gaun lainnya. Nanti yang ini bisa aku coba,” ucap wanita itu, masih asyik menelepon sambil melihat sebuah gaun putih panjang.

Sang pemilik butik sudah mulai kelelahan. Kantuknya mulai datang. Sesekali dia menguap. Dia tak tahu mesti melakukan apa. Jika ada pengunjung yang datang ke butiknya, dia pasti akan menemani pengunjung itu sampai mendapatkan gaun yang diinginkan. Namun untuk yang ini, dia sudah malas. Dia sudah tak peduli pengunjung wanita itu akan membeli atau tidak. Yang penting dia cepat pulang. Meskipun begitu, dia juga tetap ingin wanita itu membeli walau hanya sehelai.

“Kalau tahu begini, lebih baik aku buka lowongan saja untuk asisten,” keluhnya pelan di tengah kantuk.

Sejak membuka sebuah kios butik di mall ini, dia memang tidak mengangkat asisten atau pegawai satu pun. Semuanya dikelola dan dijaga olehnya. Bahkan sanak familinya pun tidak ada yang membantu. Dia ingin menjalani bisnis butik ini tanpa bantuan siapapun.

Dalam mata kantuknya yang setengah memejam, dia melihat salah satu OB di pintu depan butik. OB itu tampak menatapnya dengan tatapan aneh. Lelaki itu pun sontak langsung bangkit. Kantuknya sekejap menjadi hilang. Dia lalu melangkah menuju pintu depan untuk menemui OB itu.

“Belum tutup, Pak?” sapa OB muda itu penuh kesopanan. Tangannya tampak memegang kain pel.

Lelaki pemilik butik itu menatap sesaat ke lantai depan butiknya, tampak basah. Hal itu menandakan bahwa OB itu sedang mengepel. Lalu dia menatap OB muda di depannya.

“Biasa, masih ada yang bingung mau beli yang mana. Masih untung kalau beli. Kalau enggak jadi?” ucap lelaki itu sinis sambil membuang pandangan ke wanita yang masih asyik menelepon di dalam butik.

OB muda itu memandang sekilas wanita cantik di dalam. Bagi sang OB, wanita itu sangat mempesona. Jika melihat gaya pakaiannya, wanita itu sudah pasti sangat kaya.

“Mungkin saja dia mau belanja banyak, Pak,” ucap OB itu menduga-duga, sambil menatap sebuah patung model wanita di samping pintu.

Sang pemilik butik hanya mengangkat kedua bahunya saja.

“Masih lama tidak ya, Pak? Soalnya pintu utama mall sudah mau dikunci,” tanya OB muda itu.

Lelaki itu menggeleng, “Entahlah, tapi kalau masih lama bisa aku paksa saja wanita itu.”

OB muda itu melonjak kaget dengan ucapan sang pemilik butik. Dia sama sekali belum melihat sang pemilik butik ini begitu kesal kepada pengunjung. Ada tatapan emosi di matanya. Dia dan sang pemilik butik memang sudah kenal lama sejak lelaki itu membuka kios butik di mall, meskipun itu hanya menyapa. Namun setidaknya, dia kenal sedikit tentang sang pemilik butik.

Dan sepanjang pengetahuannya tentang sifat sang pemilik butik, lelaki itu memang sangat sopan dan santun kepada semua pengunjung butiknya. Namun kali ini, dia tampak begitu emosi. Sang OB menduga kalau mungkin pemilik butik sudah kelelahan sehingga tampak emosi. Dia pun memakluminya.

“Ya sudah, Pak. Saya lanjut ngepel dulu,” ucap OB itu, sambil mengambil posisi siap mengepel dengan kain pel di tangan.

“Iya, silakan,” sahut sang pemilik butik. Dia lalu masuk kembali ke dalam butik.

Dia kembali menghela napas panjang ketika menatap pengunjungnya. Aktivitas wanita itu masih sama dengan yang sebelumnya. Lelaki itu pun mengambil inisiatif untuk menyapanya yang ketiga kalinya.

“Bagaimana, Bu? Sudah menemukan gaun yang cocok?” tanyanya dengan nada dibuat sopan, meskipun dia sesungguhnya sangat kesal.

Wanita itu menatap sesaat ke pemilik butik, lalu kembali melihat gaun coklat di depannya. “Tunggu dulu ya, Sayang. Aku mau tanya-tanya dulu sekalian mau mencoba satu-satu,” ucap wanita itu kepada lawan teleponnya, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Wanita itu mengambil gaun coklat di depannya, lalu menoleh ke si pemilik butik dengan senyum mengembang. “Aku belum dapat yang cocok, Pak. Boleh coba yang ini dulu?”

Sang pemilik kios butik menatap sekilas gaun coklat di tangan wanita itu. Kemudian, dia mengangguk pelan. “Boleh. Tempat untuk mencobanya ada di pojok,” tudingnya ke sebuah bilik kecil yang hanya ditutupi sehelai kain sebagai pintunya.

Dengan gemulai wanita itu melangkah santai menuju bilik. Dia pun kembali mengambil ponselnya, lalu menelepon.

Sang pemilik butik hanya diam mematung saja menatap punggung sang wanita, hingga menghilang di balik pintu kain bilik pas. Dia ingin wanita itu cepat membeli gaun yang tengah dicobanya itu, lalu cepat-cepat pulang. Dia sudah sangat lelah. Apalagi dia belum makan malam. Dia bisa gila jika wanita itu hanya membuang-buang waktunya saja tanpa hasil.

Sepuluh menit kemudian, wanita itu muncul kembali. Senyumnya mengembang sambil asyik menelepon. Dia pun mendekati sang pemilik butik yang duduk di mejanya.

“Pak, saya mau mencoba semua gaun yang ada di butik ini,” ucap wanita itu santai sambil meletakkan gaun yang tadi dicobanya itu di atas meja.

Sang pemilik butik melonjak kaget. Dia pun langsung bangkit.

“Apa?”

Wanita itu mengangguk polos. “Iya, Pak. Soalnya calon suamiku ini suka pilih-pilih dan agak bawel. Dia ingin gaun yang akan kubeli ini sangat bagus dan pas di mata dia dan aku. Dia ingin aku memakainya ketika kami menikah nanti. Makanya dia meminta aku mencoba semua gaun di sini, lalu aku upload ke email dia langsung. Nanti dia yang menyeleksi dan menilai mana yang cocok.”

Sang pemilik butik menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa calon suamimu tidak ikut ke sini saja?” tanyanya dengan nada agak kesal.

Bukannya takut, wanita itu malah melepas tawa dengan agak malu-malu. “Hehehe! Maklum, Pak. Dia lagi dinas dulu di Taiwan. Minggu depan pulang ke Indonesia, lalu kami langsung menikah ketika besoknya. Makanya aku kini langsung membeli gaunnya. Meskipun dia tidak ikut, tapi setidaknya komunikasi kami tidak ada hambatan. Hehehe!” kekehnya sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lalu, tanpa basa-basi lagi dia kembali mengambil salah satu gaun, kemudian mencobanya di bilik pojok.

Sang pemilik butik menjadi naik pitam melihat hal itu. Dia seolah tidak dipedulikan oleh wanita itu. Ketabahannya sudah di ambang batas. Dia sudah tak bisa lagi menahan nafsu ini. Emosi yang sudah meluap-luap ini sudah siap untuk diledakan. Dia pun menjadi gelap mata.

Dia mendengus kesal. Diambilnya gaun coklat yang ada di meja, lalu dibuat menjadi semacam tali. Dia pun melangkah cepat menuju bilik tempat wanita itu sedang mencoba gaun.


***


Pagi pun menjelang. Pegawai dan staff masing-masing kios mall pun mulai melakukan aktivitas menjelang buka. Ada yang menyapu dan mengepel kios, mengelap benda-benda yang dijual kemudian menatanya. Bahkan ada juga yang tengah asyik membahas gosip infotainment.

Di pintu utama mall, tampak ada pemuda masuk dengan wajah yang cemas. Jika melihat penampilannya, dia bukan salah satu pegawai mall. Dia tak lain adalah pengunjung yang datang kepagian.

Namun, tampaknya dia bukan datang untuk belanja di mall. Dia langsung naik ke lantai dua, lalu mendatangi sebuah kios butik pengantin. Dia melihat sesosok lelaki setengah baya sedang menata sebuah gaun pada sebuah patung model.

“Pak, apakah Anda melihat wanita yang datang ke butik ini seminggu yang lalu? Saya lostcontact dengannya sewaktu saya di Taiwan,” ucap pemuda itu dengan wajah penuh kecemasan.

Lelaki setengah baya pemilik butik itu menatap aneh kepada sang pemuda, lalu kembali menata gaun pada patung. “Yang datang ke sini tuh banyak, Mas. Apalagi yang wanita. Mana saya hapal wanita mana yang Anda maksud,” acuhnya.

“Ini fotonya,” ucap pemuda itu cepat sambil menunjukkan ponselnya. Di situ ada foto wanita dengan dandanan menyolok.

Sang pemilik butik menatap foto di ponsel itu, lalu melayangkan senyuman sinis. “Anda siapanya wanita ini?” tanyanya santai.

“Saya tunangannya, Pak. Namanya Sinta. Saya lostcontact dengannya seminggu yang lalu sewaktu saya masih di Taiwan. Teleponnya sudah tidak aktif. Ayah dan ibunya sudah meminta bantuan polisi untuk menemukannya, namun hasilnya nihil. Ketika saya tiba di Indonesia, saya langsung ingat kalau dia waktu itu ada di toko butik di mall sedang membeli gaun. Makanya saya coba langsung ke sini,” jelas pemuda itu cemas.

Sang pemilik butik itu diam sesaat, lalu melangkah menuju pintu kios. Dia menatap sekeliling lalu langsung menutup pintu besi kios, sehingga kios pun menjadi tutup. Semua mata di kios-kios lain mall menatap sekilas ke toko yang menutup itu, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Seolah tak peduli dengan keadaan di situ.

“Loh, Pak? Kenapa tokonya ditutup?” tanya pemuda itu dengan tatapan ganjil.

“Saya sedang mewujudkan impian tunangan Anda, Mas,” ucap pemilik butik sambil masuk kembali ke dalam. Dia mengambil sebuah gaun di dekatnya.

“A-apa maksud Anda, Pak?” tanya tunangan Sinta itu lagi.

“Tunangan Anda itu ingin mencoba semua gaun yang ada di butik ini. Anda tahu, tunangan Anda itu masih saja di butik ini padahal mall sudah tutup satu jam lebih. Dan untuk menyingkat waktu, saya sengaja mengubahnya menjadi patung manekin model itu,” tudingnya ke patung yang tadi dia pakaikan gaun.

“Apa?” pekik pemuda itu, lalu dia langsung mendekati patung yang ditunjuk oleh pemilik butik.

Bola matanya membulat tatkala melihat wajah patung manekin itu. Wajah patung itu memang wajah tunangannya, Sinta. Lidahnya langsung kelu, tak mampu untuk mengucapkan satu kata pun. Pemuda itu lalu menyentuh wajah patung manekin itu tiap jengkalnya. Semuanya begitu nyata. Hatinya begitu pilu melihat tunangannya tampak diam dan kaku. Mata patung itu begitu sayu, seolah masih hidup dalam kesedihan.

“Tidaaakkk!!!” pekik pemuda itu.

“Sebetulnya polisi sempat ke sini. Apalagi tempat ini menjadi tempat singgah tunanganmu. Tapi polisi hanya tanya-tanya saja, dan tak mungkin bisa menahanku sebab tidak ada bukti,” jelas sang pemilik butik.

Pemilik butik itu masih menatap sinis ke si pemuda. “Asal kamu tahu saja, Anak Muda. Saya begitu muak dengannya. Dia tidak tahu waktu, adab, dan sopan santun. Walau pembeli, tapi dia jangan seenaknya saja. Saya langsung menyekiknya ketika lengah dengan menggunakan gaun pengantin. Dan tahu tidak? Saya begitu menikmati ketika membunuhnya. Seolah saya ini adalah malaikat maut. Hahaha!” tawanya.

Sang pemuda menatap pemilik butik itu dengan tatapan emosi. Dia tak menyangka kalau tunangannya itu dibunuh dengan keji, dan mayatnya dijadikan patung manekin.

“Tunanganmu itu,” lanjut pemilik butik, “ingin mencoba semua gaun di butik saya ini. Makanya, setelah dibunuh, saya buang semua isi di dalam tubuhnya. Mayatnya lalu saya awetkan dan dicelupkan ke dalam adonan lilin supaya tubuhnya menjadi kaku, layaknya patung. Kemudian, saya pajang patungnya di sini, dan dipakaikan gaun sebagai contoh model. Gaunnya pun akan digantikan dengan gaun lain tiap minggunya. Dengan begitu, dia bisa mencoba tiap gaun di butik saya, sesuai dengan keinginannya.”

Hati sang pemuda bagai dihujam puluhan pisau dengan ucapan pemilik butik itu. Dia tak bisa membayangkan bahwa ada manusia yang tak punya hati dan sekeji itu. Bahkan, mungkin itu bukan manusia, melainkan iblisnya binatang.

“Bangsat! Kau iblis!!!” pekik pemuda itu.

Belum sempat mulut pemuda itu mengucapkan kata-kata lagi, gaun di tangan pemilik butik langsung membekapnya dengan kuat. Dia pun menggelinjang akibat kesulitan napas. Dibandingkan dengan tubuhnya yang kecil, tubuh pemilik butik itu begitu kuat meskipun sudah setengah baya. Tak lama kemudian, pemuda itu pun jatuh lunglai, lalu melayanglah nyawanya.

Sang pemilik butik menatap sinis pemuda yang sudah tewas itu. Napasnya kembang-kempis. Dia begitu kewalahan membekap pemuda itu, beda dengan tunangan wanitanya.

“Patung manekin model selanjutnya,” gumamnya pelan.



-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER