-->

Aku dan Ilalang


Tulisan ini saya buat, awalnya masih banyak ditemukan alfabet hina dina. Lalu, dengan kegigihan dan keniatan, saya mengubah total tulisannya, hingga sama sekali tidak ada alfabet hina dina itu.

Saya sengaja membuat tulisan ini, sebab ingin menguji apakah saya bisa membuat kisah cinta-cintaan yang tanpa pembunuhan. Dan mungkin tampaknya bisa saja, dengan munculnya tulisan ini sebagai buktinya.

Oke, selamat menikmati dan jangan lupa komen saja kalau mau komen.



==========

Bentangan padang ilalang yang kutapaki ini sangat memanjakan mata. Di sini banyak ditumbuhi aneka jenis tanaman, melambai-lambai dan mengalun indah mengikuti melodi tiupan angin. 

Aku menjatuhkan tubuh di atas sekelompok ilalang yang tumbuh tak begitu tinggi. Ah, sangat menghangatkan. Di sekelilingku tumbuh tanaman dandelion yang bunga-bunganya dimainkan oleh angin. Titik-titik embun tampak masih menempel di dedaunan ilalang dan dandelion.

"Lama nunggu, ya?" sapa sesosok gadis yang tiba-tiba datang mendekatiku.

Aku kaget dan langsung duduk. Malaikat cantik yang kunantikan kini telah tiba. Mahkota kepalanya yang panjang ikut melambai-lambai ditiup angin. Aku sangat kagum dengan penampilannya.

"Enggak juga," sahutku sambil senyum.

Dengan degup jatung yang kencang, aku menggandeng tangannya menuju padang ilalang yang luas ini. Bisa kunikmati kehangatan dan kelembutan tangannya.

Aku lalu menghentikan langkah.

Ah, jika membayangkan itu, tempat ini sangat indah jika hanya untuk dibasahi oleh tangisan. Aku tak ingin menangis di sini. Cukup hanya embun saja yang menempel di ilalang, bukan tangisanku. Lagipula, aku lelaki, tak mungkin menangis.

***

Sambil menatap langit pagi yang bening di atas sana, bayanganku melintas sosok yang sangat kucintai. Ya, dia adalah kekasihku yang menaungi gelapnya hatiku dengan cahaya cintanya. Sungguh, aku tak bisa melupakannya, senyumnya, vokal khasnya, kasih sayangnya, cintanya, dan kepeduliannya padaku. 

Di tempat inilah, aku memulai hubunganku dengannya. Tepat di saat musim semi tiba. Disaksikan oleh ilalang yang mulai tumbuh, dandelion yang melayang-layang dimainkan angin yang mengelilingi kami, hangatnya cahaya pagi, kupu-kupu yang asyik mencumbu sambil melayang-layang, semuanya menjadi saksi, bahwa pada saat itu kami menjadi sepasang kekasih.

Tak ada sesuatu yang bisa membahagiakanku selain dia. Gadis itu membuat kehidupanku menjadi utuh, meski aku tahu jiwa ini sangatlah mudah patah. Aku bagaikan melayang di atas padang ilalang ini. Inilah nikmatnya jatuh cinta.

Bisa kunikmati, kehangatan aku dan dia saat memadu kasih di padang ilalang ini. Tak ada lelah di wajahku dan dia. Kami sangat bahagia, seolah dunia ini bagaikan milik kami saja.

Selama musim semi, aku dan dia selalu mendatangi padang ilalang ini hanya untuk menikmati alam. Tak ada tempat lain bagi kami selain di sini yang nyaman. Bahkan aku sempat mengungkapkan, jika aku ingin membangun tempat tinggal di sini dengannya, supaya bisa menikmati alam di sini setiap waktu. 

Ah, betapa indahnya mimpi-mimpi kami.

Namun, tampaknya jalan kebahagiaanku mesti selesai tanpa kemauanku. Kekasihku yang sangat kucintai, tak bisa lagi menikmati kehidupan akibat penyakit yang diidapnya. Sungguh, hatiku bagaikan dicabik-cabik dan disayat-sayat. Kebahagiaanku mesti dihempaskan. Aku tak kuasa dan upaya lagi tanpanya.

"Aku akan selalu mencintaimu, meski dunia kita sudah tak lagi sama," ucapnya sebelum detak jantungnya diam.

Kata-kata itu selalu membekas di dalam ingatan kepalaku. Aku pun meyakini, jika dia melihatku di langit sana, bahwa aku juga masih mencintainya, sama ketika awal mula aku jumpa dengannya.

Selama musim semi, aku dan dia sangat bahagia. Hanya satu musim saja, aku menikmati cinta yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Meskipun hanya sesaat, cintaku padanya tak akan bisa padam.

Kini hanya tinggal aku di sini, di padang ilalang yang hangat dan wangi ini. Namun, padang ilalang ini mulai banyak yang layu, sejalan dengan penggantian musim yang datang tiap tahunnya. Meskipun begitu, hanya tinggal aku dan ilalang saja yang masih menetap di sini. Kelak, kami akan menyusul kekasihku supaya bisa memulai kehidupan lain di dunia sana.

Tak bisa ditahan lagi, tangisanku pun menetes, jatuh ke bawah membasahi dedaunan ilalang yang sudah layu, dan menyatu dengan sisa embun.


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER