-->

Spooky House


Tulisan ini saya buat saat Halloween, di tahun 2014. Cukup lama memang, sebab tulisan ini sengaja saya simpan untuk dimuat di kumpulan naskah yang akan dibukukan. Sama dengan tulisan-tulisan lain yang ada di blog ini.

Awalnya ini hanya tulisan pendek. Namun, saya panjangkan supaya bisa memenuhi ketentuan publishing. Tapi tampaknya, impian itu mesti pupus. Bukan ditolak sih. Jangan tanya kenapa ya, hahaha.

Oke tidak usah lama-lama, silakan dibaca saja, dan jangan lupa tinggalkan komen pedasnya.



==========

Dalam menyambut datangnya Halloween, alun-alun kota disulap menjadi sebuah festival. Lain halnya dengan festival-festival pada umumnya yang dihiasi dengan cahaya-cahaya lampu yang indah, stand-stand dan wahana di festival Halloween ini agak minim cahaya lampu, bahkan ada yang gelap dan hanya menggunakan cahaya lilin. Hal itu sengaja dilakukan untuk menciptakan suasana mencekam, sesuai dengan temanya, Halloween.

Meskipun begitu, antusias penduduk untuk mengunjungi festival itu malah meninggi. Stand-stand yang dibalut nuansa Halloween dan mistis itu tak ada satu pun yang kosong, semuanya penuh sesak. Aneka macam patung dan boneka hantu ada semua. Ada yang hanya datang untuk melihat-lihat, belanja, hingga menjajal wahana-wahana yang disediakan.

Lena dan ketiga temannya, yakni Acha, Meyla, dan Ana sangat antusias mengunjungi festival yang hanya diadakan setahun sekali itu. Keempatnya memang langganan mengunjungi festival itu tiap tahun.

“Selamat datang di Festival Halloween!” ucap Meyla mengangkat kedua tangannya ketika dia dan temannya tiba di pintu masuk festival. Gadis yang mengenakan kacamata itu tampak sangat senang sekali, bagaikan menemukan oase di tengah padang tandus.

Dinginnya malam seakan tak mampu mematikan suasana saat itu. Bahkan suasananya begitu panas ketika ada di tengah-tengah festival. Banyaknya pengunjung yang memadati stand-stand membuat Lena dan teman-temannya kesulitan untuk masuk.

“Aduh!” pekik Ana mengeluh saat laki-laki dengan tubuh gempal menyenggol pundaknya hingga jatuh. Bola matanya melotot menatap lelaki itu, “Kalau jalan hati-hati, dong! Udah tau jalanan sempit dan sesak gini, badan segede gitu masih saja dibawa jalan di tempat kayak gini, Gendut!” maki Ana sambil bangkit menepuk-nepuk celananya yang kena sedikit tanah.

Lelaki gemuk itu diam saja dibentak oleh Ana. Matanya hanya menatap tiap jengkal tubuh Ana dengan dinginnya.

Tanpa mempedulikan pasang-pasang mata yang menatapnya, Ana langsung menyusul teman-temannya yang sudah sepuluh langkah di depannya. Tampaknya teman-temannya itu tidak melihat apa yang dialami oleh Ana akibat padatnya jalanan.

“Eh, tadi kamu ke mana, Ana? Muka kamu kok gitu amat?” tanya Lena ketika Ana sudah mendekat.

“Habis kesenggol sumo, Len! Lalu jatuh, deh!” jawab Ana kesal dengan wajah ditekuk yang disambut dengan tawa teman-temannya. Ketiganya sudah paham dengan sifat Ana yang suka emosi. Bahkan, dia juga biasa mengamuk tanpa sebab yang jelas. Jadi, hal itu sudah biasa bagi teman-temannya.

“Kita coba ke sana dulu, yuk!” ajak Lena menuding ke sebuah wahana di pojok alun-alun. Gadis tomboy itu sejak awal sangat ingin mencoba wahana itu.

Wahana itu adalah salah satu wahana petualangan dunia hantu yang disediakan di festival ini. Namanya “Spooky House”. Beda dengan yang lainnya, wahana itu tampak sepi pengunjung. Bahkan bisa dikatakan sama sekali tidak ada pengunjungnya.

Acha, Ana, dan Meyla saling menatap. Ada kebimbangan untuk mengikuti ajakan Lena. Ketiganya saling sikut untuk dimintai pendapatnya.

Melihat gelagat aneh ketiga temannya, Lena hanya menggeleng-geleng. “Hei, ayolah. Kalau kalian takut, ngapain juga datang ke festival yang temanya didominasi oleh hantu begini?” ucapnya agak keki.

Acha, Meyla, dan Ana pun kembali saling pandang. Semuanya saling meminta pedapat. Kemudian, ketiganya pun mengangguk.

“Oke, Len. Kita ngikut aja,” ucap Acha.

Dengan kompak, ketiga gadis itu melangkah menuju tempat yang ditunjuk Lena. Sedangkan Lena sudah lebih dulu melangkah menuju wahana itu dan sudah ada di depan pintu masuk.

Gelap dan mistis, begitulah kesannya ketika sampai di depan lokasi “Spooky House”. Hawa dingin seketika menyapa, membuat bulu kuduk menggigil.

Sesuai dengan namanya, semuanya tampak mencekam dan menakutkan. Di dekat pintu masuknya saja ada tulang kepala manusia di kedua sisinya, lukisan mistis, dan patung zombie. Ada juga patung-patung hantu khas Indonesia, yakni kuntilanak, pocong, dan tuyul yang ikut menghiasi pintu depan wahana. Semuanya tampak bagaikan aslinya. Mungkin, hal inilah yang membuat wahana itu sepi pengunjung.

Meyla selalu menelan ludahnya ketika menatap benda-benda aneh itu. Ada ketakutan dalam hatinya. Nyali Acha dan Ana juga seketika menciut. Dua gadis itu saling pandang, lalu mengulum senyum kecut.

“Yakin mau masuk?” tanya Meyla menautkan alis sambil membetulkan posisi kacamata minusnya. Dia ingin memastikan kembali pendapat teman-temannya.

“Enggak banget deh, Mey,” tolak Ana menambahkan.

“Hei! Ini hanya game! Ayolah, tidak ada yang mesti ditakuti,” timpal Lena meyakinkan teman-temannya. Dibandingkan teman-temannya, hanya dialah yang tidak takut.

“Oke,” sahut Acha, “kita masuk,” ajaknya sambil menghela napas panjang, mencoba membuang ketakutannya.

Yang lain pun menyetujuinya juga meski masih agak setengah-setengah. Lagipula, tidak ada salahnya mencoba wahana ini. Tidak akan lengkap jika datang ke festival Halloween tapi tidak menjajal wahana satu ini. Tentu ini akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan.

Empat gadis itu lalu melangkah menuju loket yang letaknya di samping pintu masuk.

“Empat tiket, Bang,” kata Ana menatap si penjual tiket di dalam loket. Namun kemudian, bola matanya membulat ketika melihat wajah si penjual tiket, “Kamu kan sumo yang menyenggolku tadi! Wah sialan nih, Gendut!” bentaknya.

“Kenapa sih, Na?” tanya Lena sambil menyipitkan matanya menatap Ana dan si penjual tiket.

“Nih, dia ini yang tadi nyenggol aku sampai jatuh!” tuding Ana ke lelaki gendut yang duduk di dalam loket itu.

“Masa sih, Na?” tanya Meyla memastikan. Gadis itu membetulkan posisi kacamata minusnya supaya bisa melihat dengan jelas.

“Wah, jangan gitu dong sama cewek,” ucap Acha membela Ana.

“Tahu, nih. Badan doang yang gede,” timpal Lena dengan tatapan sinis.

Lelaki gendut itu hanya diam saja. Dia tidak begitu mempedulikan ucapan-ucapan Lena dan teman-temannya. Baginya, itu hanya angin lewat saja. Dia mendehem sesaat, lalu menyiapkan tiket, “Jadi beli tiket, enggak?”

“Jadi!” jawab Ana cepat.

“Kok jadi sih, Na?” tanya Acha bingung, “bukankah dia yang nyenggol kamu hingga jatuh? Mestinya kita gak usah ke sini. Mending kita cabut aja,” ucapnya. Lena dan Meyla pun mengamini ucapan Acha.

“Gak apa-apa, Cha. Lagian aku mau tahu aja, sehebat apakah wahana pemilik Si Gendut yang tak tahu sopan santun ini,” sahut Ana sinis menatap si penjual tiket. Dia sudah sangat emosi kepada si penjual tiket. Dan dengan meninggalkan tempat ini, bagi Ana sama saja dengan memaafkan si penjual tiket. Itu hal yang paling anti bagi Ana.

“Ya sudah, empat tiket jadi sejuta,” sela si penjual tiket cepat. Dia tampak begitu santai sambil menyiapkan empat buah tiket. Hal itu membuat Lena dan tiga temannya kaget.

“Hah? Mahal banget! Gila! Pantesan aja wahana ini sepi pengunjung!” bentak Acha.

“Jual tiket apa mau malak, Ndut?” bentak Lena juga sambil mendekatkan wajahnya ke kaca pembatas loket.

“Mau beli tiket atau enggak? Kalau enggak mau ya sudah, tidak apa-apa. Silakan tinggalkan tempat ini,” jawab lelaki gendut itu dengan nada santai seolah tidak menanggapi bentakan Acha dan Lena.

Ana menepuk bahu Acha dan Lena, “Ya sudah, tidak apa-apa. Kasih saja. Aku yang tanggung semua tiket kalian, mumpung aku bawa uang banyak. Aku mau tahu saja, apakah wahana ini memiliki pelayanan memuaskan dan layak dikunjungi atau tidak, sesuai dengan mahalnya tiket. Jika tidak memuaskan, kita bisa meminta uangnya kembali. Lagian, aku juga sudah muak lama-lama di depan sumo ini! Nih duitnya!” ucapnya sinis. Tangannya meletakkan sejumlah uang di depan loket. Kemudian, dia pun mendapatkan empat tiket.


***



Lusuh, lembab, dan gelap, itulah suasana yang ada di dalam “Spooky House”. Ada juga bebunyian yang mengusik telinga, yakni tawa cekikikan, tangisan, dan juga lolongan. Hal ini semakin menambah suasana mistis wahana ini.

“Mey, kok enggak ada siapa-siapa di sini, ya?” tanya Acha sambil menggenggam siku Meyla dengan kencang. Ia begitu ketakutan. Bola matanya memandang awas ke sekeliling.

“Ya jelas, dong! Tiketnya mahal gitu! Siapa juga yang mau beli?” jawab Meyla dengan nada yang mulai ketakutan. Dia kembali membetulkan posisi kacamatanya yang jatuh ke hidung.

Tulang belulang tampak menempel di dinding. Tampak juga gundukan-gundukan tanah bagaikan sebuah pemakaman, namun tak ada nisan. Dengan cahaya yang seadanya membuat tempat itu begitu mencekam. Apalagi bau kemenyan mulai menyapa hidung keempat gadis itu.

“Dalemnya gini banget, sih,” keluh Acha ketakutan sambil mendekatkan jaket ke tubuh sintalnya. “Gak ada untungnya masuk sini tuh. Buang-buang duit aja.”

Wusss!

“Aaahhh!” pekik empat gadis itu tatkala melihat sekelebat bayangan melintas.

Gangguan demi gangguan mulai menyapa keempat gadis itu. Dimulai dengan penampakan pocong, kuntilanak, hantu kepala tanpa tubuh, hingga zombie. Tiap kali melangkah, selalu ada saja penampakan hantu. Keempatnya pun memekik sejadi-jadinya.

Ana tampaknya sudah tak sanggup lagi. Dia mulai mual dan menggigil ketakutan. Tiba-tiba, dia langsung hengkang meninggalkan ketiga temannya menuju sebuah tikungan gelap di dekatnya. Melihat hal itu, yang lainnya pun mencegat Ana dan mencoba menyusulnya dengan penuh tanda tanya.


***

“Ana mau ke mana sih, Cha? Dia kok nggak bilang-bilang ke kita? Main minggat begitu saja,” keluh Lena panik ketika dia sangat kelelahan. Tampaknya ketiganya tidak menemukan Ana.

“Mana kutahu, Len. Dia kan enggak pamitan dulu,” sahut Acha yang napasnya mulai kembang kempis.

“Mungkin dia balik lagi ke pintu masuk. Meskipun galak, tapi dia itu sesungguhnya penakut,” jawab Meyla santai.

“Memangnya pintu masuk lewat sini, Mey?” tanya Acha tidak yakin dengan ucapan gadis kacamata itu.

“Itu mungkin saja, Cha. Lebih baik kita lanjutkan saja wahana ini. Nanti aku akan hubungi dia jika sudah menyelesaikan wahana sialan ini,” jawab Lena yang diamini oleh anggukan dua temannya.

“Lalu kita lewat mana?” tanya Meyla sambil menaikkan kacamatanya.

Di depan ketiga gadis itu tampak jalanan cabang. Masing-masing adalah gang yang begitu minim cahaya. Kini tak ada lagi gangguan-gangguan hantu tadi. Namun, ketiganya juga tidak tahu ada kejutan apa yang akan menanti di dalam gang atau setelahnya.

“Kita ambil yang kanan saja,” jawab Lena sambil menyalakan ponselnya demi mendapatkan tambahan cahaya.

Acha dan Meyla hanya mengiyakan saja. Kelompok yang kini tinggal tiga gadis itu mulai melangkah masuk ke dalam gang meski dengan napas kelelahan. Wahana itu kini bagaikan tak ada ujungnya. Lena, Acha, dan Meyla dibuat pusing oleh wahana itu. Semakin jauh melangkah, semakin tidak jelas sampai mana wahana ini akan selesai.


***



Tiga gadis itu kembali melihat sebuah gang. Namun yang ini lebih gelap, panjang, dan sempit. Cahaya hanya tampak di ujung gang. Itu juga hanya sayup-sayup cahayanya.

“Len, udah aja, yuk. Aku semakin takut, nih. Kita balik lagi saja,” ajak Meyla panik. Dia memegang tangan Lena dengan kencang.

Lena hanya diam saja. Gadis tomboy itu menatap ujung gang sana yang ada sayup-sayup cahayanya. Benaknya mulai dipenuhi oleh kebingungan dan ketakutan.

“Tanggung, Mey. Mungkin saja di ujung itu ada pintu exit,” sahut Acha menduga-duga.

“Tapi, bagaimana kalau di dalam gang itu ada jebakannya? Lagipula, wahana ini kayaknya luas banget, sih. Kayak enggak ada ujungnya,” keluh Meyla lagi ketakutan.

Lena melepaskan tangannya yang dipegang Meyla, “Aku duluan saja yang ke sana. Kalian tunggu saja di sini. Lagian gangnya juga sempit dan cuma bisa dilewati satu-satu,” ucapnya lalu mulai memasuki gang gelap itu, tanpa menunggu pendapat Acha dan Meyla dahulu.

Gadis itu mulai melangkah hati-hati memasuki gang yang bentuknya setengah bulat itu. Matanya fokus menatap ke depan. Dindingnya begitu licin. Dia tetap menyalakan ponselnya untuk cahaya bantuan.

“Waaa!!!” pekik Acha yang ada di pintu masuk gang. Dia langsung menyusul Lena yang sesaat lagi sampai di ujung. Bunyi langkah kakinya menggema di sepanjang gang.

“Kamu kenapa, Cha?” tanya Lena yang sudah sampai di ujung.

“A-aku lihat zombie, Len,” jawab Acha dengan napas kembang-kempis. Dia begitu ketakutan.

“Loh? Lalu Meyla ke mana?” tanya Lena sambil celingukan ke dalam gang.

Acha menoleh ke belakangnya. Gadis itu juga sama kagetnya dengan Lena. “Loh? Bukannya dia tadi ada di belakangku?” Acha balik tanya.

“Ah, kamu gimana, sih?” keluh Lena, lalu dia kembali lagi memasuki gang untuk menemukan Meyla.

Lena melangkah cepat di sepanjang gang gelap itu. Sama dengan Acha, bunyi langkahnya menggema. Wajahnya tampak panik. Takut ada apa-apa dengan Meyla. Apalagi nasib Ana juga masih tidak jelas, apakah dia masih ada di wahana hantu ini atau tidak.

Tiba di pintu depan gang, Lena celingukan kepalanya ke sekeliling, “Mey!” panggilnya lantang.

Tak ada sahutan. Wahana dengan cahaya sayup-sayup itu hanya memantulkan panggilan Lena saja. Begitu sunyi dan senyap.

“Cha, Meyla kok bisa enggak ada, sih?” tanya Lena mulai panik.

Namun, yang ditanya tampaknya tidak menjawab. Lena kembali menoleh ke belakangnya, ke ujung gang. Dia kembali panik sebab tidak melihat Acha di sana maupun di dekatnya.

Lena semakin panik. Peluh dingin mulai membasahi wajahnya. Nyalinya menjadi ciut. Teman-temannya hilang tanpa sebab yang jelas. Tak mungkin jika teman-temannya itu sedang menjahili dia. Dia pun memutuskan untuk kembali lagi, ke gang cabang.

Dia sampai di tempat Ana menghilang. Di situ ada tiga buah peti mati yang sebelumnya tidak ada ketika dia masuk. Keanehan mulai membayangi benak gadis itu.

Keingintahuannya yang tinggi itu membuatnya maju mendekati ketiga peti tanpa penutup itu untuk melihat isinya. Degup jantungnya mulai kencang. Dan, ketika melongok isi peti, bola matanya membulat.

Betapa kagetnya dia melihat isi dalam peti itu. Ketiga temannya ada di dalam masing-masing peti dengan pisau menancap di dada. Mata ketiganya melotot semua. Bisa dipastikan kalau nyawa tiga temannya itu sudah melayang.

“AAAHHH!!!” pekik Lena menyaksikan pemandangan pilu itu. Matanya mulai sembab.

Tanpa sepengetahuan Lena, sesosok bayangan mendekatinya. Dia memakai kostum malaikat pencabut nyawa, lengkap dengan tudung dan sayapnya. Di tangannya membawa sabit.

“Bagaimana? Wahana ini cukup mistis bukan?” tanya sosok itu.

“Si-siapa kamu?” pekik Lena ketakutan. Detak jantungnya semakin cepat. Dia melangkah pelan ke belakang, menjauhi sosok itu. Matanya selalu menatap awas ke sabit yang sewaktu-waktu bisa memenggal kepalanya. Namun sialnya, di belakangnya ada dinding.

“Saya ini malaikat pencabut nyawa di sini. Kamu tahu, hantu-hantu di sini yang kamu duga boneka itu sesungguhnya bukan boneka,” ucap sosok itu.

“Apa?”

“Hahaha! Hantu-hantu itu adalah mayat-mayat manusia yang kudandani layaknya hantu. Mayat-mayat itu sebelumnya adalah pengunjung wahana ini. Dengan kata lain, siapapun yang masuk ke sini, tidak akan selamat,” ucap sosok itu lagi sambil menunjukkan sebuah kepala manusia.

“Tidak mungkin!” pekik Lena, “kenapa kamu tega lakukan itu?”

“Semuanya akibat keangkuhan dan keegoisan pengunjung wahana ini!” jawab sosok itu, “pengunjung-pengunjung di sini selalu mengeluhkan kalau wahana ini sangat tidak memuaskan. Hantu-hantunya sangat ketahuan bohongannya. Makanya, saya sengaja membunuh pengunjung di sini supaya bisa dijadikan hantu. Tiketnya pun sengaja dipatok mahal supaya hanya yang sombong dan kaya saja yang bisa saya bunuh. Wahana ini juga sudah di-setting supaya kalian menduga bahwa tempat ini luas. Namun, kalian hanya mengelilingi tempat ini saja. Tempatnya sudah di-setting dan diubah untuk menunjukkan bahwa wahana ini luas.”

“Tidak mungkin!” ucap Lena sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Dia tak bisa membayangkan hal yang dijelaskan oleh sosok itu.

“Kebetulan, kamu dan teman-temanmu membuat saya jengkel. Dengan begitu, ada alasan yang indah buat membunuh kalian semua.”

“Jangan-jangan kamu ...,” kata-kata Lena tak mampu untuk dilanjutkan.

“Kamu akan menyusul teman-temanmu, dan saya jadikan hantu di wahana ini!” ucapnya sambil mengayunkan sabitnya dengan cepat.

Lena tak sempat mengelak. Ayunan sabit langsung memenggal kepalanya hingga putus. Menggelindinglah kepala Lena di atas tanah. Tubuhnya pun langsung tumbang.

Sosok malaikat pencabut nyawa itu membuka topeng dan tudungnya. Wajahnya sudah tak asing lagi. Itu adalah lelaki gendut penjual tiket wahana hantu. Dia layangkan senyum sinis menatap mayat Lena tanpa kepala itu.

“Balas dendam itu memang indah,” senyumnya.



-tamat-



Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1


Advertisement

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER