-->

Penantian Kala Senja


Sisi gelap saya muncul lagi melalui sebuah tulisan. Sejak awal, tulisan ini menjadi salah satu yang akan digabungkan dengan tulisan lain dan dijadikan buku. Namun tampaknya hal itu belum kesampaian. Dan jadilah, tulisan ini mengendap lama di catatan, sejak 2015 silam. Lalu, saya edit kembali tulisan ini untuk diposting di sini.

Oke, ketimbang kepo, lebih baik baca saja tulisan ini dan silakan komen pedasnya.



==========
Tiada usah dinanti
Senja akan selalu datang
Menampakkan jingga eloknya
Menyambut datangnya malam
Hingga menjawab semua waktu

Tiada usah ditunggu
Senja akan selalu tiba
Menyapa semua pengaggumnya
Dan mengangkat tingginya asa
Tiap insan yang setia menanti

Tiada usah meminta
Senja akan selalu melabuh
Menghentikan denyut napas kehidupan
Mematahkan semua asa
Tiap insan yang mulai lelah

Senja tak butuh penantian
Andaikan manusia layaknya senja
Apakah masih membutuhkan penantian? 

Aku duduk melamun di halaman tempat tinggalku, sambil ditemani tongkat dan mengenakan kebaya tua yang sudah usang. Senja mulai menampakkan jingganya di ufuk langit sana. Embusan angin sejuk memainkan dedaunan pohon-pohon, sehingga tampak mengayun indah mengikuti alunan sang angin. Sesekali kicauan gagak sahut-menyahut menimbulkan bunyi sumbang di langit.

Kegiatan ini selalu kulakukan ketika senja datang, dan sudah sebulan lamanya. Sebuah asa telah kugantungkan selama ini. Suamiku yang tengah meladang kala itu, tak kunjung datang juga hingga kini.

Padahal, polisi dan kedua anakku sudah melakukan penyelidikan demi menemukan suamiku. Namun, hasilnya nihil. Tubuh tuaku ini tak kuasa menahan kepedihan dengan kehilangan suami yang paling dicintai, tanpa tahu nasibnya. Yang bisa kulakukan hanya menangis, tanpa bisa apa-apa lagi.

“Bu, minum teh hangat dulu. Supaya badan Ibu hangat. Di sini mulai dingin,” ucap anak lelakiku, Toni, sambil meletakkan segelas teh di depanku.

“Nanti saja, Nak. Tunggu bapakmu pulang,” ucapku dengan tatapan masih ke depan.

Toni duduk di bangku sampingku, “Bu, bapak masih belum jelas nasibnya. Semua penduduk desa gak ada yang melihat bapak. Kemungkinan bapak sudah ....”

“Cukup, Ton! Bapakmu masih hidup!” selaku sambil menatap tajam anak sulungku.

“Tapi, Bu ....”

“Lebih baik kamu bantu adikmu masak," potongku, "siapa tahu saja bapak akan pulang, jadi kita akan makan sama-sama,” kataku kembali melihat depan.

Toni hanya menghela napas saja. Ada kekecewaan dalam wajahnya. Namun, aku tak peduli. Dia bangkit lalu masuk ke dalam.

Senja semakin menggelap. Kumandang azan mulai menggema dan sahut-menyahut di langit desa. Aku masih duduk dan diam di bangku yang setia menemani penantianku. Bahkan kedua anakku belum memanggilku untuk masuk ke dalam.

Sayup-sayup, aku melihat sesosok lelaki melangkah mendekatiku. Aku menyangka kalau itu suamiku. Ah, dia datang juga. Penantian ini tidak sia-sia. Hatiku mulai senang bukan kepalang. Kelak akan kupeluk dia kala sudah mendekatiku.

Namun, aku mesti menelan kekecewaan dalam-dalam. Tak disangka yang mendekatiku itu bukanlah suamiku, melainkan tetanggaku yang belum lama ini tinggal di sebelah. Dia tampak membawa sebuah mangkuk.

Assalamualaikum, Bu Minah,” sapa pemuda itu sopan.

Waalaikumsalam, Nak Wahyu. Ada apa nih tumben ke sini?” sahutku tak kalah sopan.

“Saya mau mengembalikan mangkuk, Bu,” ucapnya sambil meletakkan mangkuk yang dibawanya itu di atas meja. “Makasih ya, Bu Minah. Masakan Anda lezat sekali. Saya sampai lahap makannya.”

Aku mencoba mengingat. Sejak kapan aku membagikan tetangga mudaku ini masakan? Ah, tubuh tuaku ini sangat sulit mengingat-ingat kejadian yang telah lalu. Mungkin, aku sangat fokus kepada suamiku yang menghilang, sehingga melupakan semuanya. Atau bisa saja aku sudah mulai pikun.

Aku menatap mangkuk plastik hijau yang diletakkan oleh pemuda itu. Di otakku melintas sebuah bayangan masa lalu. Ah iya, tampaknya aku mulai ingat. Seminggu yang lalu aku meminta kepada Toni untuk membagikan masakan kepada tetangga ini, sebab aku memasak dalam jumlah yang banyak.

Aku layangkan senyuman hangat. “Iya, Nak Wahyu. Aduh, padahal sih tidak usah dicuci segala. Nanti Toni saja yang menyucinya.”

Pemuda itu membalas senyumku, “Tidak apa-apa, Bu. Saya kan mesti bisa melakukan ini itu buat bekal menikah nanti.”

“Oh, ya? Hebat kamu, Nak,” pujiku.

“Makasih, Bu Minah,” sahutnya.

Tampaknya pemuda ini adalah pemuda yang sangat sopan. Selain memiliki wajah yang tampan, katanya dia juga lumayan pandai di kampus. Kebetulan Toni dan dia satu kampus di kota, sehingga Toni tahu kepandaiannya.

Andaikan Asih, adik Toni bisa menikah dengannya, tentu aku akan sangat bahagia sekali. Asih tentunya akan memiliki suami yang tampan dan juga penuh tanggung jawab. Tentunya dia bisa memiliki masa depan yang indah.

Namun, aku tak tahu seluk beluk pemuda itu. Aku mengenalnya sejak sebulan yang lalu, tepat ketika dia menempati tempat tinggal di sebelah kediamanku. Toni yang mengenalnya sudah lama di kampus pun tak tahu seluk beluknya. Wahyu sangat pendiam, namun sopan.

Yang tidak kupahami, mengapa dia pindah ke desa ini? Kenapa tidak di tempat yang dekat dengan kampus saja? Apakah sebab dia sangat dekat dengan anakku, sehingga dia memilih untuk tinggal dekat Toni? Entahlah, aku tak tahu pasti.

Awalnya juga, Toni meminta supaya mengekos di kota saja supaya bisa dekat dengan kampus. Namun, aku menolaknya. Aku sangat menginginkan Toni supaya tidak jauh-jauh. Di samping bisa menjagaku, dia juga bisa menjaga Asih yang masih SMA.

“Ibu Minah kenapa tidak masuk ke dalam? Padahal udah azan, loh,” tanya Wahyu yang melenyapkan lamunanku.

Aku menatap sesaat ke pemuda itu, lalu menunduk sedih. “Aku menunggu suamiku pulang, Nak Wahyu.”

“Suami Anda masih belum pulang, Bu?” tanya Wahyu.

“Iya, Nak Wahyu,” anggukku, “suami saya menghilang sebulan yang lalu ketika sedang ke sawah. Hingga kini polisi belum menemukannya. Biasanya, dia pulang tiap jam-jam segini. Makanya, saya selalu menantinya datang ketika senja, sampai malam sebelum Isya. Namun, yang ditunggu-tunggu tampaknya tak kunjung datang juga. Tapi saya tidak mudah putus asa. Saya yakin dia pasti datang,” jelasku dengan mata mulai sembab.

Aku menatap ke mangkuk hijau di meja. “Dan masakan yang saya bagikan ke kamu itu, sesungguhnya itu adalah hidangan untuk menyambut kalau dia datang. Tapi, dia tidak datang-datang juga hingga malam. Padahal saya masaknya lumayan banyak. Jadinya, saya pun meminta Toni untuk membagikan masakan yang masih banyak itu ke tetangga-tetangga saja,” ucapku sambil mengusap pelupuk mata yang basah.

Pemuda itu manatapku dengan seksama, lalu tampak ada sesuatu di benaknya. “Kayaknya, saya melihat suami Anda, Bu,” ucapnya dengan wajah yang sedang mengingat-ingat.

Aku melonjak kaget lalu langsung bangkit mendekatinya. Apakah telingaku tidak salah menangkap? Pemuda tetangga ini melihat suamiku yang sudah lama dinanti-nantikan. “Kamu melihat suami saya? Di mana dia?” pintaku.

Pemuda itu tampak bimbang, “Tapi, saya takut mengganggu beliau, Bu.”

“Sudah, tidak apa-apa. Saya yang tanggung jawab,” paksaku sambil menggenggam kencang tangan pemuda itu. Aku sudah tak tahan lagi ingin jumpa dengan suamiku, lalu mengajaknya pulang.

“I ... iya, Bu,” sahut Wahyu kelabakan akibat aku memaksanya. Dia menoleh ke dalam kediamanku sejenak, lalu mulai melangkah. “Ikuti saya, Bu,” ajaknya.

Tanpa pamit dahulu dengan kedua anakku yang masih di dalam, aku langsung mengikuti ajakan pemuda itu. Dengan langkah lamban dan dibantu sebuah tongkat akibat tubuh tua, aku mengikuti ke mana pun pemuda itu melangkah. Untung saja, pemuda ini mau mengimbangi langkahku yang lama, sehingga langkahku dan dia tidak jauh. Degup jantungku mulai kencang. Aku tak menyangka bahwa aku akan menemui suamiku, sosok yang selama ini kutunggu.

Namun, jika Wahyu melihat suamiku, kenapa suamiku tidak pulang-pulang juga? Apa yang dia lakukan? Kenapa suamiku tidak menjelaskannya dahulu padaku sewaktu dia belum menghilang? Kenapa dia menjauhiku? Apakah dia tidak kangen denganku, Toni, dan Asih? Apakah dia tega membuat kami menunggu tanpa kepastian? Apa maksud semua ini?

Ah, kegelisahanku ini mulai membayangiku. Namun, aku mesti menepis semua itu. Aku mesti bahagia. Tak lama lagi aku akan menemui suamiku yang selama ini kunantikan. Entah apa yang akan dia lakukan ketika melihatku.

Wahyu lalu membelok menuju kediamannya yang tepat di sebelah tempat tinggalku. Kediamanku dan kediaman pemuda itu hanya dipisahkan oleh tembok beton yang cukup tinggi. Aku menjadi bingung. Kenapa pemuda itu malah masuk ke kediamannya. Katanya dia melihat suamiku.

Aku menghentikan langkah tepat di depan pintu. Aku menatap ganjil kepada Wahyu.

Wahyu menoleh kepadaku ketika tahu aku tak lagi membuntutinya. “Bu Minah? Kok diam saja di pintu? Ayo masuk. Jangan malu-malu,” ajaknya dengan wajah penuh kesopanan. Senyuman khasnya selalu mengembang.

“Kenapa kamu malah mengajak saya ke sini? Katanya kamu melihat suami saya,” tanyaku penuh kebimbangan.

Wahyu layangkan senyuman hangat. “Beliau ada di dalam, Bu. Makanya masuk saja,” ajaknya.

“Di dalam?” kagetku. Cepat-cepat aku langsung masuk ke dalam. Tapi tetap saja, walau tekadku ingin melangkah cepat, aku hanya bisa melangkah lamban dengan dibantu sebuah tongkat.

Dia ada di dalam? Kenapa bisa? Kenapa dia tidak pulang saja? Padahal lokasinya dekat begini. Kenapa dia sembunyi di sini? Dan juga, kenapa Wahyu mengizinkan suamiku begitu saja. Aku tak memahami semua ini. Apa yang disembunyikan oleh suamiku?

Aku mengikuti Wahyu hingga ke bagian belakang kediamannya. Namun, di sini tampaknya tak ada siapa-siapa. Hanya ada satu buah meja makan segi empat yang di atasnya ada dua buah mangkuk dan tempat sendok. Di dalam mangkuk itu ada masakan. Bisa kutebak, itu pasti sop. Dua buah bangku kayu diletakkan di kedua sisi meja.

“Di mana suami saya?” tanyaku menggebu-gebu. Aku sudah tak bisa lagi menahan untuk jumpa dengannya.

Dengan santai, Wahyu mengambil sendok dan menyendok kuah sop di atas meja. Lalu, dia menyicipinya. “Saya tadi memasak sop. Saya ingin meminta pendapat Bu Minah mengenai sop buatan saya ini. Kan Bu Minah jago masak.”

Aku menatap ganjil kepada pemuda ini. Mataku menyipit. Apa maksudnya ini?

“Cicipi dulu, Bu. Nanti akan saya kasih tahu di mana beliau,” ucap Wahyu dengan senyum yang selalu melekat di wajahnya, seolah tahu apa yang ada di benakku.

Mau tidak mau, aku pun mengikuti ucapan pemuda itu. Yang penting, aku bisa secepatnya ketemu suamiku. Aku pun mengambil sendok, kemudian menyendok kuah sup itu. Baunya memang sangat menggoda penciumanku. Apalagi, aku memang belum makan sejak siang. Aku memang sama sekali tidak mementingkan makan. Sebab, yang ada di benakku hanyalah tentang nasib suamiku. Bagaimana kalau dia juga belum makan?

Aku menyicipi kuah kental itu. Dan, tampaknya enak juga. Lidahku seolah dibelai dengan kenikmatan kuah sup ini. Tak kusangka pemuda ini bisa memasak masakan yang enak begini. Bahkan kalau dibandingkan dengan masakanku dan kedua anakku, yang ini jauh lebih enak. Mungkin pemuda ini ada bakat memasak.

“Masakanmu enak juga, Nak Wahyu,” pujiku menyudahi menyicipi masakan itu.

“Dagingnya juga, Bu,” ucap Wahyu.

Aku pun menyendoki potongan daging kecil dalam sup itu. Meskipun sebagian gigiku tanggal, aku masih sanggup mengunyah daging. Dan sesuai dugaan, daging ini sangat enak  dan empuk sekali.

“Dagingnya juga enak, Nak Wahyu. Kalau boleh tahu, daging apa ini? Kayaknya ini bukan daging sapi,” tanyaku.

“Daging suami Anda,” sahut Wahyu dengan tatapan dingin.

Aku melonjak kaget dengan ucapan pemuda itu, “Maksudmu?”

“Daging yang Anda makan itu adalah daging suami Anda, Bu Minah. Ya, suami Anda hilang akibat dibunuh oleh saya. Saya membutuhkan dagingnya untuk dimakan. Faktanya, saya sangat menyukai daging-daging tua. Agak alot-alot gimana gitu. Begitu tahu kalau Toni masih punya bapak dan ibu yang sudah tua, saya mencoba pindah ke desa ini. Saya melihat suami Anda hendak ke sawah. Lalu, saya membunuhnya untuk dimakan dagingnya. Dan kini, stok daging suami Anda mulai habis. Jadi, saya butuh stok daging lagi. Kebetulan saya sudah menemukan penggantinya,” sahut pemuda itu dingin dan menatapku tajam. Nada ucapannya beda dengan sebelumnya.

Aku langsung mual dan kepala mulai pusing. Tak kusangka daging yang masuk ke tubuhku ini adalah daging suamiku yang selama ini telah menghilang. Dan dia telah menjadi santapan pemuda kanibal di sampingku ini.

Oh, tidak! Kegilaan apa yang mendekatiku ini?

“Maaf, Bu,” ucap Wahyu sambil menggenggam pundakku dengan kencang. Lalu, dia menekannya hingga aku duduk.

Aku tak bisa membantahnya. Tubuh tua ini sudah tak mampu lagi untuk melawan. Di benakku masih membayangi tubuh suamiku yang jadi santapan Wahyu. Aku tak menyangka kalau selama ini pemuda penuh sopan santun itu kanibal.

Wahyu mengambil pisau yang ada di tempat sendok, lalu menusukkannya ke punggungku.

Jleb!

Sakit yang amat sangat menggelayutiku. Napasku mulai sesak. Detak jantungku semakin melemah. Tampaknya aku sudah di ujung maut. Ah, aku tak mampu melawan dan meminta tolong lagi. Asa apa lagi yang bisa kugantungkan? Lagi pula, suamiku yang selama ini ditunggu, nyatanya sudah pindah alam. Aku pun mencoba layangkan senyuman kepada pemuda itu.

“Nak ... Wahyu ... ma ... kasih, ya,” ucapku dengan sisa tenaga yang masih ada.

Wahyu menyipitkan matanya, “Makasih untuk apa, Bu?” tanyanya dengan tangan masih menggenggam kuat di pundakku.

“Se ... bab, dengan ... kema ... tian saya ini, sa ... sa ... ya bisa jum ... pa dengan su ... a ... mi ... saya di alam sa ... na,” ucapku mulai putus-putus.

Wahyu sunggingkan senyuman khasnya, “Sama-sama, Bu,” sahutnya santai.

Tanpa ampun, dia kemudian semakin menusukkan pisaunya lebih dalam lagi ke tubuh tuaku, mengoyak tiap daging yang ditemui oleh ujung pisau, lalu mencabutnya tanpa ampun. Tak hanya itu, dia kemudian menusukkan pisaunya lagi ke pundak kananku tanpa ampun. Aku langsung menggelinjang kesakitan, lalu mulai lemas dengan kepala jatuh ke atas meja.

Sakit yang amat sangat mulai melandaku. Tubuh tua ini semakin lama semakin lemah. Pandangan pun semakin tidak jelas. Lalu, kegelapan abadi kini menyapaku. Di mana aku memasuki dunia yang sangat mencekam.

Apakah ini jawaban penantianku selama ini? Apakah, ini sudah jalan hidupku, mati dibunuh dengan keji? Mungkin, inilah penghujung usia senjaku. Mungkin, inilah penghujung penantian senjaku. Dan mungkin juga, di sinilah aku bisa menemui suamiku. 

Suamiku, aku datang kepadamu.

Senja memang setia
Datang dan hilang pada waktunya
Tanpa kuasa mengkhianati
Dan tanpa kuasa membodohi

Namun senja menjadi lelah
Saat kelabu mulai datang
Menyelubungi setiap kesetiaan
Hingga memupus semua asa 


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER