-->

Nostalgia Kota Mati


Ide tulisan ini saya dapat ketika sedang melangkah pulang melewati jalanan yang cukup lengang akibat sudah malam. Ide itu melintas begitu saja dengan cepat. Hingga kemudian, begitu tiba di kediaman, saya langsung menuangkannya ke dalam sebuah kisah.

Oke selamat membaca tulisan dadakan ini dan silakan komen pedasnya.



==========

Sudah 20 tahun lamanya aku tidak menginjakkan kaki di kota ini. Sebuah kota yang indah, tempat awal mula aku membuka mata dan melihat dunia. Tangisanku yang pecah saat itu, seolah disambut suka cita oleh seisi kota. Sebab, saat itu sedang ada pesta ulang tahun kota ini yang sudah memasuki usia 3 abad. Begitulah kata ibuku.

Jalanan ini, bangunan-bangunannya, tidak ada yang beda ketika sebelum aku meninggalkannya. Kenangan-kenangan saat itu, mulai membabi buta memasuki otak kepalaku. Aku bagaikan pasien amnesia yang sembuh tiba-tiba.

Saat aku membelokkan langkah kaki memasuki sebuah jalanan, sebuah kenangan masuk menguasai isi otak. Ya, masih kuingat dengan jelas, di sinilah tempat aku biasa membolos sekolah dengan teman-teman. Masih kuingat dengan jelas jika saat itu aku masih SD kelas 6. Padahal sebulan lagi mau Ujian Nasional. Tapi aku malah membolos demi menonton sepak bola di Piala Dunia di kediaman salah satu teman.

Usai menonton, aku dan teman-teman menutup jalanan yang kini aku masuki, demi main bola. Sangat kuakui, meskipun saat itu masih banyak tanah lapang di kota ini, entah kenapa aku dan teman-teman sangat menikmati main bola di jalanan yang sudah diaspal.

Apalagi jika sedang hujan. Ada sensasinya saat telapak kaki telanjang, menyentuh aspal yang basah akibat hujan. Saat itulah, sepak bola yang sesungguhnya dimulai. Meskipun aku menendang bola dengan cukup kencang, namun tetap saja laju bola melambat, akibat melawan hujan.

Sungguh sangat menyenangkan saat itu, meskipun pada ujungnya, aku tidak dinyatakan lulus oleh sekolah pada saat itu. Entah mengapa aku bisa dinyatakan tidak lulus.

Hal itu tentu saja membuat ayah dan ibuku kecewa. Keduanya tak bisa menahan malu, Sebab anak kesayangannya ini tidak lulus SD. Hingga kemudian, ayah dan ibuku membawaku pindah ke kota lain.

Kini, sudah 20 tahun lamanya aku tidak lagi menginjakkan kaki kota ini. Sebab, di sini tidak ada sanak famili lagi. Apalagi, kota ini sudah beda pulau dengan kota yang saat ini kutinggali. Sehingga tidak ada alasan untuk mengunjungi kota ini.

Dan kini, ketika aku mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota ini, tak bisa kusia-siakan. Ada kawan yang mengajakku main ke kota ini dengan menggunakan mobil miliknya. Begitu tiba, aku pisah dengannya di depan stasiun. Sebab, dia hendak menuju ke lokasi lain yang masih jauh.

Aku sengaja memilih tiba di depan stasiun, sebab aku ingin nostalgia dulu. Aku ingin menikmati kenangan-kenangan di kota ini dengan jalan kaki. Jika menggunakan mobil, sensasinya sangat beda.

Begitu kembali menginjakkan kaki lagi di kota ini, ada kekuatan gaib yang seolah memasuki otakku. Inilah yang paling kutunggu-tunggu. Ada kebahagiaan yang sulit dilukiskan ketika aku mengunjungi lagi kota di mana aku tumbuh menjadi anak yang bandel, setelah 20 tahun lamanya.

Lantas, bagaimanakah nasib teman-temanku saat SD? Niko, Sulaiman, Tono, Agung, ah tak bisa kusebutkan satu-satu namanya. Tampaknya aku mesti mengunjungi salah satunya dulu. Setelah itu, aku akan menyewa hotel untuk menginap.

Namun aku agak bimbang, sebab ketika tiba di sini, sudah memasuki malam. Sialnya, tak ada angkutan umum maupun angkutan online yang bisa digunakan. Bahkan di jalanan ini tak ada satu pun mobil atau manusia yang lewat. Kota ini sangat sunyi, bagaikan kota mati.

Bahkan tak ada aktivitas apapun di stasiun. Padahal, tempat itu mandi cahaya, dan kadang ada petugas stasiun yang lewat. Namun, bisa kusimpulkan jika stasiun ini sepi. Padahal, info yang kudapat, stasiun ini cukup sibuk melayani angkutan.

Jalanan yang kini kutapaki ini tampak lengang. Tampaknya sudah banyak bangunan tingkat di sini. Padahal 20 tahun lalu, jalanan ini masih sedikit bangunan. Bahkan saking banyaknya bangunan, bunyi langkah kakiku bisa menggema.

Sial, ke manakah penghuni kota ini? Padahal ini masih jam 9 malam. Tapi sudah tidak ada lagi lalu lalang manusia di jalanan ini.

Masih bisa kuingat, kediaman Agung, salah satu teman SD-ku, ada di ujung jalan ini. Tepat setelah tikungan, maka akan ada bangunan tua yang masih kokoh. Di situlah Agung tinggal. Dan di situ pula aku dan teman lainnya biasa membolos demi menonton sepak bola. Kadang, menonton film-film yang tayang di jam sekolah. Tapi aku menjadi bimbang, apakah Agung masih tinggal di situ, atau tidak.

Angin malam mengembus sangat kencang. Lengangnya jalanan semakin membuatku kedinginan. Sial! Aku semakin membayangkan jika kota ini menjadi mati. Sebab, tak ada manusia satu pun di sini.

Tapi, tampaknya khayalan itu mesti kubuang jauh-jauh. Sebab, masih bisa kutemukan cahaya di jendela-jendela bangunan. Itu tandanya, masih ada kehidupan di sini.





Aku menghentikan langkah sejenak. Mataku melihat ke jendela di lantai dua sebuah bangunan. Bisa kulihat jika di situ ada sesosok wanita yang menatapku di balik jendela. Meskipun agak gelap sebab posisinya membelakangi cahaya, tapi masih bisa kulihat mimik wajahnya yang tampak kesal. Apakah dia sedang ada masalah? Aku tak tahu pasti.

Hanya hitungan detik saja, wanita itu langsung menelepon. Ah, tampaknya dia memang sedang ada masalah. Sehingga, aku mesti mengabaikannya.

Aku melanjutkan langkah menuju kediaman Agung. Ah, andai saja aku bisa menghubungi anak itu. Tapi sayangnya, sejak aku pindah, aku putus kontak dengan semua teman-temanku. Hingga kini, aku tidak tahu sama sekali nasibnya. Apakah ada yang masih menetap di kota ini, ataukah sudah pindah.

Jika pun sudah pindah, aku mesti menemui siapa lagi? Lalu, apakah dia masih bisa mengenaliku, temannya yang sama-sama bandel ketika SD?

Tak lama lagi aku akan tiba di kediaman Agung. Tampaknya kakiku mulai menegang, akibat lelah. Aku bisa membayangkan, jalan kaki sejak mulai di stasiun hingga tiba di sini, akan sangat melelahkan. Dan yang sangat membingungkan, jalanan kota ini sangat lengang dan sepi.

Sayup-sayup, telingaku menangkap bunyi sebuah ambulans. Ya, tidak salah lagi, itu memang ambulans. Aku bisa melihatnya di kejauhan, kedipan lampu khas ambulans.

Aku semakin dibuat bingung, ketika ambulans itu sudah ada di depanku. Kemudian, muncul 2 petugas dengan mengenakan pakaian putih yang menutupi tiap jengkal tubuhnya, layaknya di film-film tema sains fiksi.

"Ngapain kamu di sini?!" tanya salah satu petugas itu. Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya, sebab semuanya ditutupi.

"Saya cuma mau ke tempat teman saya, Pak," jawabku agak ketakutan.

"Apa? Kamu tidak tahu ya?! Tinggal di mana kamu?!" bentaknya.

"Saya tinggal di kota lain, tapi dulu sempat tinggal di sini," jawabku.

"Wah, kamu pendatang ya? Kamu gak tahu kalau kota ini sedang lockdown?! Untung saja ada yang menelepon kami. Ayo, ikut kami! Kamu mesti diswab dan menjalani isolasi dulu!" sahut petugas itu sambil menggenggam tanganku kencang.

"Loh, Pak. Saya mau dibawa ke mana?" tanyaku yang tak sempat dijawab oleh petugas. Sebab, aku dipaksa masuk ke dalam ambulans, dan dibawa entah ke mana.


-tamat-



Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1


Advertisement

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER