-->

Asthenia

Tulisan ini sebetulnya sudah lama saya buat. Idenya didapat ketika mengambil judul 'Asthenia' yang memiliki makna 'Kelemahan'. Nama Asthenia tak lain adalah salah satu judul lagu band kesukaan saya, yakni Blink-182. Apalagi, saya menyukai lagu itu. Sehingga, saya pakai judulnya untuk tulisan ini.


Sekilas memang kisah dalam tulisan ini masih sama dengan kebanyakan kisah lainnya kebanyakan. Jadi, silakan tinggalkan komennya.



==========

"Ayo kita duduk di bangku itu," ajak Yudha sambil menggandeng lembut tanganku. Dia menuding sebuah bangku taman yang masih kosong di depan.

Cuaca yang panas ini seolah menjadi sejuk tatkala Yudha menggenggam tanganku, membuat jantungku deg-degan. Aku pun mengikuti ajakannya. Tak hanya itu, diajak ke mana pun olehnya, aku mau saja.

Aku dan Yudha lalu duduk di bangku yang diteduhi oleh pepohonan. Genggaman tangannya tak mau dilepas, seakan-seakan takut kalau aku menjauh. Padahal jelas-jelas aku tak akan mau melakukannya.

"Sayang, aku mau ngomong sesuatu," ucapnya sambil layangkan senyuman hangat kepadaku.

Kutatap lekat-lekat wajahnya yang putih itu. Ya ampun, dia tampan sekali jika sedang senyum begitu. Aku sampai dibuat salah tingkah. Aku sangat bahagia bisa mendapatkan cintanya.

"Mau ngomong apa, Sayang?" sahutku tak kalah senyum.

"Sudah seminggu kita menjalin hubungan. Apakah kamu bahagia?" tanyanya lembut.

Aku membalas senyumnya itu, "Jelas kamu sudah tahu jawabannya, dong. Pastinya aku sangat bahagia banget," sahutku antusias.

Yudha menatapku sesaat, kemudian menoleh ke depannya. Genggaman tangannya dilepas. "Tapi aku sebaliknya," ucapnya.

Aku menyipitkan mata ketika dia mengucapkan itu. "Maksudmu?" tanyaku.

Dia kembali menoleh kepadaku sambil melayangkan senyuman hangat. "Kamu tahu, aku sudah bosan denganmu. Kamu tuh sangat monoton banget," ucapnya.

Aku kaget dengan ucapannya. Apakah telingaku tidak salah menangkap ucapannya? Apakah dia hanya mengada-ngada dan sedang mencoba menggodaku?

"Apa maksudnya?" tanyaku lagi lebih memastikan ucapannya.

"Saat awal jadian sama kamu, aku menyangka kamu akan menjadi sesuatu yang wah buatku. Tapi, kamu monoton dan kolot," ucap Yudha lagi. Nada ucapannya sangat mengejekku. Namun, tak ada wajah penyesalan di situ. Wajahnya tampak biasa-biasa saja.

"Monoton gimana sih maksudmu, Yud?" tanyaku yang mulai gelisah.

"Ya monoton saja. Sangat membosankan," sahutnya santai.

Kupandang lekat-lekat wajah Yudha dengan tatapan yang tak bisa dipahami. Apakah ini cuma candaan biasa atau sungguh-sungguh? Tak biasanya dia mengucapkan sesuaty yang menyakitkan ini. Apakah ini adalah sifat Yudha yang sesungguhnya?

"Lantas aku mesti gimana, Yudha?" tanyaku mulai gelisah.

Aku sungguh-sungguh tidak mengetahui apa yang dialami oleh Yudha kepadaku. Padahal aku sudah melakukan hal yang istimewa untuknya. Tapi, mungkin itu pendapatku, entah bagaimana dengan tanggapannya. Jika dia menganggap aku monoton dan kolot, maka aku mesti mengubah sifatku ini. Aku tak mau Yudha menjadi tidak nyaman denganku, yang akan menyebabkan hal yang kutakutkan.

"Bukan kamu saja, tapi kita. Jalan satu-satunya adalah putus," ucapnya masih dengan nada santai dan tanpa penyesalan.

"Putus?" ulangku memastikan.

Entah mengapa aku menganggap kata 'putus' sangat menakutkan. Dan ketika kata itu diucapkan oleh Yudha, aku bagai dicabik-cabik setelah sebelumnya dibelai dengan lembut. Kenapa dia tega memutuskan hubungan denganku tanpa alasan yang jelas? Apa salahku sesungguhnya?

Yudha kemudian bangkit sambil menghela napas panjang. "Hubungan kita cukup sampai di sini saja," ucapnya santai. Dia membalikkan badan lalu meninggalkanku begitu saja, tanpa pamit.

“Yudha!” panggilku.

Namun, lelaki itu tak menoleh kepadaku, seolah aku tidak ada. Dia tetap melangkah dengan santainya menjauhiku. Sialnya, kakiku seolah tidak mampu untuk mendekatinya, dan mencegahnya menjauhiku.

Dia sudah memutus hubungan ini dengan sepihak. Apakah ini mimpi?

Aku kini hanya diam mematung saja, tak mampu menyusulnya untuk kembali ke pangkuan. Aku hanya menatap punggung lelaki yang sudah mencampakanku ini dengan penuh tanda tanya, ada apa dengan dia? Lelaki itu lalu menghilang di balik pepohonan taman. Tangisan ini tak mampu lagi kubendung.

***

Hujan membasahi bumi dengan lebatnya. Dinginnnya cuaca bagai menusuk tulang. Aku hanya melamun saja menatap gejala alam itu di balik jendela kosanku. Entah sejak kapan aku melamun begini di sini. Aku tak sempat menghitungnya. Di benakku dipenuhi oleh kegalauan dan kegundahan.

Bayangan wajah Yudha masih membekas jelas di benak ini. Entah kenapa aku masih membutuhkannya. Padahal, dia sudah mencampakanku dengan alasan yang tidak jelas. Apakah semua lelaki memang begitu? Memanfaatkan hati dan cintaku hanya untuk kesenangan semata, lalu setelah bosan cukup tinggalkan saja. Bagaikan habis manis sepah dibuang.

Aku tak tahu pasti apa yang ada di benak Yudha. Jika memang dia ingin putus, jelaskan alasan yang logis, yang masuk akal, supaya aku bisa memahaminya.

Semalaman aku mencoba menghubungi ponselnya untuk meminta penjelasan, namun nadanya selalu sibuk. Bahkan kadang tidak aktif. Apakah dia memang sudah melupakanku? Secepat itu?

Tok ... tok ... tok ...!

Ketukan pintu membuat lamunanku lenyap. Meskipun begitu, aku tak peduli dengan ketukan itu. Mungkin saja itu Melisa, teman kosanku yang selalu meminjam laptop milikku. Selalu saja ada alasannya untuk meminjam. Untuk tugas, untuk makalah, ataupun memindahkan data. Namun, kini aku sedang malas melakukan apa-apa. Sedang tidak ingin diganggu. Bahkan aku membolos kuliah.

“Cindy, buka pintunya. Aku tahu kamu ada di dalam,” ucap Melisa dengan vokalnya yang khas di balik pintu.

Aku menatap sekilas ke pintu yang menutup, kemudian kembali menatap jendela, menikmati hujan. Tak kupedulikan ketukan pintu itu. Hanya mengganggu ketenanganku saja.

“Cindy, aku bukan mau minjam laptop. Ada teman kuliahmu datang, nih. Dia udah ngetuk-ngetuk sejak tadi, loh. Dia menyangka kamu enggak ada di dalam. Tapi aku yakin kamu ada di dalam,” ucap Melisa masih sambil mengetuk.

Teman kuliah? Siapa dia? Dan juga, dia sudah mengetuk pintu sejak tadi? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Mungkinkah aku sangat dibebani oleh masalah ini sehingga tidak tahu ada yang mengetuk pintu?

“Cindy, ini aku Viona. Buka pintunya, aku mau ngomong banyak hal sama kamu,” ucap wanita lain di balik pintu.

Aku mengenal siapa gadis itu adanya. Dia memang teman baik kuliahku. Mau tidak mau, aku pun langsung melangkah malas menuju pintu, lalu kubuka pintunya setelah melepas kuncinya.

Kutatap wajah Melisa yang tampak ditekuk. Mungkin dia kesal denganku yang tidak langsung membukakan pintu tadi. Dan ketika aku menatap Viona, dia tampak cemas. Entah apa yang dicemaskannya. Jika melihat setelan pakaiannya yang hanya kemeja dan celana jeans, bisa kupastikan dia belum lama pulang kuliah.

“Cindy, kamu kenapa sih? Aku telepon kamu tapi gak aktif. Diketuk-ketuk diam saja? Kamu masih mimpi, ya?” kata Melisa dengan muka sebal khasnya. Sama ketika dia hendak meminjam laptopku namun aku tidak mengizinkannya.

“Ya, sudah. Makasih ya atas bantuannya, Mbak,” ucap Viona kepada Melisa dengan senyuman hangat.

“Iya sama-sama, Mbak. Tolong jagain si Cindy supaya enggak mimpi lagi. Oh iya, besok aku pinjam laptopmu ya, Cindy. Ada tugas kuliah,” pinta Melisa memohon kepadaku. Mimiknya beda dengan sebelumnya.

Aku menatap malas kepada teman kosanku itu. “Iya, gampang,” sahutku dengan mata dibuat mengantuk. Sesungguhnya aku sangat malas melakukan apa-apa saat ini.

Gadis itu menyubit pipiku dengan gemas. Lalu dia kembali ke dalam tempat kosnya yang ada di sebelahku. Dia memang selalu begitu, jika aku mengizinkannya untuk meminjamkan laptopku. Padahal, itu masih belum pasti.

“Jadi, kamu mau aku tetep di sini, kedinginan, dan kehujanan?” ucap Viona yang mengejutkan lamunanku tentang Melisa.

Aku mendesah panjang, lalu masuk ke dalam dengan malas. “Ya udah, ayo masuk,” ajakku.

Aku langsung menutup pintu ketika Viona sudah masuk. Lantas kubanting tubuhku di atas tempat lelapku yang letaknya tepat di samping pintu, lalu kupeluk guling supaya tubuh menjadi lebih hangat. Sama sekali tak kupedulikan ada Viona di situ. Mataku menatap kosong ke atas.

Viona duduk di dekatku. “Kamu kenapa gak kuliah, Cin? Aku telepon kamu malah gak aktif. Kamu ada apa?” tanyanya dengan wajah masih gelisah.

“Lagi bete,” jawabku singkat.

Viona menghela napas. Dia menatap tiap jengkal tubuhku. Lalu kembali menatap mataku. “Kamu putus sama Yudha, ya?”

Aku kaget dengan ucapannya. Kenapa dia bisa mengetahuinya? Padahal aku belum kasih tahu kepada siapapun tentang putusnya hubungan aku dan Yudha. Aku pun langsung duduk sambil menatap aneh kepada Viona.

“Kamu kok bisa tahu?” tanyaku selidik.

“Ada gosip di kampus tadi pagi, katanya kamu habis putus sama Yudha. Anak-anak kelas tahu kenapa kamu tadi enggak masuk. Semuanya kompak kalau kamu sedang galau akibat diputusin sama Yudha. Aku juga lihat Yudha sedang jalan sama anak cewek Fakultas Ekonomi. Kamu kan tahu kalau Yudha itu playboy. Jadi, anggapan kalau kamu putus sama Yudha itu memang bukan isapan jempol.”

Aku menghela napas panjang. Kulipat lututku di depan dada. Sakit dan kecewanya hati ini belum bisa sembuh. Bagai ditusuk puluhan pisau tajam. Namun, masih ada setetes asa dalam hatiku ini.

“Aku masih membutuhkannya, Vio,” gumamku.

Viona langsung mendekatiku, “Ya ampun, Cindy. Otak kamu di mana, sih? Mestinya sejak awal tuh kamu tahu kalau bakal disia-siain sama playboy sialan itu. Sejak awal aku juga enggak setuju kamu jadian sama Yudha. Cewek dia banyak, bukan kamu aja, Cindy. Buka matamu,” ucap Viona dengan wajah mengiba.

Aku menopang daguku di atas lutut. “Tapi, aku masih mencintainya,” sahutku.

Viona langsung menggenggam kedua bahuku. Aku sempat kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba itu. Lalu, dia menatap mataku lekat-lekat.

“Cindy, Yudha sudah masa lalu kamu. Dia sudah mantanmu. Lupakanlah, move on. Kamu mesti kembali ke Cindy yang dulu, yang penuh bahagia, canda, tawa, dan kejahilan. Aku kayak tidak mengenal kamu yang ini, Cindy. Aku kangen Cindy yang dulu.”

Aku menunduk. Tak mampu kutatap mata Viona yang seolah memojokkanku. Meskipun begitu, aku tahu kalau Viona memang mau membantuku menghilangkan kegundahan ini. Aku pun mulai menangis.

“Aku tak tahu mesti gimana lagi, Vio. Aku selalu saja dikecewakan oleh cowok. Di saat aku mulai mencintai dengan tulus, cowok-cowok malah memcampakkanku dengan mudahnya. Apa sih maunya? Belum cukupkah cintaku selama ini?” isakku.

Viona menjadi diam. Mungkin, dia tak tahu mesti mengatakan apa. Pengalaman cinta aku dan dia bisa dikatakan sama. Sudah dikecewakan saat mulai mencintai dengan tulus. Tapi, dia bisa bangkit kembali. Dia bisa dengan mudah melupakan semua mantan kekasihnya. Sedangkan aku sangat sulit melupakannya. Aku sangat membutuhkan waktu, bahkan sampai tiga bulan lebih.

Viona lantas memelukku dengan hangat. “Cindy, aku tahu apa yang kamu alami. Aku bisa bantu kamu melewati semua ini. Kamu mesti bisa move on.”

“Tapi aku sulit melupakannya, Vio. Aku tahu ini kebodohanku. Di saat aku sulit melupakan dia, aku sangat sedih. Aku begitu lemah kalau udah begini. Aku tak tahu mesti gimana. Yang bisa kulakukan hanya menangis, menangis, dan menangis. Ini kelemahanku, Vio. Aku enggak bisa sekuat kamu dalam menghadapi masalah ini,” keluhku.

Viona melepaskan pelukannya. Dia menatapku lekat-lekat. “Anggap saja mantan itu sampah, mesti dibuang pada tempatnya.”

“Maksudmu?” tanyaku tidak paham.

Viona menghela napas. “Kan ada pepatah yang udah nongol di mana-mana, 'buanglah mantan pada tempatnya'. Maksudnya supaya kita bisa dengan mudah melupakan mantan kita. Anggap saja sampah, kita mesti buang jauh-jauh supaya mudah dilupakan. Pasti kamu enggak bakal ingat sampah-sampah apa saja yang sudah kamu buang.”

Aku menatap lekat-lekat wajah Viona. “Buanglah mantan pada tempatnya,” ulangku.

Viona mengangguk mantap. “Iya, Cindy. Kamu pasti bisa, kok. Aku yakin.”

Aku mengangguk-anggukan kepala. Kutelaah dalam-dalam ucapan Viona tadi. Namun, entah kenapa ada sesuatu yang lain dalam benakku ini. Seolah otakku dimasuki oleh sesuatu yang lain, dan ada bisikan jahat di telingaku.

“Baiklah, Vio. Akan aku coba,” sahutku.

***



Suasana pagi di kampus memang masih sejuk. Aku sengaja datang pagi-pagi dan diam di pintu masuk kampus supaya aku bisa mencegat Yudha dan menanyainya. Aku hanya ingin meminta penjelasan saja alasan dia putus. Setelah itu aku tak akan mengganggunya lagi.

Mobil sedan putih memasuki halaman kampus. Itu adalah mobil milik Yudha yang biasa dia pakai jika ke kampus. Aku pun langsung mengetuk-etuk kaca mobil.

Jendela mobil pun dibuka. Tampak di situ Yudha dan ada gadis lain di sebelahnya. Keduanya tampak dekat sekali.

"Mau apa kamu, Cindy?" tanya Yudha dengan tampang sinis. Dia membuka pintu mobil lalu mendekatiku. "Ada masalah?"

Belum sempat aku menjawab, gadis yang tadi duduk di sebelah Yudha tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Dia mendekap tangan Yudha dengan lembutnya.

"Siapa dia, Sayang?" tanya gadis itu dengan nada manja.

Sayang? Kalau begitu, gadis itu adalah kekasih Yudha? Mustahil! Bukankah belum lama ini dia memutuskan hubungan denganku, dia kini sudah mendapatkan kekasih lagi? Semudah itukah?

"Dia temanku. Mungkin dia mau tanya tugas dosen," sahut Yudha santai. Dia menatapku dengan sinisnya. "Ada apa, Cindy?"

Mataku melotot menatap Yudha. "Secepat itukah kamu mendapatkan cewek lagi? Setelah kamu mencampakkanku seenaknya sehingga membuat hatiku sakit, kamu bisa dengan santainya jalan dengan cewek lain! Seakan kamu gak punya dosa sama sekali! Gak bisa ya kamu punya hati sedikit?!" bentakku. Entah kenapa emosi ini muncul tiba-tiba.

"Hati, ya," sahut Yudha santai. Tangan satunya memeluk kepala gadis itu dengan lembut. Dia menatap gadis itu sesaat lalu kembali menolehku. "Hatiku sudah lama menjadi miliknya. Apa masalahnya buatmu?"

Gadis itu menatap genit kepada Yudha sambil layangkan senyuman menggoda.

Aku kembali dibuat kaget oleh Yudha. Semudah itukah dia melupakanku dan pindah ke lain hati? Ataukah, selama ini dia sudah menjalin hubungan dengan gadis itu, sehingga dia memutuskanku? Sungguh tega sekali dia.

Aku mengingat kembali ucapan Viona sewaktu dia datang ke kosanku. Yudha adalah lelaki playboy. Awalnya aku tidak meyakini ucapannya sejak aku jadian dengan Yudha. Sialnya, aku sangat bodoh ketika itu. Aku sangat dibutakan oleh cinta, sehingga ucapan Viona tidak aku pedulikan. Kini aku menyesal.

Aku mencoba tenang sambil mengambil napas panjang. "Aku cuma minta penjelasan, Yud. Jadi, alasan kamu mutusin aku adalah wanita itu ya? Kamu lebih milih dia ketimbang aku."

Entah mengapa detak jantungku begitu cepat ketika aku mengatakannya. Memang kuakui, gadis di sebelah Yudha jauh lebih cantik ketimbang aku. Jadi tidak aneh jika Yudha lebih memilihnya. Aku bisa memakluminya. Tapi, aku mau tahu penjelasannya langsung. Aku tak bisa jika tak ada kejelasan yang masuk akal.

Memang salahku juga sudah kena gombalan maut playboy itu, sehingga aku menjadi cinta mati kepadanya. Aku juga menjadi sulit untuk move on. Aku memang tipe gadis yang tak bisa melupakan kenangan. Dan sialnya, kenangan dengan Yudha sangatlah manis. Aku tak menyangka dia bisa setega itu denganku.

"Memilihmu?" sahut Yudha dengan muka yang masih sinis, "sejak awal aku enggak memilihmu. Bahkan aku juga sama sekali enggak mencintaimu. Bagiku, kamu hanya selingan saja. Ya bisa dikatakan hanya lewat. Kayak yang di monopoli itu. Hanya lewat," ucapnya santai.

Bagai kilat di siang bolong, ucapan Yudha sangat mengoyak-oyak hatiku. Emosi yang sejak tadi ditahan ini mulai meluap. Aku mendengus kesal. Ingin sekali aku sobek mulutnya itu.

Entah kenapa ada suatu bisikan di telingaku. Sebuah ide melintas di otakku. Entah apakah ini adalah hal yang gila atau tidak. Aku sudah gelap mata.

***

Suasana malam di taman begitu dingin, hingga menusuk tulang. Meskipun begitu, kini aku tidak lagi kedinginan. Sebaliknya, aku sangat kepanasan. Napasku kembang-kempis. Peluh membasahi tiap jengkal tubuhku. Meskipun begitu, tak ada kelelahan di wajahku. Aku begitu puas.

“Tak disangka aku bisa melakukan hal ini. Mengajak tukang playboy ini ke tempat sepi begini dan langsung menghabisinya,” ucapku penuh kemenangan.

Aku menatap ke dalam tempat sampah, mengecek kembali hasil upayaku. Di situ tampak sesosok lelaki yang tidak lain adalah Yudha. Sebilah pisau menancap indah tepat di jantungnya. Tak hanya itu, mulutnya pun sobek hingga ke telinga. Bisa dipastikan, nyawanya sudah melayang.

“Mantan itu sampah, dan sampah itu mesti dibuang. Jadi, buanglah mantan pada tempatnya, alias tempat sampah,” ucapku menatap sinis, dengan napas kelelahan.

Aku pun langsung meninggalkan tempat sepi itu dengan penuh kepuasan, tanpa ada penyesalan dan kesedihan. Yang ada hanyalah tawa iblis yang mengikutiku.


-tamat-



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER