-->

Viona



Di tanggal ini, 24 Juni 2021, BangCadel.com genap memasuki usia ke 5 tahun. Tidak menyangka BangCadel.com bisa tetap eksis selama itu, di tengah godaan komitmen yang tidak stabil. Meskipun begitu, BangCadel.com tetap ada untuk tempat menumpahkan ide-ide tulisan saya selama ini.

Untuk itu, saya tetap komitmen untuk tetap melanjutkan BangCadel.com, meskipun sama sekali tidak ada penghasilan, hahaha! Dan sebagai edisi spesial, saya membuat sebuah tulisan, di mana nuansa-nuansa khas Bang Cadel disisipkan.

Saya lupa ide tulisannya didapat waktu kapan. Namun yang pasti, tulisan ini butuh waktu cukup lama untuk dipoles, dan dimunculkan tepat di tanggal yang penuh makna ini. Oke selamat membaca dan nantikan lagi update tulisan-tulisan saya selanjutnya.




==========

Viona adalah teman kelasku di SMA. Dia adalah anak pengusaha yang sangat kaya. Setiap datang ke sekolah, dia selalu membawa mobil sedan mewah. Ponselnya bahkan masuk dalam kelas high end. Teman-teman sekolah banyak yang memujanya. Dia pun menyandang julukan sebagai siswi paling kaya di sekolah.

Wajahnya yang cantik, membuat banyak cowok yang mendekatinya untuk menjalin hubungan. Bahkan cowok-cowok di kelas lain pun tak kalah saing untuk mendapatkannya. Namun tampaknya, Viona masih enggan menjalin hubungan spesial dengan satu cowok. Dia lebih memilih untuk dekat dengan semuanya.

Viona memang mempunyai jiwa yang supel. Dia bisa dekat dengan siapa saja, bahkan denganku. Padahal, aku adalah siswi yang sangat pendiam, dan tidak banyak omong di kelas, ataupun di sekolah. Teman-teman sekelas banyak yang enggan dekat denganku.

Aku bingung saja dengan Viona, kenapa dia mau membantuku. Dia membantuku ketika uang sakuku hilang saat di kantin. Dia juga bahkan membolehkan aku menumpang di mobilnya, saat hendak pulang sekolah. Sebab saat itu, aku tak punya uang untuk ongkos pulang naik angkot.

Aku cukup kagum dengannya. Bukan dengan uangnya yang banyak, melainkan dengan mempunyai banyak uang itulah, dia tidak pilih-pilih, dan mau dekat dengan siapa saja, dan aku salah satunya.

Aku bingung juga, kenapa dia mau dekat-dekat denganku, sedangkan teman-teman lainnya menjauhiku. Aku bisa melihat ketulusan di wajahnya. Lain halnya dengan teman-teman lain, di mana jiwa-jiwa benalu bisa dengan mudah kutemukan di sini. Hal itu bisa dengan mudah ditemukan pada wajah-wajah yang menjilat itu. Di depan Viona, semuanya bisa dengan mudahnya menunjukkan sikap manis dan penuh kehangatan. Tapi saat di belakang Viona, wajah benalu sesungguhnya mulai tampak.

Aku tak tahu, apakah Viona tahu jika teman-teman kelas mendekatinya hanya kedok semata, dan ingin menikmati kekayaannya? Ataukah dia memang tidak tahu, sebab dibungkus oleh akting hebat teman-teman benalu. Yang aku tahu, Viona sangat menikmati hal itu.

Tapi, aku juga tidak mau ikut-ikutan dalam hal itu. Aku juga tidak mau buka mulut ke Viona tentang kenyataan yang sesungguhnya. Cukup Viona saja yang nanti akan mengetahuinya langsung, cepat atau lambat. Aku hanya menikmati posisiku sebagai siswi biasa yang menjalani aktivitas sekolah saja.

Meskipun Viona teman sekelas, dan selalu membantuku, tapi aku tidak begitu dekat dengannya. Bahkan, kontak teleponnya saja aku tidak punya. Aku malas saja apabila aku meminta kontaknya, teman-teman yang lain akan menghasutnya, dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentangku. Sehingga, aku cukup menemuinya ketika di sekolah saja.

Tampaknya, masa-masa kejayaan Viona sebagai penyandang siswa paling kaya di sekolah menjadi lenyap. Dalam suatu malam di penghujung tahun, hanya dalam sekejap saja, tempat tinggal Viona dan semua kekayaan milik ayah ibunya binasa dilalap api. Entah apa penyebabnya, namun nyala api begitu hebat, hingga melelehkan apa saja yang disentuhnya.

Info yang kudapat, Viona sempat tidak bisa selamat di dalam nyala api. Puing-puing bangunan yang dilalap api, seolah menjebaknya dan mencegah dia selamat. Untung saja, petugas pemadam datang menolongnya, sehingga nyawanya selamat. Namun, kejadian itu membuat sebagian tubuhnya mengalami luka akibat kena api. Sehingga, dia mesti masuk UGD.

Hanya semalam saja, penyandang siswi paling kaya di sekolah telah diubah.


***

Enam bulan sudah, Viona tidak masuk sekolah, akibat menjalani masa pemulihan pasca kejadian yang memilukan itu. Sampai kini, masih belum diketahui, apa penyebab api bisa menyala dan meluluhlantakkan kediaman Viona saat malam itu.

Anehnya, di kelas ini tidak ada inisiatif untuk menjenguk Viona. Entah kenapa anak-anak kelas tampak enggan untuk menjenguk Viona. Padahal, aku menunggu inisiatif teman-teman untuk menjenguk. Jadi, aku bisa sekalian ikut. Namun, tak ada satupun agenda untuk menjenguk Viona.

Sebetulnya aku ada inisiatif untuk menjenguk. Bahkan tanpa diminta, aku akan melakukannya. Tapi, aku tak tahu di mana Viona menjalani masa pemulihan. Tanya ke teman yang lain pun tak ada yang mau menjawab. Lagipula, aku malas sama teman-teman sekelas di sini, di mana selalu menunjukkan wajah ketidaksukaannya kepadaku. 

Aku masih menebak-nebak, tak mungkin Viona masih tinggal di kediamannya yang sudah hangus akibat dilalap api. Aku bahkan tak tahu bagaimana mengontaknya. Aku hanya bisa memanjatkan doa saja, semoga dia lekas pulih dan masuk sekolah lagi.

Tampaknya doaku dikabulkan. Seminggu kemudian, Viona kembali masuk sekolah. Meskipun dia tampak bisa jalan dengan baik, entah kenapa dia membawa tongkat untuk membantunya jalan. Bisa kulihat jika tangan dan kakinya ada bekas luka. Wajahnya yang dulu cantik dan putih, kini mempunyai bekas luka di bagian dahi dan pipi.

Suasana canggung mulai tampak. Seisi kelas yang dulunya selalu menyambut kedatangan Viona ketika masuk kelas, kini tak ada lagi. Bahkan, tak ada yang menyapanya atau menanyakan keadaannya.

Melihat suasana yang canggung itu, entah kenapa aku langsung mendekati Viona, dan membantunya.

"Viona, aku sangat kangen kamu. Kamu udah sehat?" tanyaku sambil membantunya duduk di bangkunya.

Tak ada yang membantu Viona selain aku. Semuanya tampak asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Seolah, tak ada Viona di situ. Padahal, jika memang ada teman yang sedang sakit, dan sudah mulai pulih, pastinya akan menanyakan keadaannya, atau hanya jumpa kangen. Tapi yang ada di sini, suasananya sangat dingin.

Kulihat, Viona melihat sekeliling. Entah apa yang ada di benaknya. Namun, bisa kulihat jika ada kekecewaan di situ.

"Aku udah mendingan. Masih untung aku gak mati saat itu," sahutnya tampak malas.

"Jangan gitu, kita semua cemas, tahu," sahutku.

Viona menampakkan wajah sinis, "Cemas? Menjenguk pun enggak, cemas apanya?" katanya dengan nada sedikit meninggi, sambil menyiapkan buku.

Jawaban Viona membuatku menelan ludah. Kata-katanya sangat memukulku. Memang tidak salah dengan apa yang dia ucapkan. Ingin sekali aku mengatakan jika aku ingin menjenguknya. Tapi aku tak tahu di mana dia menjalani pemulihan.

Tapi tampaknya, waktunya belum tepat jika aku mengatakan itu. Aku diam saja dan kembali ke bangkuku. Tampaknya, hanya aku yang memahami makna ucapan Viona. Sebab, meskipun Viona mengucapkan kata-kata tadi dengan nada yang sedikit tinggi, teman-teman sekelas tampak biasa saja. Aku tahu, kata-kata yang dia ucapkan ditujukan untuk teman-teman sekelas, bukan hanya aku saja.

Ah, aku tak tahu. Apakah teman-teman sekelas mulai menjauhinya, akibat Viona sudah tidak kaya lagi dan tak punya uang? Apakah teman-teman sekelas hanya mau uangnya saja? Jika memang tepat, maka sungguh tak punya hati.

Kini aku paham, mengapa saat di belakang Viona, teman-teman sekelas menunjukkan benalu yang sesungguhnya. Dan hal itu membuktikannya. Semuanya menjauhi Viona. Padahal, Viona tak ada salah kepada teman-teman. Dia habis kena musibah. Sebagai teman sekelasnya, kita mesti membantunya. Kini, aku menjadi sangat iba sama Viona.

Aku melihat sekilas ke bangku Viona. Dia menatapku sejenak, menunjukkan senyum, kemudian mulutnya tampak mengucapakan sesuatu, namun dengan sangat pelan.

"Makasih," ucapnya.

Aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman saja. Ingin sekali aku mendekati bangkunya kembali, namun bel masuk sekolah sudah melantang, dan muncul sosok wali kelas yang masuk ke dalam kelas.


***


Kudapati Viona sedang duduk di taman sekolah saat jam pulang sekolah tiba. Aku salah satu siswi yang ketika pulang sekolah selalu paling belakangan. Sebab, aku menyibukkan aktivitasku di mushola sekolah, usai jam pulang sekolah. Entah itu mengaji, ataupun sholat sunnah. Sehingga, ketika waktunya aku pulang, suasana sekolah sudah sepi. Kalaupun masih ada anak-anak, itu hanya ketika ada kegiatan OSIS ataupun eskul.

Hal yang beda kutemui kali ini. Teman sekelasku, Viona, masih belum pulang, dan masih ada di sekolah. Tumben sekali dia tidak langsung pulang, dan memilih untuk duduk-duduk di bangku taman sekolah. Tampaknya, wajahnya melukiskan kekecewaan.

"Viona, kamu belum pulang?" sapaku, sambil ikut duduk di sampingnya.

Viona menoleh pelan kepadaku. Tak ada sepatah katapun yang diucapkan oleh mulutnya, ketika mata kami saling adu pandang. Aku agak bingung juga, di benakku, apa apa dengannya.

Viona lalu membuat senyuman kecil, "Kamu juga kenapa belum pulang?" tanyanya balik sambil kembali memandang ke depan.

Aku diam sejenak, lalu membalasnya, "Aku biasanya gak langsung pulang. Aku singgah dulu ke mushola. Soalnya kalau pulang, waktunya gak sempet."

"Oh, begitu. Anak solehah juga kamu," sahutnya.

"Iya, itu sudah kewajib ...."

"Selama ini aku udah salah," sahut Viona yang tiba-tiba memotong ucapanku.

Aku melipat dahi dan cukup aneh dengan kata-katanya. "Salah kenapa, Vio?" tanyaku.

Wajah Viona kini tampak sinis, "Teman-teman di sekolah itu semuanya culas. Semuanya memanfaatkanku, soalnya aku punya uang banyak. Semua mendekatiku, cuma hanya ingin menikmati uangku. Dan ketika uangku sudah habis, semuanya menjauhiku. Kayaknya, semuanya sudah memandangku sebelah mata. Pantas saja, kenapa tidak ada yang mau menengok ketika aku sakit dan menjalani masa pemulihan, kayak kamu contohnya."

Aku agak gelagapan juga dengan ucapan Viona itu. Aku bagaikan ditodong oleh pistol, dan mesti menjawab yang sesungguhnya. Jika tidak, maka aku akan ditembak. Mungkin inilah saatnya aku menjelaskan semuanya.

"Viona ... sebetulnya, aku ingin menjengukmu saat kamu sakit."

"Bohong!" bentaknya.

Aku agak kaget juga dengan ucapannya yang tiba-tiba. Namun, aku mesti tenang dan jangan ikut kebawa emosi.

"Iya Viona, sumpah, aku gak bohong. Aku mau menjenguk kamu. Tapi aku gak tau di mana kamu tinggal setelah kejadian itu. Tempat tinggalmu pasti sudah hangus. Gak mungkin kamu tinggal di situ kan? Dan juga, aku gak punya kontak telepon kamu, makanya aku gak bisa menghubungi. Aku sebetulnya menunggu inisiatif teman-teman sekelas buat ngadain jenguk kamu sama-sama. Tapi sampai kamu datang ke sekolah, hal itu gak ada sama sekali."

Viona agak diam sesaat. Tampaknya dia mencoba menelaah kata-kataku.

"Aku sebetulnya sudah kasih tau keadaanku ke ketua kelas, kalau aku ada di mana saat menjalani masa pemulihan, ya di tempat tinggal om dan tanteku. Aku sama mamah papah tinggal di situ dulu untuk saat ini," jelasnya.

Aku kaget juga dengan kata-kata Viona. Sebab, aku sama sekali tidak tahu kalau Viona sebelumnya sudah kasih tau keadaanya melalui ketua kelas. Namun, info itu tampaknya tidak sampai ke teman-teman lain. Padahal, Viona dan ketua kelas cukup dekat, ketika sebelum kejadian.

"Aku gak tau info itu. Ketua kelas gak ada penyampaian kayak gitu," sahutku agak bingung.

Viona kembali diam sesaat. Tampaknya dia mulai menelaah sesuatu. "Oh iya gak apa-apa. Aku udah paham."

"Paham kenapa, Vio?" tanyaku.

Viona layangkan senyuman manis, "Gak apa-apa. Oh iya, malam ini ada waktu, gak?"

"Kenapa?" tanyaku.

"Aku mau ketemuan. Ada sesuatu yang mau aku omongin. Tempatnya nanti aku kasih tau. Kamu save kontakku ya," jelasnya sambil menunjukkan ponselnya.

Bisa kulihat, ponsel mewah Viona sebelumnya sudah hilang. Kini yang ada di tangan Viona hanyalah ponsel bekas biasa yang tampak kusam. Namun, ponsel itu masih bisa digunakan. Kini tak ada lagi kesan mewah yang melekat pada Viona. Pesonanya kini sudah hilang, dibalut wajah yang penuh dengan kekecewaan dan kesedihan.

Aku tak tahu kenapa Viona mengajakku ketemuan malam ini. Mungkin dia butuh teman untuk mengungkapkan unek-uneknya selama ini. Tampaknya, aku memang mesti menemaninya ketemuan malam ini. Sebab, dia tak ada teman lagi. Setidaknya, aku bisa menjadi temannya. Dan mungkin, satu-satunya teman.


***


Malam pun tiba, Viona mengajakku ke sebuah tempat yang katanya bagus untuk kumpul-kumpul. Namun, aku cukup bingung, sebab tempat yang dia maksud ada di dekat lokasi kediamannya yang dilalap api. Namun, begitu mengikuti petunjuk GPS yang dia kasih, lokasinya memang menunjukkan tempat tinggalnya yang dilalap api.

Meskipun tak ada lampu jalan di sini. Cahaya bulan malam ini cukup membantu penglihatanku akan bangunan yang sudah diluluhlantakkan oleh api ini. Bisa kulihat jika bangunan ini sudah tak mempunyai bentuk lagi, dengan dibalut hitam-hitam hangus. Bangunan dua lantai itu tak ubahnya menjadi bangunan satu lantai. Atapnya jebol, kaca jendela pecah, pintu sudah tak ada. Dinding-dindingnya sebagian masih ada yang utuh, namun ada juga yang sudah lapuk. Aku bisa membayangkan bangunan ini dulunya cukup megah, dengan hiasan-hiasan di dindingnya.

Aku masuk dengan agak hati-hati. Police line tampak masih menghiasi puing-puing bangunan ini. Entahlah, apakah penyebab dilalap api sudah diketahui? Aku belum tahu lagi info itu.

Di benakku masih menyimpan sejuta tanya, kenapa Viona mengajakku ke tempat tinggalnya yang sudah hangus ini? Apakah dia mau nostalgia?

Aku agak aneh juga dengan kompleks di sini. Sebab, bangunan satu dengan lainnya agak jauh. Entahlah, apakah memang kompleks di sini memang didesain begini.

"Viona," panggilku sambil menemukan di mana gadis itu. Aku menggunakan cahaya ponsel untuk lebih membantu penglihatan.

Aku tampak ketakutan dengan suasana di dalam puing-puing bangunan ini. Aku tak bisa membayangkan apa yang Viona alami ketika kejadian.

Sekali lagi, sejuta tanya masih menggelayut di benakku. Apakah aku tidak salah? Apakah Viona memang mengajakku ke sini? Tapi GPS yang dikasih oleh Viona menunjukkan tempat ini. Dan juga, sinyal di sini masih bagus, sehingga tidak mungkin Viona salah kasih GPS.

Aku masuk lebih dalam lagi melewati puing-puing bangunan tempat tinggal Viona yang sudah hangus. Hingga kini tiba di belakang, yang tampaknya bekas sebuah taman belakang. Sebab, cukup luas yang dipenuhi oleh alang-alang. Di sudut halaman, aku melihat cahaya lampu yang agak kelam. Tampaknya itu Viona.

Dan aku begitu kaget melihat apa yang ada di depan mataku ini. Meskipun cahayanya agak kelam, aku bisa melihat Viona ditemani oleh 2 cowok dan 3 cewek yang sedang duduk di tanah. Mulut kelimanya disumpal. Kedua tangan dan kakinya diikat. Dan yang lebih membuatku semakin takut, sebelah mata kelimanya itu hilang, dan menyisakan lubang menganga. Dan bisa kutebak, kelimanya itu tak lain adalah teman-teman kelas.

"A ... apa ini, Viona?" tanyaku yang tak meyakini apa yang kulihat ini.

Viona menoleh kepadaku, sambil menunjukkan senyuman sinis, seolah penuh kemenangan.

"Semuanya memandangku sebelah mata, jadi aku membuat semuanya juga hanya bisa memandang sebelah mata. Aku membujuk lima cecunguk ini, di mana salah satunya adalah ketua kelas dan lainnya adalah cecunguk yang selalu memanfaatkanku di sekolah, untuk datang menemuiku di sini. Dengan iming-iming membantuku menemukan sisa uang dan emas dalam jumlah banyak yang selamat, yang kusembunyikan di dalam tanah di tempat tinggalku ini, lima cecunguk ini datang dengan senang hati. Padahal tadi pagi di sekolah, lima cecunguk ini menganggapku seolah tak ada. Jadi, ketika lima cecunguk ini datang dengan iming-iming palsu, aku memukul kepala lima cecunguk ini dengan tongkatku sampai pingsan, kuikat tangan dan kaki, dan menyumpal mulutnya supaya gak bisa ngebacot. Kemudian, masing-masing sebelah matanya aku colok dengan tongkat ini. Supaya cecunguk-cecunguk ini bisa sepuasnya memandang sebelah mata," jelasnya panjang.

Aku hanya diam saja melihat ucapannya. Tampaknya, dia sudah mengetahui semua sifat benalu teman-teman di sekolah, sesuai dugaanku. Walaupun begitu, satu hal yang membuatku takut, apakah nasibku akan sama dengan kelima anak ini?

"Selain lima cecunguk ini, masih banyak lagi calon 'memandang sebelah mata' lainnya," ucap Viona.



-tamat-



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER