-->

Panic At The Toilet



Tulisan ini sebetulnya sudah lama saya bikin, yakni sejak tahun 2015 silam. Filenya pun mengendap lama dan mungkin sudah banyak debu. Kini, kisah ini saya munculkan kembali setelah sekian lama.


Awalnya, judulnya hanya 'Toilet' saja. Namun, kemudian saya ubah menjadi 'Panic At The Toilet', yang tak lain adalah plesetan salah satu band. Oke, selamat membaca dan komen saja seikhlasnya.




==========

Bunyi pengumuman bahwa mall tak lama lagi akan ditutup selalu menggema. Pengunjung yang sedang belanja pun mau tak mau mesti menyudahi aktivitas shopping-nya, atau melanjutkannya besok. Toko-toko dan kios-kios pun mulai menutup. Hanya dalam waktu setengah jam saja setelah pengumuman, pengunjung mall mulai lengang.


“Vin, lu udah belum belanjanya?” tanya Sofie sambil menenteng tas belanjaan yang lumayan banyak.


“Udah cukup kayaknya, Sof. Lihat, belanjaan gue udah banyak gini. Lagian juga, mall-nya udah mau tutup,” sahut Vina. Gadis itu juga membawa belanjaan yang tak kalah banyak dengan kawannya.


“Iya juga, Vin. Gue sampai gak ngeh kalau mall ini mau tutup. Habisnya, keasyikan shopping,” sahut Sofie cengengesan.


Tawa kedua gadis itu pun meledak sehingga membuat pasang mata di mall menatap keduanya. Ada yang menatap aneh, ada pula yang hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun, dua gadis itu tampak tak peduli. Vina dan Sofie melangkah santai menuju basement mall.


Gedebuk!


“Aduh!” pekik Sofie akibat hilang keseimbangan dan jatuh. Dia langsung mengusap-usap pantatnya yang sakit.


Tampaknya, lantai menuju basement sedang dipel. Sofie tak mengetahuinya akibat sibuk cengengesan dengan Vina, sehingga tidak melihat lantai basah. Untung saja Vina tidak ikut jatuh.


Sofie langsung bangun dan mendengus kesal kepada OB yang sedang mengepel itu. “Hei, Dungu! Kalau ngepel tuh lihat-lihat, dong! Gue jadi kepleset, nih!” bentaknya.


“Maaf, Mbak. Kan saya sudah pasang papan 'lantai basah' di situ,” sahut OB itu ketakutan sambil menunduk.


“Halah, alesan saja, lu! Gue aduin ke bos lu supaya lu dipecat!” ancam Sofie dengan mata melotot.


Suasana seolah menjadi hening. Sang OB hanya diam saja tak menjawab. Tatapannya masih menatap ke bawah.


“Udahlah, Sof. Lu gak usah ladenin yang kayak ginian. Buang-buang waktu dan tenaga aja lu,” sahut Vina santai. Dia menggapai pundak temannya supaya menjauhi tempat itu.


Sofie masih mendengus dan menatap OB itu dengan tajam. Dia masih ingin memaki OB itu lagi. Namun, dia lebih memilih untuk mengikuti ucapan temannya. Mau tak mau, Sofie pun melanjutkan langkahnya menuju basement dengan Vina. Tak henti-hentinya dia memaki OB itu dalam hati hingga tiba di mobil.


Basement mall tampak sudah sepi. Hanya satu dua mobil yang masih ada di situ. Vina dan Sofie langsung menyimpan belanjaan di bangku penumpang belakang.


“Eh, Vin. Gue ke toilet dulu ya. Kebelet, nih. Mau pipis,” ucap Sofie.


“Yah, payah lu. Cepetan sana. Jangan lama-lama,” sahut Vina sambil duduk di bangku kemudi dan menyalakan mesin mobil.


“Jagain belanjaan dan tas gue,” pesan Sofie.


“Tenang aja. Cepetan sana!”


Tanpa basa-basi lagi, Sofie langsung melesat menuju toilet yang ada di samping basement. Dia masuk ke toilet wanita. Ada tiga buah bilik yang masing-masing dipisah oleh sekat tembok. Ada juga dua wastafel di dekat bilik. Tak ada siapapun di situ. Dia memakluminya, sebab mall sudah mau tutup. Sofie pun langsung masuk ke bilik yang paling pojok.


***



Selesai buang hajat, betapa kagetnya Sofie sebab pintu biliknya tak bisa dibuka. Usaha dia untuk membuka pintu pun tak membuahkan hasil. Dia mencium gelagat aneh. Padahal, dia cuma mengunci pintu itu di dalam. Lantas, kenapa kini tak bisa dibuka?


“Vin, lu isengin gue ya? Ayolah! Bukain pintunya, dong! Jangan canda melulu, deh! Gak lucu, tau!” lantang Sofie di dalam bilik sempit itu. Namun, tak ada sahutan siapapun. Toilet itu seolah hening.


Sofie diam sejenak untuk mengambil napas. Telinganya dia pasang baik-baik. Sebab, siapa tahu ada yang masuk ke dalam toilet. Sehingga, dia bisa meminta bantuan kepadanya.


Namun, tampaknya dia mesti memendam asanya itu akibat tak ada siapapun setelah ditunggu setengah jam lamanya. Jangankan yang lain, temannya saja tidak mencoba menyusulnya ke toilet. Padahal sudah agak lama. Dan itu tentunya hal yang aneh jika lama-lama di dalam toilet.


“Siapa saja tolongin gue!” lantangnya lagi sambil mengetuk-etuk pintu dengan kencang. Namun tetap saja, tak ada sahutan.


Sofie semakin panik. Detak jantungnya mulai kencang. Ditambah, napasnya mulai pengap akibat AC-nya sudah dimatikan. Peluhnya mulai muncul di wajah dan tubuh sintalnya. Dia memegangi kepalanya yang tidak pusing. Ingin sekali dia menelepon Vina untuk dimintai tolong. Namun, ponselnya ditinggal di dalam mobilnya.


Dia menatap ke atas. Ada celah di sisi tembok bilik yang menghubungkan dengan bilik sebelahnya. Dengan tubuhnya yang kecil dan sintal, dia tentu bisa melewati celah itu. “Mungkin gue bisa melewati celah itu,” gumamnya.


Dia naik ke atas kloset duduk. Kedua tangannya menggapai puncak tembok yang fungsinya sebagai sekat pembatas bilik di sebelahnya. Kemudian, kakinya juga mencoba menjangkau puncak tembok itu sebagai pijakan.


Namun, akibat memakai sepatu high heels, dia hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai bilik. Kepalanya menghantam kloset dengan kencang. Tak ayal lagi, dia langsung pusing dan kesakitan. Dia menggelinjang ke sana ke sini bagai cacing kepanasan sambil memegangi kepalanya.


“AAAHH!!!” pekiknya kesakitan.


Detak jantungnya semakin cepat. Dia mulai sesak napas akibat suasana yang pengap dan sakit di kepala yang amat sangat. Muncul luka di dahi dan betis kakinya akibat jatuh tadi.


Tuk ... tuk ... tuk ....


Belum sempat hilang sakit di kepalanya, telinga Sofie menangkap bunyi langkah kaki yang mendekatinya. Dia diam sesaat untuk memastikan langkah kaki itu.


Tuk ... tuk ... tuk ....


Bunyi langkah itu semakin mendekat dan kini tepat di balik pintu bilik. Dengan sigap, Sofie langsung mengetuk-etuk pintu bilik. “Vin, lu di situ, kan? Bukain pintunya, dong! Kepala gue sakit banget nih!” pekiknya.


Sosok di balik pintu itu tak menyahut.


“Vina? Siapapun di situ, tolong bukain pintunya! Please!” pinta Sofie dengan napas kembang kempis.


Meskipun begitu, sosok di balik pintu itu tetap tak menyahut.


Sofie menjadi gelisah. Dia mencoba mengintip siapa sosok itu melalui celah di bawah pintu. Dia hanya bisa melihat sepatu yang dikenakan sosok itu. Itu bukan Vina, sebab sepatu yang dikenakan itu sepatu kulit, dan pemakainya adalah laki-laki.


“Mas, tolong bukain pintu WC ini,” pinta Sofie dengan nada memohon.


Namun, lagi-lagi sosok itu tetap tak menyahut.


Sofie menjadi kesal. Dia mendongak ke celah di atas pintu. Dia ingin melihat sosok itu lebih jelas. Dia pun kembali naik ke atas kloset duduk. Kali ini, dia melepas sepatu high heels-nya. Dia tak ingin jatuh untuk yang kedua kalinya.


Belum sempat mengintip melalui celah atas pintu, dia kaget bukan main. Di situ muncul kepala wanita dengan wajah membelalak. Kepala itu jatuh ke lantai bilik lalu menggelinding ke pojok.


“AAAHHH!!!” pekik Sofie tiba-tiba.


Gadis itu menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Dia sempat melihat jika kepala itu adalah kepala Vina. Dan dia menjadi ketakutan.


Suasana menjadi hening sejenak. Sofie membuka wajahnya yang ditutupi oleh telapak tangannya itu dengan pelan. Dia lalu mengintip ke bawah kloset untuk memastikan apa yang jatuh tadi bukan kepala Vina. Semoga dia salah lihat tadi. Dengan agak takut-takut, dia melihat seonggok benda di pojokan.


Bola matanya membulat tatkala menatap benda itu dengan jelas, yang memang kepala Vina itu. Mata kepala itu melotot bagaikan melihat setan dan dengan mulut menganga. Dia pun memekik sejadi-jadinya.


“VINAAA!!!” pekiknya.


Tangisannya pecah. Dia tidak tega menyaksikan pemandangan pilu itu lama-lama. Napasnya menjadi tak menentu. Sofie tak menyangka kalau temannya itu sudah tewas dengan kepala buntung. Dia pun mual akibat bau amis yang memekat penciumannya.


Kaki Sofie kini kembali menyentuh lantai bilik. Dia tak tahu mesti melakukan apa. Dia menduga kalau semua ini dilakukan oleh lelaki yang ada di balik pintu.


“Hei! Apa salah Vina sehingga lu tega membunuhnya? Apa lu juga mau membunuh gue?” pekiknya dengan wajah menatap pintu.


Sialnya, bukan jawaban yang didapat, melainkan kejutan lain.


Claaak!!!


Sebuah golok menebas mata kaki Sofie melalui celah di bawah pintu. Gadis itu memekik kencang kemudian jatuh lemas.


“AAAHHH!!!”


Kaki Sofie mengalami sakit yang amat sangat. Lukanya menganga. Lelehan hangat dan bau amis mulai membasahi kedua kakinya. Dia mengalami kesulitan untuk bangkit kembali.


“Hei! Apa mau lu?!” bentak Sofie dengan mata sembab menahan sakit. Namun, untuk kesekian kalinya sosok itu tak menyahut. Jelas, ini membuat Sofie kebingungan.


Degup jantung Sofie semakin kencang. Peluh dingin tak henti-hentinya menetes di wajahnya. Dengan agak takut-takut, dia mencoba mengintip melalui celah bawah pintu. Dia menduga kalau sosok tadi sudah menjauh. Mungkin keadaan sudah aman.


Cleb!!!


Tiba-tiba, mata Sofie yang mengintip itu ditusuk oleh semacam tongkat besi melalui celah itu, tembus hingga mengenai otaknya. Tak ayal lagi, gadis itu pun langsung tewas seketika.


Sosok di balik pintu itu lalu membuka pintu bilik. Dia yang tak lain adalah OB yang tadi mengepel ini menatap sinis mayat Sofie. Besi yang menancap di mata Sofie dicabutnya dengan paksa.


“Mau memecat saya? Jangan melawak,” ucapnya sinis. Dia pun langsung meninggalkan toilet itu, lalu menghilang di balik kegelapan basement.



-tamat-






Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1


Advertisement

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER