-->

Tiga Siswi

Ide tulisan ini saya dapat ketika saya mencoba mengimajinasikan manfaat bagian tubuh manusia setelah mati. Dalam imajinasi gila saya, selain untuk dimakan oleh kanibal-kanibal, tampaknya bagian tubuh manusia bisa dimanfaatkan untuk hal lain. 

Awalnya saya bingung untuk menentukan judul tulisan ini. Lalu, saya putuskan saja untuk menggunakan judul 'Tiga Siswi' ini. Dan tulisan ini belum saya posting di mana pun, padahal sudah saya buat cukup lama, yakni pada tahun 2016.

Oke ketimbang kepo, mending baca saja tulisan ini dan silakan komen pedasnya.



==========

"Ayo, dipilih dipilih! Ceban dapet dua, ceban dapet dua!" lantang sang pedagang VCD bajakan menjajakan dagangannya.

Aku yang tak sengaja melintas ini menghentikan langkah. Mataku menatap tumpukan VCD-VCD yang dipajang di lapak yang letaknya di tepi jalan. Ada sesuatu yang menggelitik hatiku untuk melihat-lihat. Apalagi, VCD yang dijual ini sangat ekonomis. Tentu ini sangat fantastis bagiku.

Aku memilah-milih kepingan VCD film. Sesungguhnya, banyak sekali film yang belum kutonton, dan semuanya menampang jelas di lapak VCD ini. Saking banyaknya VCD film di sini, aku jadi bingung memilihnya. Kalau bisa, aku ingin membeli banyak. Namun, mengingat kini sudah tanggal tua, tentunya uang untuk membeli nasi lebih penting ketimbang membeli banyak VCD. Mungkin ketika gajian nanti, aku bisa membeli lagi dalam jumlah banyak. Jadi, kali ini aku membeli dua buah saja dahulu.

Meskipun ini cuma bajakan dan kualitasnya bisa dibilang jelek, tapi kalau sudah menonton filmnya bisa mendatangkan kepuasan batin. Aku jadi tidak lagi dibuat 'kepo' oleh film-film ini. Dan tentunya yang sangat kunanti-nantikan adalah film-film laga.

"Ayo dipilih, Mas. Ceban dapet dua," ucap si pedagang sambil mengibaskan uang lima puluhan ke tumpukan VCD dagangannya. Mungkin ini semacam kebiasaan yang dilakukan oleh pedagang-pedagang kaki lima supaya dagangannya laku.

"Semuanya sama nih, Bang?" tanyaku.

"Iya, Mas. Nih, ada film-film bagus," ucap pedagang itu sambil menunjukkan lima keping VCD film yang masih dibungkus plastik.

Aku menatap lima keping VCD yang ditunjukkan oleh pedagang itu. Dia tahu saja kalau kelima film ini belum kutonton. Maklum, kadang-kadang aku menonton film di bioskop jika ada yang mengajak. Dan aku selalu melewatkan film-film bagus di bioskop jika tak ada yang mengajakku. Jika ingin menonton pun, kadang aku bingung mesti mengajak siapa. Aku belum punya kekasih yang bisa kuajak dan menemaniku ke manapun. Jadi, jika ada film bagus, aku mesti tahan dulu. Menunggu hingga film itu muncul di televisi.

"Mas, ada kumpulan lagu-lagu nostalgia?" tanya sesosok kakek-kakek di sampingku. Tangannya yang tua itu memilah-milih VCD di tumpukan lagu-lagu. Dia mengenakan setelan kemeja putih yang sudah lusuh dan celana panjang yang sudah kusam. Wajah tuanya begitu hitam dan basah oleh peluh.

Pedagang VCD itu dengan cekatan mengambil tumpukan yang paling bawah, lalu menunjukkannya kepada kakek-kakek itu. "Ini ada Bob Tutupoli, God Bless, Vina Panduwinata, dan Nia Daniaty, Pak," ucapnya.

Kakek-kakek itu menatap ketiga keping VCD yang masih dibungkus plastik itu dengan seksama. Kemudian, mimik wajahnya menunjukkan ketidaksukaan pada VCD di depannya. Mungkin yang diinginkannya tidak ada.

"Wah, ada VCD EXO dan SNSD!" pekik anak siswi SMP yang tiba-tiba datang.

"Ceban dapet dua, loh. Jadi, satunya cuma goceng!" sahut temannya.

"Iya, ayo beli!" ucap yang satunya lagi.

Ketiga siswi SMP itu menyikutku dan kakek-kakek itu, seolah ingin menguasai lapak VCD itu. Akibatnya, aku dan kakek itu mengalah dan mengasihi tempat untuk ketiga siswi itu. Entah mengapa ketiganya tidak mempunyai sopan santun kepada yang lebih tua. Apakah sistem pendidikan bangsa ini yang salah, atau hal lain? 

"Kok gak sekolah, Dek?" tanya si penjual VCD.

"Lagi bolos, Bang," sahut salah satu siswi itu santai, sambil melihat-lihat VCD di depannya. Dia mengacak-acak tumpukan VCD, sehingga membuat sang pedagang hanya mendumel saja.

Pantas saja aku sempat aneh, kenapa tiga anak ini bisa di sini dan bukannya di sekolah. Jam-jam segini memang masih jam sekolah. Ketiganya memang membolos.

"Ini pengemis ngapain sih di sini? Bikin sesak aja!" bentak salah satu anak SMP itu sambil menyikut kakek-kakek di sampingnya itu hingga jatuh.

"Tau, nih. Menjauh sana! Mengganggu saja!" sambung yang lainnya.

Aku dan pedagang VCD itu menjadi kaget dengan ucapan salah satu siswi itu. Apalagi dua temannya tampak mendukung siswi yang menyikut itu. Seolah tak mempunyai dosa sama sekali. Apakah ketiga siswi ini sudah biasa melakukan hal ini?

"Dek, jangan begitu," ucapku sambil mendekati kakek tua itu dan membantunya. "Anda tidak apa-apa, Pak?" tanyaku.

"Saya tidak apa-apa. Makasih ya, Mas," ucap kakek-kakek itu. Lalu, tanpa pamit dia menjauh meninggalkanku dan lapak VCD bajakan.

Mataku menatap iba punggung kakek-kakek yang sedang melangkah gontai itu. Pasti dia sangat kecewa dan sedih dengan sikap anak SMP tadi. Kulihat, ketiga siswi tadi malah asyik memilih-milih VCD tanpa sedikitpun mempedulikan keadaan kakek tua tadi. Seolah, kejadian tadi hanya angin lalu saja. Entah, dosa apa yang menyelimuti ketiga siswi itu sehingga tega melakukan hal yang demikian? Lagipula, tiga anak ini membolos, sudah bisa dipastikan bahwa ketiganya bukan siswi teladan di sekolah.

Ketika aku membalik badan untuk melihat kakek-kakek itu lagi, dia sudah menghilang.


***


Waktu sudah pukul dua siang, tapi cuacanya masih sangat panas begini. Sebagai sales minuman suplemen, panas yang menyengat ini sudah tidak aneh. Aku sudah biasa ditempa panas dan hujan demi mendapatkan uang. 

Setelah keliling ke sana ke sini untuk menjual dagangan, aku duduk melepas lelah di atas sebuah bangku yang ada di tepi jalan, dan dengan diteduhi oleh pohon mangga. Suasananya sangat sepi di sini, sangat pas untuk melepas lelah dan mengisi tenaga kembali. Kuminum es yang kubawa untuk menghilangkan haus yang sangat mengganggu ini. Dinginnya es membuatku sejuk dan bisa melupakan panas ini sesaat.

Aku melongok ke dalam kantong plastik hitam yang isinya adalah dus-dus kemasan vitamin suplemen. Ada lima buah dus di situ, yang sebelumnya ada dua puluh dus. Aku pun sunggingkan senyum tipis.

"Tinggal dikit lagi," gumamku.

Aku lantas membuka tas yang selalu kubawa dan mengambil dua buah VCD yang tadi dibeli. Ada kepuasan ketika menatapnya. Bagaimana tidak, selama ini aku menunggu kedua film ini muncul di TV setelah tak sempat menonton di bioskop, kini bisa kutonton sepuasnya sampai bosan. Saat pulang nanti, kedua film ini akan langsung kutonton. Matikan HP dan kunci pintu. Aku ingin tak ada siapapun yang menggangguku saat menonton film.

Buk!

Telingaku menangkap bunyi sesuatu yang dipukul. Mataku langsung melihat ke sekeliling untuk menemukan bunyi yang dimaksud itu. Namun, di jalanan yang lengang ini tampak tak ada sesuatu untuk menunjukkan bunyi yang dimaksud. Bahkan mobil saja hanya sesekali lewat.

Aku pun bangkit untuk menemukan bunyi pukulan itu. Tas dan kantong plastik hitamnya kutinggal di atas bangku. Aku sangat ingin tahu bunyi apa tadi. Di samping kananku ada sebuah gang sempit. Dengan langkah pelan dan pasti, aku mencoba mendekati mulut gang. Siapa tahu saja gang itu tempat asal bunyi tadi. Begitu kulongok ke dalam gang, bola mataku langsung membelalak. Di situ ada tiga gadis yang mengenakan pakaian SMP yang gelimpangan di tanah. Ada luka di masing-masing dada dan kepalanya.

Aku mendekat untuk lebih memastikan. Dengan agak takut-takut, kutatap lekat-lekat wajah ketiga siswi SMP itu. Tidak salah lagi, tiga anak ini yang tadi ada di lapak VCD. Mata ketiga siswi itu melotot dan mulutnya menganga, seolah telah melihat setan. Mataku kembali membelalak.


"Ma-mayaaat! Ada mayaaat!" pekikku sambil hengkang meninggalkan tempat itu untuk meminta bantuan.

Aku menoleh ke sekeliling. Kalap dan panik, itulah keadaanku kini. Sialnya, tak ada siapa-siapa di sini. Padahal masih siang. Kawasan yang letaknya di tepian kota ini begitu sepi. Bangunan-bangunannya yang tampak tidak utuh itu sudah tidak dipakai dan ditempati lagi. Hal itu diakibatkan oleh kekacauan yang sempat melanda kawasan ini dua tahun silam. Sehingga pemilik bangunan memilih hengkang dan meninggalkannya, demi mendapatkan kehidupan yang layak lagi. Makanya, kawasan ini begitu sepi.

Mataku melihat sebuah mobil putih di ujung jalan sana yang sedang melaju ke sini. Aku pun langsung ke tengah-tengah jalanan untuk menghentikan mobil itu sambil mengacungkan tangan ke depan. Mataku menutup akibat takut dihantam oleh sedan itu. Degup jantung mulai kencang.

Tiiin! Tiiin!

Ckiiit!

Mobil sedan putih itu pun menghentikan lajunya dengan tiba-tiba, tepat di depan kakiku. Bunyi klaksonnya begitu memekakkan telinga.

Tiiin! Tiiin!

"Hei! Kamu sudah sinting, ya!" bentak pengemudi mobil itu sambil melongokkan kepalanya.

Aku mengembuskan napas lega sesaat sebab mobil itu tak sampai menghantamku. Kemudian, tanpa mempedulikan bentakan lelaki itu, aku maju mendekatinya. "Pak, Pak! Gawat, Pak!" panikku. Napasku sudah mulai tak menentu. 

"Gawat kenapa?" tanya si pengemudi yang masih di dalam mobil.

"Di gang itu ada mayat!" sahutku sambil menuding gang. Kepanikan ini tak bisa kukendalikan lagi.

"Apa? Mayat?" kata lelaki itu kaget. Tanpa basa-basi lagi, dia menepikan mobilnya ke bahu jalan, Aku pun mengikuti mobil itu menepi. Setelah itu, aku dan dia melangkah menuju mulut gang. Lelaki itu tampak mengenakan setelan jas hitam.

Namun, betapa kagetnya aku tatkala melihat ke dalam gang. Gang itu kini tampak kosong melompong. Ketiga mayat siswi SMP yang gelimpangan tadi telah lenyap. Padahal jelas-jelas aku melihatnya. Dan anehnya, tak ada bekasnya sama sekali.

"Mana mayatnya, Mas?" tanya lelaki pengemudi sedan di sampingku. Tatapannya menampakkan kekesalan.

"Tadi aku melihatnya di sini, Pak," sahutku menuding tanah di depanku. Napasku semakin tak menentu. Aneh. Ke mana ketiga mayat siswi tadi? Apakah si pembunuh yang memindahkannya? Tapi ke mana? Dan bagaimana bisa dia bisa memindahkan tiga mayat sekaligus tanpa sepengetahuanku?

"Kamu jangan main-main dengan saya, ya!" ancam lelaki itu sambil menudingku. Tatapannya begitu tajam.

"Iya, Pak. Aku gak bohong. Aku lihat tiga mayat di sini," jelasku meyakinkannya dengan nada penuh penekanan.

"Kamu sudah membuang-buang waktu saya!" bentak lelaki pengemudi sedan itu penuh emosi. Lalu, dia membalikkan badan dan kembali memasuki mobilnya. Kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan ini.

Aku hanya menatap mobil itu dengan tatapan ganjil, kemudian menatap gang tempat aku melihat mayat tadi. Ada apa ini? Apakah mayat tadi hanya ilusi saja akibat panas yang menyengat ini?

Aku jongkok di tempat yang tadi kulihat ada mayatnya. Ada keganjilan pada tanah di depanku. Seolah ada jejak yang dihapus. Aku pun menyipitkan mata untuk mengecek tanah di tempat lain di gang itu. Asumsiku semakin yakin bahwa ada jejak yang dihapus di tanah ini. Seolah, jejak ini adalah jejak ban.

Kuputuskan untuk memasuki gang lebih dalam. Kedua sisi gang adalah tembok tinggi yang tak mungkin bisa digunakan untuk menyembunyikan mayat. Jadi, kemungkinannya adalah dengan mengangkut mayat itu semakin masuk ke dalam gang.

Tak jauh melangkah, ada tikungan. Setelahnya, aku melihat sebuah gubuk kayu kecil di ujung gang. Gubuk itu dikelilingi oleh pohon mangga. Gubuk itu tampak bagaikan ada di tengah-tengah hutan.

Di pintu gubuk itu ada lelaki tua yang sedang mengepel lantai kayu. Bola mataku membelalak. Tak salah lagi, lelaki itu adalah kakek-kakek yang tadi kulihat di lapak VCD. Namun, ada yang aneh dengan wajahnya. Tampak ada penyesalan dan emosi di wajahnya itu. Entahlah.

"Selamat siang, Pak. Anda tinggal di sini?" sapaku begitu mendekati kakek-kakek itu. Bau cuka memainkan penciumanku.

Kakek-kakek itu menatapku sekilas, lalu kembali melanjutkan aktivitas mengepelnya seolah tidak mengacuhkanku. Apakah dia pikun atau tidak? Kedua tangannya yang menggenggam gagang pel begitu basah dan ada kelelahan di situ.

Mataku membelalak melihat sesuatu di belakang kakek-kakek itu. Mayat dua siswi SMP yang tadi kulihat itu kini ditumpuk di dekat dinding. Ada satu mayat yang tampak sudah tidak utuh lagi di sebelahnya. Seolah, mayat itu dicongkeli dan sudah dikuliti. Apakah mayat yang tidak utuh itu adalah salah satu mayat siswi SMP itu?

"A-ada apa ini, Pak? Apakah Anda yang membunuh ketiga siswi itu?" tanyaku gelagapan, tak henti-hentinya melihat pemandangan yang memilukan itu.

Kakek-kakek yang asyik mengepel itu menatap ke belakangnya, lalu dia menatapku. Tatapannya begitu tajam namun tak ada emosi atau ancaman. Tatapannya seolah tatapan penuh kelelahan. Dia maju mendekatiku sambil menghela napas panjang.

"Anak-anak di zaman ini sudah tidak lagi mengenal etika. Anak-anak menganggap siapapun itu sebaya dengannya, baik itu yang lebih tua atau muda. Semuanya bisa melakukan tindakan seenaknya, tanpa ada yang membantah sama sekali. Kadang, saya yang sudah tua ini sudah sangat lelah dengan kehidupan ini. Kehidupan saya kini beda dengan yang dulu, di mana etika sopan santun dan adab dijunjung tinggi. Lain halnya dengan kehidupan yang kini," jelas kakek-kakek itu.

Aku menggeleng-geleng dan menjadi bimbang. Apa yang diucapkannya memang tidak salah. Aku juga kadang suka tidak sopan kepada yang lebih tua, apalagi kepada ayah dan ibuku. Namun, apa mau dikata, zaman sudah mengubah kelakuan manusianya. Bukan, tepatnya manusianya-lah yang mengubah zaman.

"Jadi, hanya alasan itu Anda tega membunuh ketiga siswi SMP yang tak Anda kenal ini?" tanyaku dengan nada penuh penekanan.

Kakek-kakek itu mengangguk, "Iya. Saya hanya menghilangkan dosa ketiga anak malang ini. Dan lihat," ucapnya sambil menunjukkan kain pelnya.

Mataku kembali membelalak melihat benda yang ditunjukkan oleh lelaki tua itu. "I-itu ... kulit manusia?!"

"Iya," sahutnya cepat, "disamping bisa menghilangkan dosa, ketiganya juga bisa kumanfaatkan untuk menghilangkan noda di gubukku ini. Dengan menyelupnya ke dalam cuka dan minyak zaitun, maka kulit yang mengandung lemak ini bisa menghilangkan noda dan plek di lantai kayu," ucapnya pelan.

Aku melonjak kaget dengan ucapan kakek ini. Kegilaan apa yang kutemui ini? Siapa sesungguhnya kakek ini? Kulit manusia dijadikan kain pel. Sungguh sangat keji dan sadis! Bagiku, dia lebih keji ketimbang ketiga siswi yang dia bunuh itu. Tak kusangka lelaki yang tampak baik dan lemah ini bisa bagaikan iblis yang tak punya hati. Apa yang ada di dalam benaknya?

Kini aku paham kenapa salah satu mayat tampak tidak utuh lagi, sebab kulitnya sudah diambil. Hanya menyisakan kulit wajah saja. Sungguh malang nasib tiga siswi yang sedang dalam masa menuju kedewasaan ini.

Aku kembali menatap kakek-kakek itu. "Lalu, apa yang akan Anda lakukan setelah aku mengetahui kalau Anda pembunuh? Apakah Anda mau membunuhku juga?" tanyaku was-was. Ya, aku tahu keadaan yang kuhadapi ini. Aku mesti waspada.

Kakek-kakek itu menutup matanya sesaat, lalu menggeleng lemah. "Tidak. Saya tidak akan membunuhmu. Kamu saya bebaskan," ucapnya sambil melanjutkan mengepel lantai. "Tangan saya sudah dinodai oleh pembunuhan. Saya tidak mau membunuh lagi."

Aku melonjak kaget dengan ucapannya. Aku menyangka kalau aku akan dibunuh olehnya demi membungkam mulutku. Tapi, aku malah dibebaskan begitu saja. Apa maksudnya itu? Apakah dia tidak tega membunuhku?

"Kenapa diam saja?" tanyanya.

"Eh, maksud Anda?"

"Bukankah kamu menjadi saksi sebuah pembunuhan? Mestinya kamu tahu apa yang mesti kamu lakukan," ucapnya dengan santai mengepel. Bau cuka semakin menguat.

Aku tahu maksud lelaki tua itu. Dia memintaku supaya menghubungi polisi. Tetapi, bukankah dengan begitu dia akan ditangkap? Kenapa dia melakukannya? Apakah dia sudah lelah dengan kehidupan ini dan ingin menghabiskan sisa hidup di dalam tahanan?

Aku mengambil ponselku. Tak sulit untuk menghubungi polisi. Namun, batinku sempat mengalami kegundahan. Aku bimbang, apakah aku mesti menelepon atau tidak. Kakek-kakek itu sesungguhnya punya maksud baik, namun penempatannya salah. Apalagi, dia tak punya hati yang menjadikan kulit manusia sebagai kain pel. Sungguh sangat tidak manusiawi. 

Tak mau ambil pusing, lebih baik aku menghubungi polisi saja. Maafkan aku, Kakek. "Halo, polisi! Ada pembunuhan!"


***


Sejam kemudian, kakek-kakek itu pun ditangkap. Dia mengakui bahwa dia yang telah membunuh tiga siswi itu. Kepada polisi, dia menjelaskan aksinya. Awalnya dia mengajak tiga siswi itu ke gang depan gubuknya, lalu menghabisinya dengan memukul kepala tiga anak itu masing-masing dengan balok kayu. Dia sempat kembali ke gubuknya untuk mengambil pedati tanpa kuda untuk mengangkut tiga mayat itu. Ketika itulah, aku melihat tiga mayat itu. Pedati itu disimpan di samping gubuk.

Ketika aku menghentikan mobil di jalan, dia mulai mengangkut tiga mayat itu lalu membawanya ke gubuk. Tak lupa jejaknya juga sambil dihapus. Kemudian, dia menguliti salah satu mayat dengan asal-asalan. Hal itulah yang menyebabkan mayat itu tidak utuh lagi, penuh congkelan di sana-sini. Kulit itu kemudian dicelup ke dalam cuka dan minyak zaitun, lalu mulai mengepel. Tampaknya, ketika melakukan aksinya itu, dia tidak tahu kalau ada aku yang sudah melihat mayat.

Aku tak bisa mengucapkan kata-kata lagi dengan apa yang ada di depan mataku ini. Polisi pun menyimpulkan jika kakek-kakek itu mengidap penyakit gangguan jiwa, dan akan sangat membahayakan jika tidak diamankan.

Sebelum masuk ke dalam mobil polisi, dia sempat layangkan senyum sesaat kepadaku. Seolah, dia tampak puas kepadaku.


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER