-->

Scotophobia


Ide tulisan ini saya dapat, ketika saya mengalami ketakutan pada kegelapan semasa kecil. Jadi waktu dulu, saya penakut sebab sangat takut pada gelap. Kemudian setelah dewasa, saya pun sudah bisa adaptasi.

Tulisan ini sebetulnya sudah lama saya buat. Awalnya masih dalam bentuk flash fiction. Kemudian, saya panjangkan sebab mau disatukan dalam kumpulan naskah yang akan dibukukan. Namun, akibat belum diwujudkan, naskahnya mengendap lama di file. Kini, saya pun memutuskan untuk mempostingnya di sini. Namun, ada bagian yang sengaja dibuang.

Oke, selamat membaca dan jangan lupa komennya.



==========

Aku takut pada kegelapan atau selalu disebut scotophobia. Sebuah suasana di mana tak adanya cahaya apapun di situ. Semuanya hitam, pekat, kelam, dan mencekam, hingga tak memungkinkan untuk melihat benda-benda di dekat kita. Apa asyiknya suasana yang demikian? Hal itu tak ubahnya dengan kebutaan, namun dengan mata masih melihat.

Setiap saat, aku takut dengan kegelapan. Aku membencinya. Aku lebih menyukai tempat yang banyak cahayanya. Bahkan cahaya yang menyilaukan. Tempat di mana aku bisa melihat sekelilingku dengan jelas. Tak akan ada lagi ketakutan pada kegelapan yang menghantuiku.

Aku memiliki pengalaman yang tak bisa dilupakan, yang membuatku menjadi takut pada kegelapan. Ketika kecil, aku diculik dan disekap di tempat yang gelap dan pengap. Aku tak tahu ada di mana. Aku sama sekali tak bisa melakukan apa-apa di tempat yang mencekam itu. Waktu itu aku hanya anak gadis biasa yang masih polos dan belum mengenal kehidupan yang sesungguhnya. Aku tak tahu, dosa apa yang dimiliki olehku sehingga penculik itu tega menculik dan menyekapku? Hal ini sangat menyiksaku.

Untung saja, polisi cepat ambil tindakan. Aku bisa diselamatkan dengan keadaan sangat syok. Tubuhku begitu lemah dan tak sanggup untuk jalan akibat tidak makan apapun. Dan penculik itu pun ditangkap.

Oleh sebab itu, sejak kejadian itu aku menjadi takut pada kegelapan hingga aku duduk di bangku kuliah saat ini. Jika malam datang, aku lebih memilih untuk tidak ke mana-mana. Semua lampu di tempat tinggalku mesti dinyalakan, tak boleh ada yang mati sekalipun itu di gudang. Jika ada lampu yang tak mau menyala, maka ayahku mesti menggantinya.

Ketika sedang hang out dengan teman-teman, jika diajak ke tempat yang gelap, aku menolaknya. Misalnya bioskop, studio, dan lain-lain. Lebih baik aku tidak ikut saja dan memilih untuk pulang. Untungnya teman-teman bisa memahamiku. Aku bisa lemas jika kegelapan datang.


***


“Yang kamu takutin bukan pada kegelapan, Hana. Tapi sesuatu yang ada di dalam kegelapan itu,” ucap Fika saat aku makan bakso di kantin kampus. Gadis itu begitu menikmati jus jambunya.

“Memangnya, apa yang ada di kegelapan itu?” tanyaku sambil mengunyah bakso daging nan empuk.

“Tak ada hal yang bisa diduga di dalam kegelapan. Apapun itu, hal itu bisa saja membahayakanmu atau melindungimu,” ucap Fika sambil memainkan sedotan minumannya. Dia selalu begitu jika hanya memesan minuman saja.

Aku menghela napas panjang saja. Kuhabiskan sisa bakso dalam mangkuk, kemudian meminum habis jus alpukat. Cuaca sepanas ini memang nikmat jika meminum jus dingin, bahkan aku menghabiskannya sampai tiga gelas. Apalagi aku habis makan bakso yang lumayan pedas, lidahku pasti butuh yang dingin-dingin.

Kutatap kembali wajah Fika yang masih asyik memainkan sedotan minumannya. “Fik, apapun itu, aku tetap tak bisa menghadapinya. Aku akan selalu ketakutan pada kegelapan. Always,” tegasku.

Fika sunggingkan senyum manis sehingga memunculkan lesung di pipinya. “Kamu tahu lagunya Tasya yang 'Jangan Takut Gelap', Na? Gelap itu jangan dibuat takut. Sebaliknya, gelap itu malah melindungi kita. Tentunya kita akan nyaman dan tenang dalam gelap,” ucapnya.

“Pastinya aku tahu lagu itu, Fik,” jawabku, “namun, lagu itu sangat beda jauh dengan keadaanku yang sesungguhnya. Bahkan bisa dibilang, aku ini kebalikannya lagu itu."

Fika menghela napas panjang. Dia meminum habis minumannya. Mungkin dia sudah lelah menasehatiku supaya phobiaku ini sembuh. Aku tahu, sudah puluhan kali dia melakukannnya, biasanya di saat-saat senggang dan santai. Meskipun begitu, aku tetap senang dengannya. Sebab, dia begitu tulus menjadikanku sebagai sahabat. Dia ingin supaya aku sembuh. Aku dan dia sudah dekat sejak awal-awal masuk kuliah.

"Kamu gak ada usaha supaya sembuh, Na?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng lemah. "Aku juga pengen sembuh, Fik. Aku enggak mau ada lagi phobia yang menghantuiku setiap saat, dan bisa menjalankan kehidupanku. Phobia ini sangat menyiksaku. Tapi, kenapa seolah ada kekuatan supaya aku tak bisa sembuh? Semua upaya udah dilakukan sama mama dan papaku demi kesembuhanku ini. Tapi, kayaknya ini sudah nasibku bakal dihantui oleh phobia ini, Fik," keluhku.

Fika bangkit, lalu mendekatiku dan duduk di sebelahku. Dia menepuk-nepuk pundakku dengan lembut. ”Semoga kamu bisa secepatnya menghilangkan phobia itu, Na. Aku selalu mendukungmu,” senyumnya.

“Makasih ya, Fika,” sahutku tak kalah senyum.


***


Senja, adalah tanda bagiku supaya cepat-cepat pulang. Jangan sampai aku belum pulang ketika senja. Sebab, bisa dipastikan aku akan pulang kemalaman, dan itu hal yang menakutkan bagiku. Oleh sebab itu, aku memilih jam kuliah pagi supaya siangnya bisa pulang.

Aku melihat mamaku tampak asyik bincang-bincang dengan sesosok lelaki di depan pintu. Aku sama sekali tidak mengenali lelaki itu. Siapa dia? Dia tampak dekat sekali dengan mamaku.

"Aku pulang, Ma," ucapku, lalu menyalami tangan mama.

"Hana, kamu sudah pulang. Oh iya, kenalkan ini Pak Hendi, tetangga sebelah yang belum lama ini tinggal," ucap mama antusias mengenalkan lelaki itu. Entah kenapa dia begitu bangga.

Aku menatap sekilas lelaki setengah baya itu. Tampak ada sesuatu yang ganjil dalam tatapan wajah lelaki itu. Ada sesuatu yang disembunyikan dalam senyumannya itu. Seolah, senyuman itu adalah kedok untuk tipu muslihatnya.

Aku menyalami lelaki itu sesaat sambil layangkan senyuman tipis. Lalu aku kembali menatap mamaku. "Kok aku belum melihatnya ya, Ma?" tanyaku.

Mama membalas senyumku, "Kamunya sibuk kuliah aja sih, Na. Jadi belum tahu kalau ada tetangga yang gagah begini yang pindah ke sini," sahutnya sambil menoleh ke lelaki itu. "Dia ini pengusaha susu. Lihat, mama dikasih dua botol susu sapi asli," ucapnya sambil bangga menunjukkan dua botol susu.

"Emang tadi kalian ngomongin apa? Kayaknya bukan lagi ngomongin susu. Tampaknya asyik banget," tanyaku dengan nada sinis.

Mama menyubit pipiku tiba-tiba, seolah aku ini anak kecil yang masih balita. "Kamu kepo aja sih, Na," ucapnya dengan gemas.

Aku mengaduh kesakitan, meskipun mama melakukannya dengan lembut. Aku langsung mengusap-usap pipiku yang bagai digigit semut. Tidak biasanya mama menyubitku begini sejak aku lulus SD.

Aku lantas memencongkan mulut dengan muka ditekuk. Entah kenapa aku tampak jealous dengan keadaan ini. Semestinya papa yang begitu, bukan aku. Lagipula, apa maksudnya lelaki ini mendekati mamaku?

Aku pun memutuskan masuk saja ke dalam. "Ya sudah, jangan lama-lama ngegosipnya, Ma. Nanti aku bilangin papa," jelasku sambil membuang muka. Mamaku hanya tawa cekikikan saja menanggapi omonganku.


***


Malam yang kutakutkan mulai datang. Meskipun begitu, aku tetap tenang jika sudah ada di dalam kediamanku ini, dengan ditemani lampu-lampu yang kapasitasnya mencapai puluhan watt.

Awalnya papa dan mamaku mengeluhkan dengan cahaya lampu-lampu yang menyilaukan ini. Keduanya sangat kepanasan dengan lampu-lampu ini. Bahkan AC-nya disetel dengan suhu sangat dingin. Padahal, malam-malam begini pasti cuacanya dingin. Namun, keluhan-keluhan itu hanya sesaat saja. Sebab, papa dan mamaku memaklumi keadaanku. Keduanya lebih memilih kenyamananku.

Kini sudah jam sepuluh malam tapi kantukku belum juga datang. Tidak biasanya aku begini. Biasanya jam sembilan aku sudah mengantuk. Entahlah, apa mungkin akibat aku meminum banyak jus sewaktu di kantin kampus tadi?

Aku memutuskan untuk menonton televisi saja, menemani mama dan papa di sofa tempat biasa kami menonton televisi. Namun, pandangan keduanya tidak menuju ke televisi, melainkan ke hal lain. Mama tengah asyik membaca majalah, sedangkan papa asyik menelepon sambil menimang-nimang cincin batu akik kesayangannya. Mungkin dia mau membeli batu akik lagi. Jadi, hanya aku saja yang menonton.

Di atas meja di depan sofa ada dua buah gelas yang isinya adalah susu sapi. Bisa kutebak jika itu adalah susu yang dikasih oleh tetangga sebelah. Di sini, cuma aku saja yang tidak doyan susu. Bagiku, minum susu sangat mual, membuatku ingin muntah. Aku mulai mengalaminya sejak TK. Aku lebih senang jus atau kopi. Oleh sebab itu, mama tidak mengasihiku susu tadi.

Sejam kemudian, papa dan mama mulai meninggalkan sofa. Mungkin keduanya sudah mengantuk. Kulihat, susu di gelas sudah habis, dan hendak dicuci oleh mama. Tapi kenapa mataku belum juga mengantuk?

"Hana, jangan lupa matikan TV-nya kalau kamu sudah ngantuk, ya,” pesan mama sebelum dia meninggalkanku.

“Iya, Ma. Tanggung, film-nya lagi asyik, nih,” jawabku tanpa menoleh sedikit pun, fokus ke televisi 21 inch yang ada di hadapanku.

Aku begitu menikmati film action yang sedang kutonton ini. Sebuah film yang dibintangi oleh Jackie Chan. Apalagi adegan kungfu ala Jackie Chan-nya begitu memukau. Adegan-adegan kungfu-nya begitu indah dengan dibalut komedi. Ingin sekali aku bisa kungfu layaknya Jackie Chan, supaya aku tidak takut lagi pada ancaman-ancaman yang selalu menimpa anak-anak gadis seusiaku. Bahkan, aku mungkin bisa mengobati phobiaku pada kegelapan. Namun, tampaknya tidak mungkin jika kungfu bisa mengatasi phobia anehku ini.

Klik!

Tanpa diduga, lampu tiba-tiba padam. TV pun ikut-ikutan mati. Suasana langsung menjadi gelap gulita dan pekat. Mataku menjadi tak bisa melihat apa-apa. Sialnya, bahkan aku tak membawa ponsel untuk membantu pencahayaanku.

Aku langsung panik ketakutan. Detak jantungku mulai cepat. Peluh dingin muncul membasahi wajahku. Helaan napas pun semakin cepat bagaikan habis main sepak bola.

“Mama! Papa!” panggilku panik.

Sialnya, tak ada sahutan keduanya. Apakah papa dan mamaku sudah lelap dibalut mimpi indah? Secepat itukah?

Apa yang mesti aku lakukan? Aku tak bisa apa-apa lagi kini. Semua anggota tubuhku seolah-olah kaku dan lumpuh. Aku tak kuasa untuk bangkit dan melangkahkan kaki hanya untuk mendekati mama dan papa. Bahkan untuk menemukan penyebab padamnya lampu pun aku tak sanggup.

Napasku semakin tak menentu. Wajah dan pakaianku dibasahi oleh peluh yang selalu muncul tiada henti. Ketakutan ini sudah menguasai tubuhku. Tak bisa kutemukan setitik cahaya pun. Semuanya gelap dan hitam.

Buuuk!

Satu pukulan menghantam tepat di tengkukku. Aku langsung melonjak kaget. Dada mulai sesak. Kepala pun menjadi pusing. Tak lama kemudian, mataku memejam dan tubuhku melemas, lalu jatuh ke lantai. Aku pun tak tahu lagi ada apa selanjutnya.


***


Mataku membuka pelan. Namun, kegelapan yang pekat tetap menyapaku. Aku pun langsung panik. Di mana aku? Kenapa aku bisa ada di sini? Dan juga, tanganku bagai diikat tali. Bahkan bukan hanya tangan saja, badan dan kakiku juga diikat. Tampaknya aku duduk di sebuah bangku dan dalam keadaan diikat oleh tali. Bahkan, mulutku juga disumpal. Aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun.

"Hmmmfh!" pekikku.

Byats!

Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan menghantam wajahku. Aku pun langsung membuang muka sambil menutup mata akibat cahaya itu. Sial, cahaya apa ini? Dugaanku, ini adalah cahaya lampu tembak.

"Kamu sudah siuman, Hana Ayudia," ucap sesosok lelaki.

Mataku membuka pelan-pelan demi melihat sosok lelaki itu. Namun sial, silaunya cahaya ini sangat mengganggu penglihatanku. Aku mencoba menoleh saja untuk menemukan lelaki itu. Namun, lelaki itu tak ada.

"Gadis yang takut pada kegelapan, sungguh malang sekali," ucap lelaki itu lagi dengan nada pelan.

"Hmmmfh!!!" pekikku dalam sumpalan.

"Kenapa kamu menutup matamu? Bukankah kamu sangat menyukai cahaya yang menyilaukan?" ucapnya lagi.

Sesungguhnya aku ingin memekik 'siapa kamu'. Namun, akibat sumpalan di mulutku ini, kata-kata itu tak bisa kuucapkan.

Lelaki itu kini mendekat dan tepat di depanku, menghalangi cahaya lampu tembak yang menghantam mataku. Sialnya, meskipun dia ada di depanku, namun aku tetap tak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat siluetnya saja.

"Hmmmfh!" aku memekik lagi sambil menggelinjang-gelinjang, meminta supaya ikatan ini dibuka.

"Masih ingatkah kamu padaku, Hana? Enam belas tahun yang lalu, saat usiamu masih enam tahun, tentunya kamu mengalami kejadian yang tak akan bisa dilupakan. Tak kusangka kamu kini sudah tumbuh dewasa dan cantik," ucap lelaki itu.

Mataku membelalak. Otakku kembali mengingat kejadian itu. 16 tahun lalu adalah kejadian waktu aku diculik. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah, dia ini adalah penculik yang menculikku sewaktu kecil? Dan, kenapa dia bisa menemukanku lagi?

Lelaki itu maju mendekatiku, lalu melepas sumpalan. Dalam keadaan itu, wajah lelaki itu ditimpa cahaya lampu tembak, sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.

"Pak Hendi?" kagetku.

Lelaki itu kembali ke tempatnya semula tadi. "Hahaha! Tepat sekali. Aku adalah tetanggamu. Aku juga yang menculikmu enam belas tahun yang lalu."

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kenapa dia bisa menemukanku lagi? Apakah dia sudah lama bebas?

"Ja-jadi, kamu yang memadamkan semua lampu dan memukul tengkukku tadi?" tanyaku panik.

"Hahaha!" tawanya, "tepat sekali."

Aku jadi menggigil ketakutan. Tetangga yang belum lama ini tinggal dan dekat dengan mama, tak disangka kalau dia punya niat jahat. Dan yang lebih mengejutkan, dia adalah penculik yang menculikku 16 tahun yang lalu.

Jadi, inilah keanehan yang sempat melintas di benakku sewaktu melihat Pak Hendi. Senyum penuh makna lelaki itu sewaktu aku pulang kuliah tadi menandakan bahwa dia sudah menemukan mangsanya. Sial! Kenapa aku tidak mengetahuinya sejak awal? Semestinya instingku ini bisa dengan cepat menduganya.

"Ta-tapi, kenapa mamaku tidak mengenalimu?" tanyaku.

"Jelas saja. Sebab, aku menggunakan topeng," sahutnya.

Tangan lelaki itu lalu melepas sebuah lapisan tipis di wajahnya. Semakin dikupas, selaput tipis itu membentuk wajah manusia. Kali ini, meskipun dalam siluet dan wajahnya tidak jelas, wajah di depanku kini mulai beda. Di tangannya, selaput tipis yang membentuk wajah Pak Hendi tampak begitu jelas ditembus cahaya lampu tembak.

Sesuai dengan yang diucapkannya, bahwa dia adalah penculik yang menculikku sewaktu kecil. Namun, aku sudah lupa dengan wajah sang penculik. Waktu itu aku masih polos sehingga aku tidak begitu menghapali wajah si penculik.

"Apa maumu padaku?" pekikku dengan agak ketakutan.

"Tahukah kamu, selama menjalani masa hukuman di dalam tahanan, aku selalu memiliki tekad untuk membalas kalian. Aku sangat menanti-nantikan momen ini. Asal kamu tahu, aku sangat dendam padamu dan ayah ibumu. Aku bisa masuk tahanan akibat kepolosanmu. Aku yang sudah malang melintang menculik puluhan anak ingusan, dikalahkan oleh anak yang diculiknya. Sialnya juga, aku tak mengetahui kalau gelang-gelang yang kamu kenakan waktu itu jatuh satu-satu. Seolah, itu adalah jejak yang kamu tinggalkan untuk dilacak. Aku tak bisa begini, penculik hebat dikalahkan oleh anak kecil. Makanya, ketika bebas dua tahun yang lalu, aku melacak alamat kalian. Dan aku pun bisa menemukan kalian setelah susah payah melacak. Demi menyembunyikan identitasku dan bisa memata-matai kalian, aku menggunakan topeng ini supaya kalian tidak mengenaliku. Dan kini, aku bisa memulai aksiku lagi," jelasnya.

Aku mulai ketakutan. Tampaknya dia memiliki dendam kesumat kepadaku. Padahal aku waktu itu cuma anak gadis biasa. Bukan detektif atau mata-mata yang mencoba menangkapnya. Dan juga, gelang plastikku jatuh itu tidak sengaja. Gelang-gelang itu milik mamaku yang sedang iseng kupakai, sehingga tidak pas dengan tanganku. 

Jadi, penculik itu menculikku dengan membopongku begitu saja menuju tempat penyekapan, bukan dengan mobil. Dan juga suasananya sudah malam. Sehingga tidak ada yang melihatnya ketika dia membopongku. Aku tak bisa apa-apa akibat mulut disumpal. Aku juga tak mampu melawan si penculik akibat sangat ketakutan dan mendapat ancaman, meskipun tangan dan kedua kakiku tidak diikat. Sewaktu dibopong itulah, gelang-gelangku jatuh tanpa kuketahui.

Lelaki itu menjauh sehingga cahaya lampu tembak kembali menimpa mataku. Aku tak bisa lagi melihat sosok lelaki itu.

"Lihatlah ini," ucap lelaki itu.

Posisi cahaya lampu itu diubah. Mataku mengikuti ke mana posisi cahayanya yang menuju ke pojokan itu. Dan, mataku membelalak. Di situ ada dua onggok tubuh yang saling tumpukan. Di masing-masing kepalanya ada luka yang menganga. Bisa dipastikan jika dua tubuh itu sudah menjadi mayat.

Mataku memicing untuk melihat dengan jelas siapa dua mayat itu. Lalu, mataku membelalak kembali dengan mulut menganga. Apakah penglihatanku ini tidak salah? Dua mayat itu tidak lain adalah mama dan papaku.

"Mama! Papa!" pekikku.

"Hahaha!" tawanya, "enam belas tahun lamanya aku menantikan momen-momen ini. Aku sangat menikmati saat membunuh papa dan mamamu. Ketika selesai membuatmu pingsan, aku langsung memukul kepala papa dan mamamu ketika keduanya sudah lelap. Agak lama juga membuat keduanya mengantuk dengan susu yang mengandung obat kantuk yang kukasih ke mamamu tadi. Aku tak menyangka jika kamu tidak ikut meminum susunya. Meskipun begitu, aku sungguh sangat menikmati sekali membalaskan dendam ini," ucapnya. Aku pun kini bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Meskipun sudah tidak ingat, tapi wajah itu sempat melintas dalam ingatanku.

Jadi, susu yang diminum oleh papa dan mama adalah susu yang mengandung obat kantuk? Dan dia pengusaha susu itu hanya akal-akalan dia saja.

Tangisanku pecah. Sakit yang amat sangat di dalam hati ini begitu menyayat. Mama dan papa yang amat kucintai itu kini tewas dengan sangat mengenaskan. Kenapa ini bisa menimpaku? Aku tak bisa menghadapi ini. Aku sudah tidak sanggup lagi. Ingin sekali aku melawan ketidakadilan ini.

Lelaki itu mengambil sebuah pemukul bola bisbol di pojokan, lalu mulai mendekatiku. Aku bisa melihat senyuman sinisnya yang menatapku sambil memainkan pemukul itu. Wajahnya begitu angkuh.

"Kini, dendam ini mesti dituntaskan. Kamu siap?" tanyanya sambil mengambil ancang-ancang.

Kepalaku menunduk. Aku sudah tak bisa apa-apa lagi. Dengan tangan dan kaki yang diikat, sudah pasti aku tak bisa mengelak lagi. Mungkin, ini sudah menjadi jalan hidupku, akan tewas dengan lubang menganga di kepala, sama dengan papa dan mama.

Aku mulai ketakutan. Bahkan ketakutan ini melebihi ketakutanku pada kegelapan. Tapi, aku mesti siap. Mungkin saja, aku akan bisa menyusul mama dan papa di alam sana.

Papa, mama, aku akan datang menyusul kalian.

"Selamat tinggal, Hana!" ucap lelaki itu mengayunkan pemukulnya.

Buuuk!!!


-tamat-


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER