-->

Pengemis Tua


Seingat saya, tulisan ini adalah tulisan hasil duet dengan salah satu teman Facebook, namun saya lupa siapa. Saat itu, tulisan ini masih banyak alfabet hina dina itu. Hingga kemudian, saya edit semuanya, hingga tulisannya menjadi panjang dan tanpa alfabet hina dina itu. Sebab, tulisan ini mau saya masukkan dalam kumpulan naskah yang hendak saya bukukan. Tapi entah kenapa tidak jadi. 

Tulisan ini pun menjadi mengendap lama di file dan tidak diapa-apakan lagi. Lalu kini, saya menemukan lagi tulisan ini. Saya putuskan untuk memposting di sini saja ketimbang mengendap dan tidak ada yang membaca. Oke, ketimbang bingung mending baca saja dan jangan lupa komennya.






==========

Kampung Manggis, sebuah desa yang letaknya ada di sisi selatan Hutan Belinggis ini cukup sulit dijangkau akibat akses jalan yang tidak memadai. Hal itu tidak menyiutkan semangat Tasya untuk melakukan penelitian di desa itu. Gadis dengan lekuk di kedua pipinya ketika senyum itu memang sengaja datang ke sana, untuk melakukan penelitian sebagai tugas di penghujung kuliahnya. Dia ingin membandingkan kehidupan di kawasan kota dengan kawasan pedesaan yang masih pelosok. Dia pun sengaja memilih desa itu, sebab info yang dia dapat, penduduk desa itu dikenal sangat sopan kepada siapa saja, meskipun belum saling mengenal satu sama lain.

Dalam agendanya, dia akan tinggal di sana selama dua pekan. Pekan awal akan dia gunakan untuk sesi tanya jawab dan meninjau lebih dalam bagaimana kehidupan penduduk di kampung itu. Dan pekan kedua dia agendakan untuk mengolah data yang sudah dikumpulkan, sekalian menikmati keindahan desa.

“Ini tempat tinggal buat menginap Anda selama di desa ini,” ucap Tono, pemuda desa yang menyambut Tasya. “Pemiliknya sedang ke Bandung dan menitipkannnya kepada saya. Jadi, Anda pakai saja dulu untuk menginap. Masalah biaya menginap nanti dibahas saja sama Pak Kepala Desa kalau Anda sudah mau pulang.”

Tasya memandangi pondok kayu sewaannya itu. Meskipun tampak begitu kuno dan kayunya sudah usang bahkan sedikit lapuk, namun pondok ini tampak kokoh dan begitu apik. Dibangun dan ditata dengan baik, sehingga sedap dipandang. Sangat cocok untuk menikmati salah satu kealamian dan keindahan desa.

“Makasih ya, Mas,” ucap Tasya penuh senyum.

Tono mengangguk, “Sama-sama, Mbak. Jika butuh sesuatu, datang saja ke pos kamling dekat sini, nanti ada Pak Hansip yang membantu.”

“Iya, Mas.”



***


Di pekan awal, semuanya tampak begitu mulus. Tasya melakukan tanya jawab tiap penduduk desa yang ditemuinya di jalanan desa. Tak peduli yang dia tanya itu sedang kelelahan atau tidak, yang penting dia bisa mendapatkan datanya.

Meskipun begitu, penduduk desa sangat antusias dengan kedatangan Tasya. Apalagi Tasya juga sangat cantik dan sopan, sehingga membuat penduduk desa mau meladeninya.

Menginjak pekan kedua, Tasya mulai mencium gelagat keanehan di desa itu. Sebab, dia selalu melihat sosok pengemis tua di depan pondok kayu sewaannya. Bahkan, pengemis tua itu selalu muncul setiap pagi.

Pengemis itu melangkah pelan menyembunyikan wajah senjanya di balik tatapan kosong pada jalanan di bawah bayangannya. Dia memajukan kaki setapak demi setapak dengan sangat lambat, seolah-olah tengah menyelesaikan satu bait puisi buatan anak sekolah sebagai tugas tambahan bidang studi Bahasa Indonesia. Di tangannya menempel sebuah mangkuk plastik dengan dua keping logam di dalamnya. Bajunya nampak lusuh dengan bekas jahitan di sana-sini. Celananya kelihatan kumal dan penuh tambalan di sisi atas dan bawahnya. Kepalanya memakai topi ala pendaki gunung yang juga sudah kumal. Dia tidak mengenakan sepatu, sendal, ataupun alas kaki sejenisnya. Jika dilihat lebih dekat, dia mengalungi sesuatu yang bentuk bandulnya bagai potongan tulang, hanya saja agak sedikit lebih gelap.

Yang membuatnya aneh dan ganjil bagi Tasya, mata lelaki tua itu selalu menatap tajam ke Tasya yang ada di pintu pondok, bagaikan macan yang sedang mengintai mangsanya. Hal itu selalu dilakukannya tiap pagi, ketika Tasya hendak keliling desa. Anehnya, sosok pengemis tua itu menghilang dengan cepat tiap kali mata Tasya lengah.

“Kelihatannya, pengemis itu bukan penduduk kampung ini. Tapi, kenapa dia mengemis di kampung yang sulit dijangkau ini, ya? Kenapa dia tidak mengemis saja di kota?” gumam gadis itu.

Setelah menimbang-nimbang dengan matang, Tasya memutuskan untuk mengikuti ke mana pengemis tua itu melangkah. Dia ingin menjadikannya sebagai subjek penelitian selanjutnya. Dia tahu kalau dia tidak mungkin menanyakannya langsung hal ini kepada pengemis itu. Dia masih ada keganjilan dengan tatapan pengemis itu. Padahal, dia ingin tahu aktivitas apa saja yang dilakukannya.

Untuk itu, dia sudah menyiapkan tiga buah handycam guna mengawasi kehidupan lelaki tua itu. Sebelumnya, handycam itu sengaja dibawa dan memang disiapkan Tasya untuk memantau aktivitas penduduk desa. Namun, begitu penduduk desa sangat antusias dengan mengisahkan segala aktivitasnya, maka Tanya pun tidak menggunakan handycam itu. Namun kini, handycam itu digunakan juga.

Tasya pun menimang, memang kelihatannya agak tidak sopan memata-matai begini. Namun, keingintahuannya tentang pengemis itu begitu menggebu-gebu. Tentunya dia tidak ingin setengah-setengah untuk mendapatkan datanya. Sehingga, ketika pulang nanti, datanya sudah lengkap.

Langkah awal yang dia lakukan adalah dengan mengikuti ke mana lelaki tua itu melangkah. Tepat ketika lelaki itu melintas di depannya dan mulai menjauh, Tasya mengikutinya diam-diam di belakang. Pelan tapi pasti, tampaknya langkah lelaki tua itu semakin masuk ke dalam Hutan Belinggis. Tak disangka, di hutan yang sama sekali belum dijamah manusia itu ada sebuah bangunan bagaikan pondok kayu. Semak-semak susuh tumbuh mengelilinginya.

“Tak kusangka pengemis itu punya tempat tinggal di tengah hutan gini. Dengan kata lain, dia itu bukan pengemis,” gumam Tasya yang sembunyi di balik pohon.

Tanpa basa-basi lagi, Tasya pun memasang dua buah handycam yang dia bawa di sebuah pohon di dekatnya untuk menyelidiki aktivitas lelaki itu. Handycam itu sudah diset dan dimodifikasi oleh Tasya, sehingga dia tidak membutuhkan kabel untuk menghubungkannya ke laptop miliknya. Dia cukup menambahkan antena kecil di handycam untuk menghubungkan sinyal ke laptop. Dia kemudian menyambungkan handycam ke sebuah aki kecil, supaya handycam itu bisa menyala lebih lama. Untung saja dia menguasai teknik komunikasi tanpa kabel, sehingga tidak mengalami kesulitan. Dia lalu menutupi handycam-nya dengan semak-semak supaya lelaki tua itu tidak mengetahui.



***


Dua malam sudah Tasya mengawasi keadaan pondok kayu milik lelaki tua pengemis itu melalui handycam yang menyambung ke laptop-nya. Dia mendapatkan fakta bahwa lelaki itu selalu meninggalkan kediamannya ketika malam dan pulang di saat pagi.

“Aneh, kenapa pengemis ini selalu meninggalkan kediamannya ketika malam? Pantas saja aku selalu jumpa dengannya ketika pagi. Tampaknya, dia memang mau pulang. Tapi, apa yang dia lakukan malam-malam?” gumam Tasya memandangi laptopnya.

Dia pun memutuskan untuk menyambangi pondok kayu di tengah hutan itu malam-malam, sekaligus mau mengganti akinya, sebab dayanya akan habis. Dia membutuhkan data yang lebih banyak lagi dan pasti mengenai pengemis tua itu.

Dengan langkah pelan, Tasya menatap pondok itu di kejauhan. Setelah memastikan penghuninya sudah tidak ada, Tasya cepat-cepat mendekati pondok itu dengan mengendap-endap. Tak lupa, dia melepaskan dua handycam dan aki yang dia pasang di pohon sebelumnya. Ketika sampai di halaman, gadis penyuka tantangan itu lalu menyentuh gagang pintu dengan sangat hati-hati kemudian menolaknya ke belakang. Tampaknya, pintu itu tidak dikunci.

Tasya langsung melangkah masuk ke dalam bangunan segi empat itu. Dengan bantuan cahaya lilin yang dipasangi di tiap sudutnya, dia mendapati semuanya ditata dengan sangat apik. Di dalam sana, ada sebuah meja yang dikelilingi tiga buah bangku, juga lima buah bingkai foto yang menempel di dindingnya. Anehnya, kesemuanya tanpa foto ataupun lukisan dan betul-betul hanya sebuah bingkai. Dia juga melihat pakaian polisi dan topinya yang digantung di dinding.

“Dugaanku tidak meleset. Lelaki tua itu tampaknya bukan pengemis. Hanya saja, penampilannya layaknya pengemis. Apa maksudnya? Apakah dia polisi yang sedang mengawasi desa ini? Tapi dia sudah tua. Bisa jadi dia pensiunan polisi,” gumamnya pelan. Dia melihat-lihat dengan seksama tiap benda di dekatnya.

“Aneh, pondok kayu ini ditinggal dengan keadaan lilin tetap menyala. Gak takut dilalap api, ya?” gumamnya lagi.

Selanjutnya, Tasya melangkahkan kakinya ke bagian sebelah dalam bangunan pondok itu. Di sana dia menemukan panci-panci yang mengilap dan juga alat-alat makan yang semuanya dalam keadaan tanpa noda seakan sudah dicuci sebelumnya.

Kemudian, dia kembali ke posisi sebelumnya untuk mendokumentasikan bagian dalam pondok kayu itu. Dengan cepat dia mengambil foto dengan menggunakan ponselnya di tiap sudut, lalu memasang handycam miliknya pada posisi khusus sehingga tak ketahuan oleh siapapun. Selanjutnya, dia masuk ke tempat sebelah. Hal yang sama juga dia lakukan di sana, mengambil foto-foto di setiap sudutnya dan tak lupa memasang handycam di tempat khusus pula.

“Ah, sial lowbet! Aku lupa mengisinya!” keluhnya ketika ponselnya menunjukkan tanda-tanda bahwa dayanya akan habis.

Sesungguhnya masih ada satu tempat lagi yang ingin Tasya lihat. Namun Tasya tak bisa memasukinya sebab dikunci oleh sang pemilik. Setelah cukup dengan apa yang dia dapat, Tasya pun memilih untuk meninggalkan tempat itu saja, sebelum tengah malam datang.

Sebelum pulang, Tasya ingin memastikan lagi letak handycam yang dia pasang. Dia menjumpai bahwa handycam di tempat kedua, posisinya tak begitu bagus. Dia pun mengambilnya kembali untuk memposisikan pada kondisi yang paling pas.

Namun, ketika hendak mengambilnya, dia hilang keseimbangan dan jatuh tiba-tiba. Tubuh mungil gadis itu menghantam lantai cukup kuat, sehingga menimbulkan luka lebam di kaki kanannya. Ponsel di tangannya pun lepas. Dia tak kuasa untuk bangun hanya dengan bantuan kedua tangannya. Dia pun melekatkan tangan pada tiang di sisi sebelah kanan gantungan panci sebagai pegangan baginya. Betapa kagetnya gadis itu ketika tiang yang dia pegang malah mendekat lalu disusul bunyi yang menandakan sesuatu yang membuka dengan otomatis. Ada tempat di bawah tanah!

Tasya menyipitkan matanya menatap lubang yang gelap di lantai. Di salah satu sisinya ada tangga yang bisa digunakan untuk masuk ke bawah. Dia pun celingukan untuk memastikan kalau keadaan aman. Dengan menggunakan cahaya lilin yang dia ambil di sudut pondok, dia memasuki lubang bawah tanah itu.


Gadis itu mulai mual dan pusing setelah tiba di lantai bawah tempat itu. Bau amis menghantam penciumannya yang peka. Di tempat yang cukup luas itu dia tidak menemukan apapun selain dua buah tong di sudut belakang. Dia pun memutuskan supaya kembali lagi ke atas dan cepat-cepat pulang, sebelum pengemis tua itu kembali lagi.

Namun, belum juga dia naik tangga, telinganya menangkap bunyi langkah di atas. Dia langsung panik. Cepat-cepat dia sembunyi di belakang tong kosong di sudut dan mematikan api lilinnya. Dia tidak ingin posisinya ditemukan.

Sesuai dugaan, pengemis tua itu masuk ke dalam tempat di bawah tanah itu dengan menggunakan lilin. Tampaknya dia memanggul sesuatu, lalu diletakkan di lantai tanah. Tasya membelalakkan matanya ketika melihat apa yang dibawa oleh lelaki itu. Sesosok gadis dengan pisau menusuk dadanya. Bisa dipastikan kalau gadis itu sudah tewas. Meskipun usianya sudah senja, namun lelaki itu sanggup memanggul mayat gadis itu.

Pengemis tua itu kini mendengus. Tatapannya tajam melihat sekelilingnya. Tampaknya, dia mengetahui kalau ada yang diam-diam memasuki pondok kayunya. Kemudian, dia menyalakan dua buah lilin di sisi tangga, membuat tempat bawah tanah itu menjadi kelihatan.

Tasya menahan napasnya tatkala melihat pengemis tua itu mengambil sebilah golok yang ada di dekat tangga. Peluh dingin mulai muncul di tiap jengkal tubuhnya. Detak jantungnya pun mulai cepat.

Tangan pengemis tua itu meletakkan lilin di tangannya itu di lantai tanah dan tetap menyala. Dia kemudian memegang telunjuk mayat sang gadis. Lalu, dengan sekali ayun, golok itu langsung menebas telunjuk gadis yang lentik itu dan putus. Tasya tak kuasa melihat hal itu. Dia langsung menutup matanya. Baginya, itu hal yang paling keji yang dia lihat selama hidupnya.

Pengemis tua itu kemudian mengupas kulit potongan telunjuk itu bagai mengupas pisang, hingga menyisakan tulangnya. Tulang itu lalu dilap dengan kain baju yang dikenakannya.

“Tulang indah ini untuk menggantikan tulang lamaku yang sudah membusuk ini,” ucap pengemis tua itu sambil melihat bandul kalungnya yang tak lain memang tulang manusia. Bandul itu ada lubang yang bisa ditiup bak peluit pada umumnya. “Tinggal kuhilangkan bagian dalamnya dan dilubangi atasnya, maka ini akan menjadi peluit yang indah,” imbuhnya.

Tasya membuka matanya sesaat, lalu menutup kembali. Dia tak tega menyaksikan adegan keji itu. Dan dalam keadaan lengah, dia tidak mengetahui ada kecoak hinggap di pundaknya. Kontan saja hal itu membuat Tasya kaget.

“Aaahhh!” pekik gadis itu tiba-tiba sambil bangkit. Dia mengusap-usap pundaknya supaya kecoak itu menjauh. Namun sayang, ini kesalahan fatal.

Pengemis tua yang sedang menimang-nimang tulang telunjuk itu menoleh cepat. Tatapannya tajam menyala dan penuh emosi melihat Tasya ada di situ. Kemudian, senyum sumbangnya mengembang.



***


Tok ... tok ... tok ...!

“Mbak Tasya, Pak Kepala Desa ingin menemuimu di pos kamling. Apakah Anda bisa ke sana, Mbak?” ucap Tono mengetuk pintu. Dia mengenakan pakaian khusus untuk Pencak Silat dengan kepala ditutupi blangkon. Dia memang sehabis latihan Pencak Silat sebelumnya di halaman balai desa.

Lama tak ada sahutan, Tono kembali mengetuk pintunya. Namun tetap saja tak ada jawaban. Tampaknya, sang penghuni sedang tidak ada di dalam. Pemuda itu memicingkan matanya kala mengetahui pintunya tidak dikunci. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Matanya memandang ke sekeliling.

“Mbak Tasya,” panggilnya. Dia menggeledah semua tempat di dalam pondok itu. Namun hasilnya nihil.

Tono mulai menduga-duga. Selama Tasya di desa ini, gadis itu sama sekali tidak ke mana-mana jika sudah malam. Meskipun ada sesuatu yang membuat dia mesti ke suatu tempat di desa, pasti ditemani oleh hansip.

Di tengah kebingungannya tentang Tasya, tatapannya menuju ke laptop yang masih menyala. Di situ menampilkan sebuah video. Ya, video yang dipasang Tasya di dalam pondok kayu milik pengemis tua itu.

“I-ini kan ...,” pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya seolah kelu untuk mengucapkan sesuatu. Bola matanya lalu membelalak menyaksikan adegan di video itu. “Dia dalam bahaya!”

Tono lalu angkat kaki meninggalkan pondok sewaan Tasya, kemudian menghilang di balik gelapnya pepohonan.



***


“Wow, tak disangka calon mangsaku sudah ada di sini,” ucap pengemis tua itu dengan wajah yang menakutkan.

Tasya mulai menyesalkan kejadian tadi, yang membuat posisi dia diketahui pengemis tua itu. Dia pun menjadi ketakutan.

“Sejak kamu datang ke desa ini, aku begitu sangat menginginkanmu, Nona Cantik. Kamu bisa kugunakan untuk menggantikan peluit lamaku ini. Tak disangka kamu mendatangiku dengan cuma-cuma. Dengan begini, aku akan mempunyai dua peluit yang beda dan indah,” ucap pengemis tua itu sinis. Dia maju mendekati Tasya sambil memainkan goloknya.

“Tidak! Jangan bunuh aku!” pekik Tasya yang mulai mengingsut ke belakang. Sialnya, dia tidak bisa ke mana-mana lagi untuk mengelak.

Pengemis tua itu tak mempedulikan ucapan Tasya. Dia langsung mengayunkan goloknya begitu sudah dekat dengan Tasya.

“TIDAAAKKK!!!”

Klang!

Ayunan golok pengemis tua itu mengenai tong kosong di samping Tasya. Dia mendengus kesal. Ditendangnya dua tong kosong itu ke samping, hingga menimbulkan bunyi yang memecah kesunyian. Tujuannya supaya dia bisa dengan mudahnya mengeksekusi gadis itu tanpa halangan. Tanpa menunggu lama, dia langsung menggenggam baju Tasya. Pipi gadis itu lalu dipukul sekuat tenaga dengan gagang golok hingga menjungkalkannya ke samping, kemudian jatuh ke tanah.

Pipi Tasya dilanda sakit yang amat sangat. Pipi kanannya ada luka lebam akibat pukulan. Dia begitu lemas untuk bangkit kembali. Apalagi ketakutannya akan dibunuh membuat tubuhnya melemah. Dia tak bisa apa-apa lagi untuk mengelak.

Pengemis tua itu mengambil dompet Tasya di kantong celananya. Dia menatap KTP gadis itu. “Anastasya Yolanda, nama yang bagus. Sayang sekali, tak lama lagi akan tewas dibunuh,” ucapnya sinis. Dompet milik Tasya pun didekatkan ke lilin, sehingga dompet itu pun dilalap api.

Kemudian, pengemis tua itu mengangkat goloknya lagi tinggi-tinggi. Kali ini dia yakin kalau tebasannya akan mengenai Tasya.

“Hentikan!”

Pengemis tua itu menghentikan ayunan goloknya. Dia menoleh ke lubang masuk di atas, sesosok pemuda dengan pakaian khas adat menatap tajam. Dia mengenali siapa pemuda itu. Pengemis tua pun layangkan senyum sinis.

“Kali ini kau sudah kelewat batas, Ki Bontot! Lepaskan gadis itu!” bentak pemuda yang tak lain Tono itu, “kalau tidak, kamu akan kubunuh!” ancamnya.

Untung saja Tono datang tepat waktu. Napasnya tampak ngos-ngosan akibat menembus gelapnya hutan dengan langkah cepat. Dia takut hal yang tak diduga menimpa Tasya.

“Membunuhku? Silakan saja,” ucap pengemis tua yang disapa oleh Tono adalah Ki Bontot itu menantang. Goloknya diacungkan ke depan.

Tono melompat masuk ke dalam tempat di bawah tanah itu. Dengan cepat, dia langsung maju mendekati pengemis tua itu. Tangan pengemis tua yang sedang memegang golok pun dicekal tiba-tiba olehnya. Jelas hal itu mengagetkan sang pengemis tua. Sang pemuda yang memang sudah menguasai Pencak Silat itu lalu menghentak tangan pengemis tua yang dia cekal ke depan, kemudian menendang ulu hatinya dengan menggunakan lutut. Pengemis tua itu melolong kesakitan dan genggaman goloknya lepas.

Kini golok ada di tangan si pemuda. Dia langsung mengayunkan golok dengan cepat, lalu menancap tepat di kepala pengemis tua itu. Tak ayal lagi, pengemis tua itu langsung tumbang seketika.

Tasya yang melihat kejadian itu menjadi syok. Kejadian demi kejadian keji yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya, kini menampang jelas di depan matanya, meskipun cahaya lilinnya minim. Semuanya tampak begitu nyata. Kini, kepalanya mulai pusing. Dia semakin tidak kuat dengan bau amis yang memualkan ini. Otaknya mulai kacau. Dia pun limbung ke lantai tanah yang lembab. Tatapannya kosong menatap dua mayat yang sama-sama ada di lantai tanah. Lama-kelaman, matanya memejam.



***


Seminggu setelah kejadian itu, Tono yang telah menyelamatkan Tasya menyambangi tempat tinggal sewaan gadis itu. Tampak di situ Tasya ditemani oleh wanita setengah baya. Dia sedang menyuapi Tasya. Tatapan Tasya kini tampak beda dengan sebelumnya. Meskipun sedang disuapi, tatapannya kosong seolah sedang melihat sesuatu dalam imajinasinya. Wajahnya pun pucat.

“Bagaimana, Bu? Ada sanak famili yang mencoba menghubunginya?” tanya si pemuda kepada wanita itu.

“Gak ada, Nak. Kalau saja ibu bisa menemukan ponsel dan KTP milik Tasya, pasti akan mudah menghubunginya,” sahut wanita itu.

“Yang saya tahu, KTP dan dompet Tasya sudah dihanguskan oleh Ki Bontot. Kalau ponselnya entah di mana. Saya sudah menggeledah pondok Ki Bontot namun tidak ada ponsel di situ,” gumam Tono sambil menatap Tasya dengan seksama. Dia sangat mengiba kepada gadis itu.

“Kasihan dia,” gumam wanita tengah baya itu yang tak lain adalah ibunya Tono.

Sang pemuda menghela napas, “Iya, Bu. Kasihan ya dia, hendak dibunuh oleh Ki Bontot hanya untuk diambil telunjuknya yang katanya akan dijadikan peluit. Ki Bontot menjadi gila sejak dipecat saat menjadi anggota polisi lalu lintas di kota pada tiga puluh lima tahun yang lalu. Dipecatnya akibat adanya kecelakaan lalu lintas tepat di depan matanya. Padahal, itu bukan kesalahannya. Kini, Ki Bontot pun sangat obsesi mempunyai peluit, layaknya polisi lalu lintas. Dia kadang ke kota lalu diam di tengah jalan hanya untuk meniup peluit, kayak polisi lalu lintas. Bahkan yang lebih bahaya lagi, dia mulai tega membunuh. Ki Bontot menjadi mengungsi ke hutan akibat kejiwaannya itu. Penduduk desa pun sudah mewanti-wanti supaya tidak ketemu dia. Masalah kejiwaan Ki Bontot kini telah menginfeksi Tasya. Akibat melihat langsung adegan-adegan pembunuhan yang keji, kejiwaannya mengalami masalah,” ucapnya penuh penyesalan.

“Iya, Nak. Kini dia takut sama benda-benda tajam dan tempat yang gelap,” sahut wanita itu menyudahi menyuapi Tasya. Hatinya menjadi pilu dengan ucapan sang pemuda.

“Iya, Bu. Semoga dia bisa secepatnya ditolong dan sembuh.”

“Amin.”



-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER