-->

Posesif


Ide tulisan ini saya dapatkan dalam sekejap, ketika sedang kumpul dengan teman-teman. Entah kenapa jokes yang saya ucapkan ke teman, seolah menjadi ide penulisan. 

Butuh waktu seminggu lebih untuk menemukan konsep sebagai pematangan dan pengembangan idenya. Sehingga, diputuskanlah sebuah tulisan flash fiction yang cukup singkat ini, namun dengan ada punch line-nya.

Oke, selamat membaca dan silakan komen pedasnya.




==========

"Seposesif apa kalian sama suami?" tanya Sinta saat dia sedang kumpul dengan dua teman semasa SMA-nya, Sonia dan Susan, di sebuah kafe.

Setiap seminggu sekali, ketiga sahabat itu memang selalu ketemuan. Entah itu untuk belanja, menggosip, ataupun hanya bincang-bincang santai saja di kafe, atau di salah satu kediaman ketiganya.

Sonia, yang sangat bucin dengan suaminya, dengan lantang menjawab spontan, "HP suamiku selalu kupantau 24 jam. Aku sampai instal aplikasi pemantau aktivitas HP lain," jawabnya sambil melahap makanan yang ada di depannya.

"Hah, emang ada aplikasi begituan?" tanya Sinta bingung.

Sonia mengacungkan jempol tangannya ke hadapan Sinta. Dia belum mampu menjawab, sebab mulutnya masih mengunyah makanan. Begitu kunyahannya selesai dan menenggak jus pesanannya, dia kemudian menjawab.

"Memang ada kok. Kamu aja yang gak up to date," jawab Sonia dengan bangga.

Sinta yang sangat kepo ini kemudian mengecek HP-nya. Dia ingin memastikan apakah memang betul ada aplikasi yang disebutkan oleh Sonia. Tapi tampaknya, dia kesulitan menemukan aplikasi yang dimaksud. Maklum, dia masih belum memahami sepenuhnya dunia gadget.

"Memangnya kamu seposesif apa?" Sonia balik tanya kepada Sinta.

Ditanya begitu oleh Sonia, Sinta langsung kembangkan senyuman manis. Matanya menoleh ke kanannya, dia tampak memandang sesosok lelaki di meja pojok kafe.

"Kalau kalian lihat cowok ganteng di pojokan kafe, dia adalah suamiku," sahut Sinta dengan bangganya.

Mata Sonia ikut melihat ke tempat yang ditunjukkan oleh Sinta. Tampak di situ lelaki tampan yang sedang menikmati kopi. Matanya tampak membaca sebuah majalah yang disediakan oleh kafe. Sedangkan HP-nya tampak ada di tepian meja, dan tidak disentuhnya sama sekali.

"Itu suamimu?" tanya Sonia memastikan.

"Iya suamiku. Kalau aku mau ke mana-mana, dia mesti ikut," sahut Sinta. Dia kemudian melakukan siulan kepada suaminya di pojokan kafe. Lelaki itu menoleh ke Sinta, kemudian mengedipkan sebelah matanya dengan senyum mengembang, sebagai tanda menyahut siulannya.

"Oh my God! Kok beda banget ketika aku datang pas nikahan kamu?! Aku gak ngeh kalau yang di pojokan itu suamimu!" sahut Sonia tak meyakini apa yang dilihatnya.

Sinta lepaskan tawa kecil, "Memang banyak sekali yang sudah beda sejak kami menikah."

"Apa suamimu gak apa-apa gitu? Kalau dia ikutin kamu melulu, gimana dia mau menafkahimu?" tanya Sonia kepo.

Sinta kembali lepaskan tawa kecil, "Ini udah zamannya online. Jadi bisa dilakukan di manapun. Di kafe juga bisa. Bahkan dia pun bisa sambil melakukan tugasnya di kafe ini. Jadi aku bisa memantaunya tiap-tiap," sahutnya.

Sonia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja dengan tingkah laku temannya ini, "Pantas saja kamu tanya seposesif apa kami sama suaminya."

"Hahaha! Ya gitulah," sahut Sinta, kemudian matanya menoleh ke Susan yang duduk di samping Sonia, "kalau kamu gimana, San? Sejak tadi kamu diam saja," tanyanya.

Susan yang memang sejak tadi diam melihat tingkah laku kedua temannya, kini mulai ikut menjawab. "Suamiku buta."

Sonia dan Sinta saling memandang.

"Oh iya, suamimu buta akibat kecelakaan mobil ya, San. Maaf aku udah tanya gitu," jawab Sinta. Dia pun menjadi tidak enak hati.

"Dia buta akibat sifat posesifku," sahut Susan memotong kata-kata Sinta.

"Maksudnya, San?" tanya Sonia kepo.

"Faktanya, dia bukan buta akibat kecelakaan. Aku sengaja membuat suamiku buta dengan mencolok matanya, supaya dia tidak bisa melihat wanita lain lagi selain aku," jawab Susan mantap.

"APA?!" Sinta dan Sonia pun kaget.



-tamat-



Iklan Atas Artikel



Iklan Tengah Artikel 1


Advertisement

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DISCLAIMER